Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Senjata makan tuan


Dara tidak ingin mengikat Qinglong di dalam ikatan sumpah darah seperti yang dilakukan oleh leluhurnya dulu sebagai kaisar pertama yang menginginkan keabadian.


"Dara … apakah kau tidak ingin mengakhiri pertempuran ini?" hardik Qinglong, ia tak peduli jika ia harus berkorban kembali.


Qinglong tak ingin membiarkan semua orang yang disayanginya akan tewas dengan mengenaskan. Ia melihat sudah terlalu banyak prajurit hantu dan pengawal dari Lu Dang tewas hanya karena keserakahan seorang iblis yang ingin menaklukkan dunia.


"Aku ingin memenangkan pertempuran ini, Tuan Qinglong. Tapi, aku tidak ingin dengan cara yang salah dengan mengorbankan kehidupan orang lain lagi," tegas Dara Sasmita.


"Dara … tapi … jika kita tidak bersekutu aku tidak yakin, jika kamu bisa menjinakkan pedang yang sudah dirasuki iblis itu?" ujar Qinglong, ia masih melesat untuk melawan para naga di angkasa dan berusaha untuk berbicara melalui telepati 


"Jangan khawatir, Tuan Qinglong. Aku tidak ingin mengikuti jejak leluhurku, aku hanya ingin kita mengambil keputusan dan mencari takdir yang kita inginkan. Aku mohon Tuan Qinglong, percayalah padaku," ucap Dara, ia ingin sebuah kepercayaan yang ingin diberikan oleh Qinglong.


"Hm, baiklah! Aku percaya kau pasti bisa. Dara … apakah kamu masih menginginkan saran dariku?" tanya Qinglong, ia takut untuk memberikan saran jika Dara tak lagi menginginkannya.


"Tentu saja, aku menginginkan saran itu Tuan Qinglong. Aku hanya tidak ingin mengikatmu denganku lagi. Anda berhak bahagia bersama Nyonya Long Mei, bukankah itu yang kalian inginkan?" ucap Dara.


Dara masih saja bergelantungan di pedang dengan mencoba untuk menggapai pedang dengan kedua kakinya agar ia bisa kembali berdiri di sana.


"Anda dan Nyonya Long Mei sudah terlalu banyak berkorban. Sudah saatnya kalian bahagia Tuan!" seru Dara, ia yakin akan menemukan suatu cara.


Dara tak ingin segalanya akan terus berulang tak menemui tepian lagi. Dara tak ingin segalanya akan kembali ke putaran yang sama.


"Hatimu, sungguh mulia Dara! Andaikan leluhurmu dulu seperti dirimu, aku yakin perang ini tak akan pernah selama ini," batin Qinglong, ia tak menyangka perang dari masa ke masa semakin berlanjut hanya karena godaan dari seorang iblis.


"Um, baiklah! Dara, kamu harus fokus untuk memanggil pedang naga hijau dengan kekuatan milikmu, karena hanya engkaulah yang pernah bisa menjinakkan diriku. Aura iblis pun tak akan sanggup untuk menguasai pedang itu Dara.


"Jemputlah takdirmu! Jika kamu yakin bisa menguasai pedang itu, maka iblis pun akan kalah. Sejatinya pedang itu bukan milik iblis. Selain itu, pedang naga hijau memiliki kekuatanku dan Long Mei.


"Cobalah untuk memanggilnya kembali, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya Dara, tunjukkanlah kekuatanmu!" ucap Qinglong, ia masih menyeringai di angkasa dengan ganasnya.


"Aku berharap jika Dara, mengerti apa yang aku maksud, ia memiliki mustika naga Long Mei dan kekuatanku, aku sangat yakin jika dia dengan mudah 


menjinakkan pedang itu. 


"Namun, anak manusia terkadang terlalu lambat menyadari banyak hal dan selalu menyesal di belakang. Hm, aku harap Dara sangat cerdas," batin Qinglong.


Qinglong melihat Liu Min di punggung istrinya masih meliuk dan menebaskan pedang birunya ke arah musuh dan naga yang ingin memerangkap Long Mei.


"Pantas saja, Long Mei mati-matian melindungi kaisar Liu Min, karena ia pun memiliki kasih sayang dan rasa tanggung jawab kepada semua sekutunya.


"Baru kali ini, ada seorang kaisar yang terlalu dicintai rakyat dan prajuritnya, hingga sudah menjadi arwah pun masih terus membela kaisarnya …," batin Qinglong, ia merasa kagum dengan kebesaran dan jiwa luhur dari seorang Liu Min.


"Pasangan ini sangat luar biasa!" batin Qinglong, ia merasa bangga telah menemani Dara selama ini.


Qinglong masih mengawasi Dara, yang mulai fokus untuk mengalahkan pedang yang telah dirasuki aura iblis.


