
"Sayang, kamu beneran hamil 'kan? Aku bahagia banget tahu! Tapi, bagaimana kamu akan bertempur? Jika kamu masih hamil muda begitu? Aku takut bayi kita entah kenapa-kenapa," ujar Liu Min, ia sangat khawatir, ia masih meraba dan mencium perut rata istrinya.
"Jangan khawatir! Aku akan baik-baik, saja. Um, sepertinya kita harus mandi dan makan. Sebentar lagi gelap," usul Dara.
"Tapi, Yank. Aku masih pengen …," ujar Liu Min manja.
Padahal baru saja mereka mereguk dan menikmati keindahan surga dunia, tapi hasratnya sudah melambung tinggi.
"Idih, masih ada hari esok," balas Dara, ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang sedikit omes.
"Namanya lagi doyan Yank. Jika ada pria yang nggak doyan bodo amat, Amat aja nggak sebodoh itu juga," balas Liu Min, ia kembali membelai tubuh istrinya berharap jika istrinya mau berbaik hati memberikan apa yang diinginkan Liu Min.
Tangan Liu Min sudah melebihi tangan kera menari-nari di tubuh istrinya, ia tak peduli jika istrinya mencubitnya pelan.
"Ya, Allah! Kamu ini, rada omes eh, bukan Mbahnya omes tahu!" cubit Dara, "sudah mau sore Yank. Kita harus siap-siap untuk menyelamatkan sandera," bisik Dara.
Dara berusaha untuk berpijak di bumi tetapi sentuhan Liu Min membawanya kembali ke planet Namek animasi dragon ball. Dara tak kuasa menolak kemauan Liu Min yang sudah nempel-nempel layaknya perangko.
"Dikit aja Yank! Nggak banyak-banyak kok," rayu Liu min, ia tak ingin kalah untuk adu argumen dengan kekasih hatinya.
Akhirnya keduanya kembali lagi berlayar sebelum mandi dan makan bersama pasangan naga yang sudah membakar ikan.
"Apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Dara pada pasangan naga di depan mereka yang hanya diam saja.
"Eh, Nenek Nona Zhang, apakah kamu tidak makan lagi?" tanya Liu Min bingung, biasanya mereka berdua berebutan makanan.
"Liu Min, aku sudah kembali ke wujudku dan aku tidak seharusnya hidup di zaman ini lagi, jadi aku tak lagi bisa memakan makanan manusia. Kami tidak makan lagi, sekarang kamu bebas makan tanpa harus berebutan lagi denganku," balas Long Mei tersenyum.
Long Mei merasakan kasih sayang Liu min yang masih memperhatikan wujud moksanya. Ia semakin yakin di balik sikap mesumnya ia adakah tetap kaisar Liu Min yang baik.
"Oh, begitu ya? Hm, terus jika ini usai … apakah kami tidak akan pernah bertemu dengan kalian lagi begitu?" tanya Dara, ia merasa sedih.
Liu min menatap kedua naga di depannya, "Benarkah?" timpal Liu Min bingung.
"Jika kita berhasil membunuh musuh dan kutukan sumpah antara aku dan leluhur Dara terlepas, kami akan kembali ke kahyangan. Semoga saja Dewa Agung mengabulkan keinginan kami dan mencabut hukuman-Nya," ujar Qinglong.
Keheningan terjadi hanya deru angin kencang karena suasana mendung. Qinglong dan Long Mei melihat ke luar pondok reot tersebut dengan menjulurkan leher mereka. Keduanya saling pandang, dan diam.
"Ada apa? Apakah hujan akan turun begitu?" tanya Liu Min, ia penasaran dan melihat rasa khawatir di mata amber kekuningan pasangan naga.
"Bukan, suasananya mirip dengan kejadian zaman naga, aku rasa sebentar lagi kita bergerak. Aku sangat yakin sebelum pukul 24.00 mereka sudah menggelar ritual. Untuk sementara aku dan Long Mei tidak menampakkan diri terlebih dulu," ujar Qinglong.
Qinglong memandang semua orang, "Aku tidak ingin, aku dan Long Mei kembali terjebak masuk perangkap dari kelicikan raja iblis neraka," ujar Qinglong.
"Kami akan mengawasi kalian," timpal Long Mei.
"Oh, baiklah. Terserah bagaimana baiknya," ujar Dara dan Liu Min, keduanya makan secepatnya, tidak ingin membuang waktu lagi.
"Liu Min, sepertinya keluargamu sudah berkumpul tidak jauh dari sini. Teleponlah mereka agar kemari," cetus Long Mei, ia merasakan kehadiran orang lain di perbatasan hutan dan gurun dengan mobil butut yang sudah terbatuk-batuk.
"Benarkah! Baiklah!" Liu min langsung menelepon Liu Amei.
