Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Seorang Pacar


"Aku hanya penasaran, pria mana yang beruntung itu?" tanya Liu Min menatap ke arah Dara yang masih berdiri memandang lautan yang terbentang luas di depan mereka.


Liu Min merasakan getar cemburu kala Dara menatapnya dengan perasaan yang sukit untuk ditebak, "Aku hanya ingin mengetahui ya, katakanlah bagaimana masa lalu kamu sebelum koma," lanjut Liu Min.


"Um, aku sangat beruntung memilikinya. Aku tidak tahu dengannya … kami telah berpisah oleh keadaan. Sayangnya, aku tidak tahu apakah dia mengingatku atau tidak?" balas Dara menatap Liu Min memutar tubuh sehingga keduanya berhadapan.


"Aku rasa, dia pasti mengingatmu! Siapa yang tidak akan mengingat wajah, senyuman, dan cerewetnya kamu? Hanya pria yang amnesia yang tak bisa mengingatmu!" balas Liu Min.


"Aku lebih senang, jika dia amnesia, daripada ia sadar tapi ia sama sekali tidak mengingatku," balas Dara, menatap Liu Min. 


Jauh di relung hati Dara ia ingin sekali mengatakan kebenaran yang mungkin tidak masuk akal


"Jika aku mengatakan hal itu kepada Liu Min aku sangat yakin dia akan tertawa dan mengatakan jika aku sudah gila," batin Dara.


"Jika aku jadi dia … aku akan selalu mengingatmu Dara. Aku tidak akan melupakanmu," balas Liu Min.


"buktinya kamu tidak mengingatku sama sekali!" batin Dara mendesah, "aku tidak terlalu yakin Liu Min, jika kamu masih mengingatku," sindir Dara.


Namun, Dara tahu orang yang disindirnya pun tak akan pernah tahu,


"Ada apa, Dara?" tanya Liu Min melihat kilatan kesedihan di mata Dara.


"Tidak ada! Aku hanya ingin mengunjungi Joy. Aku ingin tahu apakah putrinya bersama Jimmy memang telah diculik?" ucap Dara.


"Um, kapan kamu akan pergi?" tanya Liu Min menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya, "aku akan ikut! Aku tidak ingjn jika sesuatu menimpamu, Sayang!" lanjut Liu Min. 


Entah mengapa ia merasakan ingin selalu bersama dan dekat dengan Dara, "Apakah kamu yakin? bagaimana dengan luka kamu?" ujar Dara menatap luka di bahu Liu Min.


"Aku rasa sudah mulai membaik. Aku susah bosan harus berbaring terus, aku ingin melihat gadis cantik di luaran sana!" balas Liu Min tanpa menimbang rasa dan perasaan Dara. 


Kilatan cemburu mulai merayap di jiwa Dara ingin rasanya ia mengetuk kepala Liu Min dengan gagang pistolnya agar Liu Min amnesia selamanya.


"Um, mungkin besok aku ingin mengawasi rumah Joy dulu! Aku tidak ingin jika aku ke sana para mafia dan polisi akan segera menangkapku!" balas Dara.


"Ya, sebagai buronan hal ini sangat tidak mudah. Um, aku masih penasaran dengan kekasihmu," balas Liu Min.


"Apa yang ingin kamu ketahui Liu Min?" tanya Dara, merasakan kesedihan, ia tak ingin menguak kisah indah dan perih kala masih bersama Liu Min yang pernah membuat hari-harinya menjadi sesuatu yang sangat luar biasa bahagia.


"Ceritakan saja tentangnya," balas Liu Min, "aku benar-benar penasaran Dara. Dia pastilah pria yang sangat tampan dan sangat langka bisa menaklukkan wanita sepertimu," balas Liu Min.


"Maksud kamu apa, Tuan Liu? Aku bukan wanita begitu? Aku tetaplah seorang wanita sejati yang memiliki kelembutan soal perasaan. Aku rasa semua wanita pastilah sama," ujar Dara tak mengerti kala semua orang mengatakan jika dia adalah wanita yang luar biasa.


