
Edwin bergegas kembali ke ruang perawatan Kamila setelah menyelesaikan administrasinya. Karena Kamila terus memaksa pulang dan dokter mengizinkan, dengan terpaksa Edwin menurutinya.
Padahal, dia masih ingin bersama Kamila dan bayinya. Edwin berpikir, jika Kamila pulang ke rumah suaminya nanti, kemungkinan dia tak akan bisa bertemu lagi dengan mereka.
Kamila sedang duduk di tepi ranjang sambil menggendong bayinya. Dia tersenyum dan bercanda dengan putranya.
Sungguh, pemandangan indah itu membuat hati Edwin terenyuh ingin berhambur memeluk keduanya. Tapi apalah daya, Kamila maupun bayinya bukan milik Edwin. Mereka hanya pemberi semangat sesaat bagi Edwin.
Langkah kaki jenjang Edwin berjalan menghampiri. "Semuanya sudah beres. Kita tinggal langsung pulang aja," ucap Edwin kemudian.
Wajah Kamila mendongak menatap Edwin. "Oh, gitu ya, Mas. Jadi, berapa biaya semua tanggunganku selama berada di sini?" pertanyaan Kamila memancing kerutan di dahi Edwin. "A-aku akan bayar setelah punya uang," Edwin semakin memicingkan matanya.
Dengan lekat Edwin menatap Kamila dalam, lalu beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Edwin tak menghiraukan pertanyaan Kamila barusan. Dia memilih bertanya hal lain yang membuat Kamila malah terisak.
"Oh iya, ke mana aku harus mengantarmu pulang? Rumah orang tuamu atau rumah suamimu?" tanya Edwin.
Seketika Kamila terdiam sebelum menjawab. Raut wajahnya berubah murung, "Tidak keduanya," sahutnya cepat.
Edwin terperanjat saat cairan bening keluar dari manik mata indah Kamila. Dia tak mengerti maksud dari jawaban Kamila barusan. "Kenapa kamu menangis?!" tangannya terulur untuk mengusap pipi Kamila yang basah, namun si empunya memalingkan wajah.
Tangan Edwin menggantung di udara, dengan rasa penasaran ingin tahu lebih banyak mendominasi dirinya. Walaupun ragu, namun ia tetap bertanya. "Apa maksud kamu dengan mengatakan tidak keduanya? Lalu, aku harus mengantarkan kalian ke mana?" pertanyaan demi pertanyaan terus ditodongkan Edwin kepada Kamila. "Ceritakan biar aku mengerti!" pintanya kemudian.
Sejenak Kamila terdiam sebelum mulai bercerita. "A-aku ..."
Kamila menceritakan semua tentang dirinya. Walaupun awalnya dia enggan bercerita karena malu, tapi kebaikan Edwin membuatnya nyaman dan ia pun percaya pada pria itu.
Edwin mengusap lembut pundak Kamila sebagai pemberi semangat dan dukungan. "Sabar ya," desisnya.
Dalam hatinya Edwin sungguh mengutuk suami Kamila itu. Bagaimana bisa ada lelaki setega itu kepada istrinya yang sedang hamil besar.
"Aku gak bisa pulang ke rumah orang tuaku dan gak mau pulang ke rumah suamiku!" ucap Kamila parau masih terisak.
Edwin menghela nafas panjang sebelum berkata lagi. "Lalu, kamu mau pulang ke mana bersama bayimu? Dia masih sangat kecil, lho!" lanjutnya kemudian.
Sebelum berkata, Kamila menatap dengan temat wajah Edwin. "Kalau boleh pinjamkan aku uang, Mas!" pintanya.
"Untuk apa?" singkat Edwin bertanya.
"Aku akan menyewa rumah kecil untuk kami tinggali, dan membuka usaha untuk biaya hidup." jawab Kamila.
Edwin menghela nafas pendek, kemudian menatap kembali Kamila. "Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di rumahku!" kata Edwin. "Jangan tersinggung! Aku tidak ada maksud lain, kok! Hanya saja, menurutku sangat berbahaya jika kamu tinggal di luar dengan bayimu tanpa ada yang mendampingi. Kasihan kan bayimu jika kamu tinggal saat masak atau mencuci pakaian." lanjut Edwin lagi.
Kamila menggelengkan kepala. "Tapi Mas, kamu sudah banyak membantuku. Aku sangat malu! Hutangku padamu tak bisa digantikan uang berapapun jumlahnya."
Edwin tersenyum. "Tidak usah sungkan. Kalau kamu merasa tak enak, anggaplah kamu bekerja di rumahku. Kebetulan, aku hanya tinggal sendiri. Jadi, kamu bisa memasak untukku dan membersihkan rumah. Bagaimana? Apa kamu mau?" kata Edwin memberi tawaran.
