
Ia sendiri pun merasa bingung mengapa dirinya begitu bersemangat menghabiskan malam panjang bersama Jang Min malam itu. Dara merasa jika waktu akan terhenti seketika dan melemparkan dirinya ke zaman dia datang atau ke neraka sekaligus.
Dara tidak ingin kehilangan Jang Min dan Liu Sun Ming, walaupun dirinya sadar jika semua itu adalah pinjaman yang diberikan Tuhan yang bermurah hati pada-Nya juga kebaikan Li Phin dan Liang Si.
Ia takut jika jam berdentang tepat pukul dua belas maka semua sihir akan lenyap seketika, seperti yang pernah ditontonnya di salah satu film animasi kesayangannya dan Dara bukanlah seorang Cinderella yang beruntung itu.
"Wah, kamu benar-benar begitu liar!" gelak tawa Jang Min, yang masih merengkuh Dara di dalam bentuk tubuh Li Phin dengan rambut yang masih sebagian menutupi tubuh Jang Min.
Keduanya masih tak memakai sehelai benang menutupi tubuh keduanya hanya rambut Jang Min dan Li Phin bak selimut malam menyelimuti dengan penuh keindahan.
Keduanya bagaikan kedua anak kecil yang masih polos, saling merengkuh bermandikan peluh, tersenyum manis penuh kepuasan kala puncak kenikmatan telah mereka rengkuh bersama.
"Ya, aku terlalu banyak minum milk kuda liar sumbawa!" balas Dara sekenanya saja.
"Apa? Apa itu milk kuda liar sumbawa?" tanya Jang Min bingung.
"Waduh, mati aku! Itu, mah adanya di Indonesia? Ini zaman pra sejarah sebelum Adam Jordan lahir dan McD di mana-mana? Bahkan Rumah Makan Bunda Kanduang pun belum ada!" batin Dara menepuk jidatnya.
"Li Phin … terkadang kamu sangat aneh!" ujar Jang Min menatap ke arah Dara dengan menyelidik.
"Eh, aku … maksudku sejenis kuda liar yang sangat luar biasa dan aku menamainya sumbawa yang artinya perkasa!" balas Dara asal saja, "aku berharap kata, 'Sumbawa', memang artinya itu, aku tidak sempat membuka kamus bahasa Indonesia pada zamanku! Sial!" umpat batin Dara berusaha untuk mencari alasan.
Dara termenung, "Jika aku kembali aku akan lebih sering mengenal bahasa ibuku sendiri daripada bahasa asing," janji batin Dara.
"Kamu terkadang ada-ada saja. Tapi, usulmu boleh juga, nanti jika aku menemukan jenis kuda itu aku akan menamainya demikian. Um, tapi itu bahasa dari suku dan dialek mana?" tanya Jang Min penasaran.
Jang Min membayangkan semua suku di daratan Tiongkok pada masa kerajaan Donglang, dari semua bahasa yang mereka gunakan.
"Matilah, saya!" batin Dara hampir mendapatkan serangan asma melanda jiwa, "Um, apakah Yang Mulia pernah mendengar sebuah kerajaan di tanah Jawa?" tanya Dara. Ia berusaha untuk menghubung-hubungkan sejarah kelahirannya dan zaman saat ia berada sekarang.
Di dalam benak Dara ia berusaha mencari kerajaan Tarumanegara yang agung, Kertarajasa, Majapahit, hingga Sriwijaya.
"Oh, saya pernah mendengarnya tapi tidak pernah ke sana. Apakah kamu tahu tentang kerjaan itu?" tanya Jang Min penasaran.
"Hadeh, aku menggali kuburanku sendiri ternyata. Ya Tuhanku! Mengapa aku memiliki suami yang super duper kepo? Apakah salahku?" batin Dara.
"Aku pun hanya pernah mendengar tapi tak pernah ke sana!" balas Dara.
"Andaikan kita memiliki seseorang yang bisa membawa kita ke sana untuk menjalin persaudaraan," balas Jang Min.
"Wah, aku bisa pulang kampung! Seperti lebaran saja!" batin Dara terdiam.
"Suatu saat nanti, Yang Mulia. Mari kita tidur aku sudah sangat mengantuk," ajak Dara ia tidak ingin memperpanjang keadaan.