"Baiklah, tuan Qinglong! Aku akan mencoba untuk menaklukkan pedang tersebut. Doakan saja, agar aku bisa menguasai semuanya," pinta Dara dengan keberanian yang sangat luar biasa.


"Ini benar-benar senjata makan tuan! Apa yang harus aku lakukan? Jika fokus … aku sudah fokus! Apalagi ya?" batin Dara, ia berusaha untuk mengingat setiap hal dan waktu yang dilewatinya saat bersama dengan Li Phin di zaman Dinasti Donglang dan zaman modernnya.


"Oh, mustika penguat roh! Apakah itu berguna?" batin Dara bertanya ia mencoba untuk mencari tahu dengan menggunakan mustika roh yang ada pada tubuhnya.


Dara mengeluarkan mustika penguat roh yang diberikan oleh Long Mei dan meletakkan di tangannya, ia langsung membuka lipatan tangan membuat pedang bergetar hebat seakan aura iblis menguap entah kemana. 


"Kemarilah! Aku perintahkan kau kemari mematuhiku sebagai Tuanmu!" perintah Dara, ia melihat pedang bergetar di depannya di antara kembali ke tangan Dara atau bersama iblis.


"Kemarilah!" perintah Dara sekali lagi, ia menatap pedang dan berusaha untuk membagi kenangan mereka bersama menumpas kejahatan.


Membuat pedang semakin berjumpalitan mencoba untuk kembali kepada si pemiliknya. Namun, kekuatan iblis mencoba untuk menariknya kembali. Raja iblis neraka murka langsung ingin membunuh Dara.


"Dasar, Bedebah! Kau mencoba memutuskan sumpah antara naga hijau dan dirimu! Bajingan! Mengapa tumbal berdarah itu tak berhasil? Sekarang aku tahu, karena kau telah memutuskan hubungan sumpah darah leluhurmu dengan Qinglong … dasar anak manusia kurang ajar kau!" teriak raja iblis murka.


"Hahaha, kau kira kau hebat karena kau berasal dari bangsa Nar (api) kau salah, Tuhan menciptakan manusia dari tanah tapi ia juga memberikan kami rasa cinta dan kasih sayang! Juga rasa persaudaraan bukan hanya kepintaran dan egois.


"Manusia yang pintar tapi tak memiliki adab itu sama artinya dengan iblis. Aku sudah memutuskan sumpah leluhurku dengan Tuan Qinglong, karena tak ada yang abadi di dunia ini selain cinta dan kasih sayang!


"Tapi, kau lupa … dengan semua itu Raja Iblis Neraka!" teriak Dara murka.


"Aargg! Aku tidak percaya akan cinta! Omong kosong!" teriak raja iblis neraka.


"Bagimu yang hidup penuh kesepian mungkin tak lagi merasakan cinta, tapi bagi jiwa-jiwa yang hidup demi cinta dan pengorbanan hal ini tak akan menjadi penghalang," ujar Dara.


"Omong kosong!" teriak Raja Iblis Neraka marah, ia langsung mengangkat tangan patungnya ingin menyerang ke arah Dara dengan sebuah sinar merah yang melesat dari telapak tangan raja iblis.


Trang!


Pedang naga hijau langsung menghadang serangan raja Iblis Neraka membuat Dara langsung menelan kembali mustika penguat roh miliknya dan melesat mengambil dan menggenggam pedang naga hijau miliknya.


Dara kembali menangkis serangan demi serangan yang dilontarkan oleh raja iblis neraka yang ingin membunuh Dara, tetapi tak satu pun serangan yang berhasil mengenai tubun Dara.


Raja iblis neraka semakin murka, ia tak menyangka akan mudah dikalahkan oleh Dara Sasmita anak manusia yang berumur pendek dan terbuat dari sebongkah tanah liat.


"Kau harus mati! Kau telah menggagalkan rencanaku!" hardik Raja Iblis Neraka, ia semakin gencar menyerang Raja Iblis Neraka.


Dara semakin gencar melesat, ia semakin gencar menyerang Raja Iblis yang kewalahan bergerak di dalam tubuh patungnya. Ia ingin mencari manusia untuk diambil darahnya, tetapi ia tak melihat satu manusia yang memiliki jiwa murni.


"Lu Dang! Carikan aku anak kembar itu!" perintah Raja Iblis Neraka, ia mencari anak kembar Liu Aching dan Liang Bo.


"Ba-baik Tuan!" balas Lu Dang secepatnya ia ingin segera menyelesaikan semua perang tersebut


Dara melesat menghalangi Lu Dang yang melesat ke sebuah celah batu, "Langkahi dulu mayatku, Lu Dang! Pertempuran kita belum usai di masa lalu, kini saatnya kita selesaikan!" tantang Dara sudah berdiri di depan Lu Dang.