"Kamu berbeda dengan kebanyakan wanita lain, Dara!" balas Liu Min, ia tidka ingin menjabarkan segalanya karna ia tahu, itu akan membuat Dara besar kepala atau malah sebaliknya menganggap dirinya malah merayunya.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana, yang aku tahu kami saling mencintai di dalam kehidupan yang berbeda dan aku sangat yakin … apa yang aku ceritakan adalah hal yang sangat tidak masuk akal," balas Dara.


"Mengapa kamu mengatakan begitu? Ceritakan saja kisah cintamu, aku akan mendengarkannya. Jangan khawatir aku tidak akan membully kamu. Jika itu yang kamu khawatirkan," balas Dara.


"Um, kisah cinta yang unik! Apakah kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Liu Min penasaran kala Dara menceritakan kisah cinta yang tanpa logika.


"Aku sedang mencarinya, jika bertemu pun aku tidak yakin, apakah dia mengenalku?" balas Dara.


"Kamu harus yakin akan keabadian cintamu Dara. Siapa tahu kamu akan bertemu dengannya suatu saat nanti, tidak ada yang tahu bukan?" balas Liu Min, "kamu beruntung sekali! Memiliki kisah cinta yang sangat luar biasa," lanjut Liu Min.


"Lalu kamu sendiri bagaimana? Soal kisah cintamu?" tanya Dara penasaran.


"Aku tidak pernah pacaran! Jadi ya, aku tidak tahu." Liu Min menatap ke arah Dara, "aku sendiri tidak tahu, mengapa aku tidak bisa jatuh cinta pada salah satu gadis? Padahal aku sudah berulang kali berusaha untuk mendekati lawan jenisku.


"Tapi aku selalu merasa cinta tak bisa menyentuhku dan ntahlah, aku tidak tahu," balas Liu Min menatap Dara.


"Huek! Muntah aku mendengarnya. Aku tidak yakin kamu tidak pernah jatuh cinta, Tuan Liu" dengus Dara neraca hal yang tidak mungkin, jika Liu Min tidak pernah jatuh cinta pada seorang gadis mana pun.


"Aku bukanlah anak-anak yang bisa kamu tipu dengan nengatakan, 'Jika hujan adalah Tuhan yang sedang nenangis,' aku bukanlah anak-anak," balas Dara mencibir.


"Yee, kamu. Giliran aku kamu tidak pernah percaya sama sekali, giliran kamu, aku harus percaya seratus persen. Nggak adil sama sekali!" cemberut Liu Min mengecup sekilas bibir Dara.


"Liu Min! Kau! Dasar kurang ajar!" Dara terperanjat karena Liu Min berhasil mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya tanpa ia sangka, yang mampu menggetarkan isi hati Dara.


Liu Min telah berlari di sepanjang pantai tetawa bahagia, "Awas kau, Liu Min! Teriak Dara mengejarnya sambil menyumpah serapah.


Bruk!


Dara menubrak tubuh Liu Min yang berdiri dengan tiba-tiba, "Ada apa?" tanya Dara menatap Liu Min.


"Aku merasa ada sesuatu di pantai sebelah sana, di balik rerimbunan semak itu!" bisik Liu Min.


"Ayo, kita periksa!" ajak Dara.


"Ya, ampun nih perempuan!" balas Liu Min terperanjat melihat Dara yang susah melesat berlari di depannya mengendap-endap di semak yang ditunjuk oleh Liu Min.


"Sial! Selalu saja aku tertinggal dibuat Dara!" umpat Liu Min.


Ia pun belari mengejar Dara, mengikuti apa yang dilakukan oleh Dara mengendap di antar semak perdu mengintai di sana.


Mereka melihat sebuah sampan kecil dan beberpa orang turun dari sampan membawa sebuah koper dan beberapa orang sedang menanti di sana dengan senjata lengkap.


"Apakah kamu utusan dari Cicero?" tanya seorang pria.


"Ya, apakah kalian yang akan membeli permen manis ini?" tanya Cicero.


"Ya, periksa mereka!" ujar seorang pria menyuruh anggotanya untuk memeriksa.