Kamila berpikir sebentar, kemudian mengangguk pasti. "Ya, aku mau. Setidaknya aku bisa berterima kasih dengan membantu kamu di rumah, Mas!"
Edwin tersenyum senang. Ternyata tawarannya langsung diterima Kamila. Dia jadi bisa bersama Kamila dan bayinya untuk jangka waktu panjang. Bisa setiap hari bertemu bahkan mencicipi masakan yang Kamila buat, sungguh kebahagiaan tersendiri untuk Edwin.
"Baiklah. Karena Mama kamu sudah setuju, kita langsung pulang ke rumah Om ya, ganteng!" kata Edwin sambil mencolek pipi sang bayi tampan itu.
Setidaknya, Kamila bisa membuat senyum di bibir Edwin merekah dengan keputusannya. Walau hanya jadi pembantu di rumah Edwin, namun ia senang karena tak perlu meninggalkan bayinya untuk bekerja.
"Terima kasih, Mas Edwin!" ucapnya tulus.
Sekilas Edwin menoleh, kemudian mengusap pucuk kepala Kamila dengan lembut. "Jangan berterima kasih terus!"
Edwin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi supir pribadinya. "Hallo, Pak Ujang. Tolong jemput kami sekarang ya," kata Edwin kepada sang supir.
•
•
Wajah sumringah Edwin terlihat jelas. Tak henti-hentinya dia tersenyum gembira, namun menyembunyikannya dari Kamila maupun Pak Ujang.
Perjalanan yang cukup melelahkan karena jalanan Ibukota yang macet jika di pagi hari. Walaupun hanya memakan waktu dua jam saja perjalan dari rumah sakit ke rumah milik Edwin. Tapi, itu sungguh melelahkan.
Setibanya di halaman rumah, Edwin bergegas turun untuk membukakan pintu bagi Kamila. Seulas senyum terukir indah di bibir Kamila kala Edwin membukakan pintu mobil dan membawakan tasnya.
"Mari masuk!" ajak Edwin kepada Kamila.
Bukannya mengikuti langkah Edwin, Kamila malah termenung menatap rumah Edwin.
Edwin yang menyadari jika Kamila tak mengikutinya masuk kedalam, ia pun menoleh ke belakang dan mendapati Kamila sedang berdiam diri tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Ada apa, Mila? Apa kamu terkejut dengan rumahku?" tanya Edwin yang diiyakan Kamila. "Maaf ya, rumahku memang tak sebesar yang kamu bayangkan. Memang iya sih aku itu pemilik sebuah perusahaan, tapi aku tak suka rumah yang terlalu besar karena aku kan hanya tinggal sendirian!" tutur Edwin menjelaskan. "Maaf ya!" ucapnya sekali lagi dengan perasaan bersalah.
Kamila lekas menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa! Justru bagus jika rumahmu gak terlalu besar, karena aku gak harus bersusah payah membersihkannya!" Kamila nyengir menampakan giginya yang rapi.
Edwin terkekeh menanggapinya. "Oh, jadi kamu malah senang ya karena gak bakal capek. Hemh, bagus ya. Belum apa-apa udah pengen enaknya aja," Edwin berpura-pura marah sambil bertolak pinggang.
"Eh, bukan gitu Mas. Aku tak bermaksud ..."
Edwin terkekeh. "Aku hanya bercanda! Aku hanya ingin kamu betah di rumah kita," cetusnya dengan nada lembut.
Kamila menautkan kedua alisnya. "Rumah ... kita?"
"Ups. Ma-maksudku, kamu kan mau tinggal bersamaku di rumahku, jadi ini kedepannya bakal jadi rumah kita. Iya kan, hehehe!" Ia tersenyum kikuk sambil menggaruk kepala tak gatal.
Kamila hanya tersenyum menanggapi tawa sumbang Edwin.
"Ayo masuk!" ajak Edwin kepada Kamila.
Pak Ujang yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka, hanya bisa menyunggingkan bibirnya_tak tahu harus berkata apa. Karena dia merasa jika Edwin menyukai Kamila, wanita cantik yang ditolongnya dua minggu lalu.
"Hadeuh, Tuan Edwin teh sekarang mah lebih ceria. Enggak seperti kemarin-kemarin. Kerjaannya uring-uringan terus!" berbicara dengan logat sundanya. "Tapi, kan Neng Mila teh punya bayi yang otomatis punya suami. Kenapa malah mau ikut diajak kesini? Apa dia hamil diluar nikah dan lakinya gak mau tanggung jawab? Kalau begitu mah atuh kasihan sekali dia," Pak Ujang berspekulasi sendiri.
Ia pun masuk untuk menemui tuannya. Mungkin saja tuannya akan membutuhkan dirinya untuk mengerjakan sesuatu.
...Bersambung ......