Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Tujuan Jang Min


"Baik, Yang Mulia! Hamba akan berangkat esok hari ke Limen Utara," balas Liang Si.


"Terima kasih, Pangeran Liang! Aku ingin Pangeran sekaligus seorang jenderal dari Kekaisaran Donglang mengingatkan dan mengatakan kepada Raja Liang Bao, akan kesiapannya untuk rakyatnya kelak jika terjadinya perang," ujar Jang Min.


"Baik, Yang Mulia!" balas Liang Si, "Yang Mulia, saya hanya minta satu hal jika dikabulkan," lanjut Liang Si.


"Apa yang ingin kamu minta? Katakanlah aku akan mengabulkannya kecuali istri dan putraku," balas Jang Min memberikan batasannya.


"Aku hanya menginginkan sapu tangan Permaisuri saja sebagai kenang-kenangan kepada hamba," balas Liang Si.


"Baiklah, jika Permaisuri mengizinkannya," balas Jang Min, "aku tidak rela tapi sebagai sesama pria yang mencintai wanita yang sama, andaikan aku di posisi Liang Si, aku pun merasakan kesedihan yang teramat dalam," batin Jang Min.


Ia berusaha untuk memahami dan berpikir secara bijaksana walaupun bertentangan dengan norma dan adat setempat.


"Suamiku, apakah hal itu diperbolehkan?" tanya Dara bingung.


"Aku mengizinkannya, anggaplah kamu memberikan sapu tangan itu kepada seorang sahabat atau saudara lelakimu, bukan seorang kekasih," balas Jang Min.


"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Dara. Ia meraih sapu tangan di saku lengan bajunya dan memberikannya kepada Liang Si.


"Terima kasih permaisuri dan Yang Mulia Kaisar. Saya undur diri," ujar Liang Si, ia menyelipkan sapu tangan  di ikat pinggangnya dan berjalan cepat meninggalkan kekaisaran Donglang menuju ke perbatasan Chang An.


Ia memandang keagungan Istana Kekaisaran Donglang, "Aku tidak tahu, apakah aku masih bisa bertemu dengan Li Phin? Aku hanya ingin segalanya akan baik-baik saja hingga aku kembali pulang kemari," batin Liang Si.


Ia membuka lipatan sapu tangan dari Li Phin bersulam bunga persik dan naga, "Li Phin sangat luar biasa di dalam keterampilan tangan, siapa sangka dia juga mampu berperang dengan baik.


"Padahal dulu ia sama sekali tidak suka berpedang. Aneh, terkadang Li Phin memiliki pandangan kasih sayang dan kerinduan yang besar kepadaku tapi terkadang kebencian dan biasa saja.


"Li Phin seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Semoga kamu bahagia cintaku, kekasihku yang tak mungkin lagi aku gapai," batinnya.


"Lapor Yang Mulia Jendral Liang, apakah kita akan kembali ke Limen Utara, sekarang juga?" tanya salah satu tangan kanannya.


"Aku rasa iya, sebaiknya kita menyamar menjadi rakyat jelata saja, aku tidak ingin menjadi bahan perhatian dari musuh yang mencoba untuk menangkap kita," balas Liang Si.


Akhirnya pasukan Liang Si menuju ke Limen Utara malam itu juga kala malam pekat tanpa cahaya bulan. Sekali lagi Liang Si menoleh ke belakang, Kekaisaran Donglang adalah negara di mana dia menghabiskan waktu di sepanjang hidupnya, mengenal Li Phin dan semua hal di Chang An.


Bayangan masa lalunya terus berlarian di benaknya di mana Kota Chang An sudah tertinggal jauh di belakang, derap langkah kuda terus menuntun Liang Si dan pasukannya menuju Limen Utara.


***


Sementara Jang Min dan Dara di dalam tubuh Li Phin baru saja ingin beranjak tidur. Dara hanya diam saja, ia merasa tidak tahu harus berkata apa. Li Phin sudah lama menghilang sejak kepergian Liang Si.


"Apakah Li Phin ikut bersama dengan Liang Si?" batin Dara termenung. Ia masih mencoba untuk mengingat setiap detail wajah Liang Si yang sarat kesedihan dan cintanya yang terpendam.