Liu Min menjelaskan di mana mereka berada, "Aku akan menanti mereka di luar," ujar Liu Min, ia bangun dari duduknya dan ke luar rumah menanti keluarganya datang.
Pasangan naga dan Dara melihat kepergian Liu Min.
"Amin! Kaukah itu?" teriak Liu Amei, dari kejauhan berlari ke arah Liu Min di belakangnya Ahim Yilmaz, Luo Kang, Liang Bo berlari menghindari badai angin p***ng beliung.
"Iya, Cie! Ayo, cepat!" teriak Liu Min, ia menarik tangan Liu Amei untuk masuk ke dalam gubuk reot di belakang mereka ketiga pria mengikuti dengan berlari tergesa-gesa.
"Oh!" teriak semua orang.
Semua terperanjat kala masuk melihat pasangan naga merah dan hijau yang bertengger di atas tubuh keduanya yang melingkar.
"Hm, bukankah itu Jendral Tan Jia Li, pangeran Liang Si, Pangeran ketiga Gu Shanzheng dan Tabib Luo?" ujar Qinglong.
"Mereka reinkarnasi dari orang-orang masa lalu yang memiliki leluhur itu," balas Long Mei, "sayangnya, mereka tak lagi murni, hanya Tabib Luo dan Liang Si yang masih bereinkarnasi dari anak keturunannya. Yang lain bertukar tempat," ujar Long Mei.
"Oh, benarkah?" tanya Qinglong menjulurkan kepalanya sebesar truk mendekati tubuh masing-masing orang membauinya dengan napasnya yang mengeluarkan angin.
Akibat napas qinglong, rambut mereka tertiup angin berkibar, glek! batin keempat orang yang masih terdiam di sana.
"Hm, Gu Shanzheng (Ahim Yilmaz) hanya ibunya yang bermarga Gu dan Liu Min malah ibunya yang Liu dan ayahnya Gu pantas saja otaknya mesum! Dan Tan Jia Li pun hanya tidak memiliki darah Tan, hm dia menjadi Liu," ujar Qinglong.
"Apakah kalian membawa apa yang aku minta?" tanya Long Mei.
Semua orang kebingungan, "Cie, yang aku katakan kemarin? Apakah ada peninggalan dari keluarga semua orang," ucap Liu Min.
"Oh, kami membawanya," balas Liu Amei.
"Aku mendapatkan ini," balas Liu Amei menyerahkan pedang, busur, dan Boomerang miliknya.
Qinglong dan Long Mei membauinya, "Ini memang milikmu! Menjauhlah kalian sedikit, Dara! Keluarkan pedang naga hijau milikmu!" pinta Qinglong,
Dara meletakkan pedangnya di tumpukan senjata Liu Amei, "Dan apalagi yang kamu dapatkan Gu Shanzheng?" tanya Qinglong pada Ahim Yilmaz.
"Aku hanya mendapatkan ini," ujarnya ia membuka peti berbalut kain hitam di punggungnya sebuah pedang, peralatan perak, seruling emas, perhiasan, dan juga botol obat.
"Letakkanlah di situ," ujar Qinglong.
Ahim meletakkan semua itu di tumpukan senjata, ia mundur berdekatan dengan istrinya, dan Liu Min dengan Dara, masing-masing bergandengan tangan.
"Hm, kamu tidak memiliki apa pun sebagai pusaka yang kamu wariskan kepada anak keturunanmu Raja Liang Si. Walaupun kamu pernah menjadi pendamping Kaisar wanita Li Phin pada zamanmu.
"Hm, karena kau tidak ingin ada kudeta dan perebutan kekuasaan antara putri kandungmu dan putra Liu Min, hatimu sangat mulia, Liang Si. Apa yang kau miliki saat ini, kumpulkanlah di situ," perintah Qinglong.
Liang Bo hanya memegang sebilah samurai yang didapatnya di sisa pertempuran beserta ninja kemarin siang, beserta pisau bedah. Ia pun meletakkannya di tumpukan senjata.
"Ah, tongkat kayu itu, masih berfungsi, saudaraku Luo Zhu … aku rindu padanya," ujar Long Mei mengendus tongkat yang diberikannya pada Luo Zhu ( tabib Luo ketika muda), hanya dari dahan kayu asal.
"Letakkanlah itu, Nak!" ujar Long Mei, mengendus kepala Luo Kang menciumnya sekilas, ia merindukan saudaranya yang baik.
Luo Kang mengikuti instruksi tersebut, meletakkan tongkatnya pada tumpukan senjata dan berdiri berdekatan dengan Liang Si.
"Aku titip ini untuk Li Phin," ujar Long Mei memberikan seruling emasnya di atas tumpukan senjata.
"Mundurkan kalian! Gunakan tenaga dalam kalian untuk menahan api kami berdua, untuk melindungi diri," pesan Qinglong.