"Apakah kamu tidak ingin melanjutkan permainan yang tadi?" goda Jang Min mulia merayap seperti ular sawah di tubuh Li Phin.
"Hahaha, kamu tidak pernah berubah Li Phin. Kamu paling pintar jika disuruh bersilat kata dan menyindir seseorang. Baiklah, mari kita tidur.
"Besok aku akan melihat ke perbatasan Chang An dan meminta kepada seluruh Jenderal dan kepala panglima untuk berdiskusi mengenai segala pertahanan dan keamanan Donglang juga kerajaan di bawah naungan kekaisaran," ujar Jang Min tersenyum.
"Engkau adalah suami terhebat yang pernah kumiliki," puji Dara menatap Jang Min, "mungkin hanya di dalam mimpi indah ini, aku akan menemukan pria tampan, berhati emas!" batin Dara.
"Apa? Memang kamu ingin menikah lagi begitu?" tanya Jang Min sedikit melototkan matanya, ia merasa tidak terima jika Li Phin menjadi milik pria lain.
"Ish, kamu ini. Gitu saja sudah cemburu, siapa juga yang mau menikah lagi? Toh, rasanya pasti gitu-gitu juga," balas Dara.
"Tunggu-tunggu … Memang kamu sudah pernah merasakan yang lain, selain aku?" Jang Min langsung kebakaran jenggot, mengangkat kepalanya menatap wajah Li Phin dengan tampang buasnya.
Wajah tampannya yang lembut seketika mengerikan bagaikan harimau lapar,
"Ya, ampun! Selain posesif kamu juga kacau balau. Aku hanya pernah merasakan pisang, ya ... cuman pisang milik kamu, Suamiku!" tukas Dara berang, "sial, menang aku wanita apaan?!" cecar Dara.
"Tadi kamu mengatakan?" selidik Jang Min.
"Maksudku, jika aku menikah lagi, aku rasa semua pisang rasanya sama. Seperti jika Yang Mulia menikah lagi dengan para selir aku rasa kue Sus-nya juga sama seperti ini!" balas Dara langsung meraih pisang Jang Min dan meletakkannya di sawah sepetak miliknya.
"Apa itu kue Sus?" tanya Jang Min.
"Ya, Dewa! Sebentar lagi aku mati terserang jantung daripada tertebas pedang!" batin Dara, "jika aku menjelaskannya dia pasti memintaku untuk membuat kue itu, aduh mana lagi aku tidak bisa. Aku cuman doyan makan saja!" batin Dara.
"Sejenis kue apem!" balas Dara.
"Oh, begitu! Kosa katamu sangat berbeda terkadang," balas Jang Min.
"Semua ini, karena pengaruh mengantuk dan kelelahan juga kepuasan yang aku rasakan, Yang Mulia. Engkau begitu perkasa membuat diriku terlena ... hingga aku tak lagi bisa berpikir secara logika," balas Dara menyanjung Jang Min setinggi langit.
"Kamu terlalu pintar mengada-ada! Um, ngomong-ngomong soal pisang aku sangat yakin banyak jenis pisang yang berbeda! Rasa dan bentuk ukurannya juga beragam," tukas Jang Min.
Ucapan Jang Min hampir saja membuat Dara ingin mencukur seluruh rambutnya membuatnya ingin menjadi salah satu biksuni.
"Ya, ampun! Jika kita membahas masalah pisang dan apem, bisa-bisa kita akan membuat kue saja! Terus kapan tidurnya?" cecar Dara langsung memiting suaminya seperti kala ia sedang mengalahkan lawan di arena taekwondo.
"Ya, ampun, Istriku! Aku masih seorang suami dan seorang kaisar. Bagaimana jika ada yang tahu?" balas Jang Min terperangah dengan aksi istrinya.
"Tidak akan ada yang tahu, rahasia dapur pribadi! Cukup antara engkau dan aku, Sayang!" balas Dara mendaratkan kecupannya di bibir Jang Min untuk membungkam ribuan pertanyaan lain lagi.
"Li Phin tolonglah, aku berharap kita sudahi saja permainan ini. Aku tidak ingin semalaman ini, kita melakukannya," balas Jang Min tersenyum
"Nah, gitu dong! Mari kita tidur. Ayo, peluk aku!" perintah Dara mengambil alih.