"Suamiku apakah engkau ingin tidur langsung?" tanya Dara sekedar berbasa basi, satu hal yang dipelajarinya di dalam berumah tangga pada zaman kerajaan setiap istri wajib bertanya dan menyenangkan para suami yang sangat berlebihan.


"Apakah di zaman modern hal ini akan terjadi juga?" batin Dara, "andaikan aku bisa kembali ke zamanku, aku berharap Liang Si dan Li Phin bisa bersatu!" batin Dara, "tapi bagaimana dengan Jang Min? Tidak mungkin aku bisa membawanya atau dia akan kembali ke zaman modern. Dia adalah orang di zaman ini?" batin Dara semakin bingung.


"Istriku, ada apa?" tanya Jang Min membelai wajah Dara, "apakah aku terlalu kejam kepada Jenderal Liang Si?" tanya Jang Min menatap ke arah Dara.


"Oh, bukan! Aku sangat yakin Yang Mulia memiliki alasan dengan melakukan hal itu!" balas Dara.


"Ya, kamu benar! Aku ingin Jenderal Liang-lah yang menyampaikan langsung kepada Raja Liang Bao yang tidak lain adalah ayahandanya sendiri mengenai perang ini. 


"Jika suatu saat nanti benar-benar terjadi perang. Kerajaan Limen Utara adalah tanah yang subur di bidang pertanian, aku berharap hasil panen tidak lagi dijual ke negara tetangga yang bukan di bawah kedaulatan Kekaisaran Donglang.


"Seperti aku mengutus Jenderal Tan Ji yang pulang ke Luoyang, tanah Luoyang sangat terkenal dengan kerajinan dan perekonomian yang maju, aku berharap mereka tidak lagi mengekspor segala jenis hasil kerajaan.


"Seperti Zedong, Donglai, Xuchang, dan semua kerajaan di bawah kedaulatan Donglang. Sebaiknya perputaran perekonomian hanya bergerak di sekitar Kekaisaran dan kerajaan di bawah kedaulatan saja. 


"Sehingga jika perang terjadi rakyat dan para prajurit tidak kekurangan sandang dan pangan, jika semakin parah rakyat tidak perlu ke sawah dan ke ladang, mereka masih bisa makan selama beberapa tahun kedepan. 


"Aku tidak ingin rakyatku menderita hanya karena keegoisan para raja dan keegoisanku sendiri," balas Jang Min.


"Oh, aku kira engkau cemburu hingga kamu ingin menyingkirkan Pangeran Liang Si," balas Dara menatap suaminya.


Jang Min membelai lembut rambut Li Phin yang panjang legam bak sutra hitam diantara jalinan jemari tangannya, "Tidak, walaupun jika aku jujur aku memang cemburu. Aku tahu Liang Si adalah saingan yang luar biasa hebat di dalam mencintaimu, Sayangku.


"Aku tidak bisa menjamin diriku sendiri akan seperti Liang Si di dalam mencintaimu. Aku masih belajar banyak darinya. Ia memberi tanpa mengharapkan imbalan jika engkau harus bersamanya.


"Liang Si benar-benar pria terhormat. Ia rela menderita demi dirimu, Istriku, sangat luar biasa," puji Jang Min.


"Engkau juga adalah pria yang luar biasa Suamiku," puji Dara.


"Terima kasih Istriku, jika kelak aku gugur di medan perang. Aku berharap menikahlah dengan Liang Si, uruslah Putra Mahkota, jadikanlah dia kaisar yang luar biasa baik melebihi aku, Ayahanda Liu Fei maupun Kakek Liu Bei," pesan Jang Min.


"Suamiku, mengapa engkau berpikir sejauh itu? Aku sendiri tidak pernah berpikir akan menikah lagi dengan Liang Si atau siapa pun?" jawab Dara bingung.


"Sayang, aku tahu diam-diam sebagian jiwamu masih mencintainya dan mengharapkannya. Aku tahu, aku hanyalah penghalang akan kebahagiaan kalian," ujar Jang Min.


"Sayang, aku tidak pernah berpikir demikian. Jika engkau meninggal aku pun akan mati bersamamu, aku ingin seseorang yang mirip aku yang mengurus Putra Mahkota dan menikah dengan Liang Si," balas Dara.


"Hahaha  Sayang, kamu tidak memiliki saudara kembar. Bagaimana bisa ada wanita yang mirip dirimu?" balas Jang Min tertawa lembut mengecup bibir istrinya.