Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Gugurnya jendral hebat dari Nan


Lu Dang menerjang dengan kekuatan penuh ingin membunuh Li Sun dengan kekuatannya, Li Sun hanya bisa pasrah karena tubuhnya sudah penuh darah dan racun membuatnya mati rasa dan tidak bisa bergerak lagi, Lu Dang semakin mendekat dan terus menghunuskan cakarnya.


"Dewa, jika sudah tiba takdirku untuk pergi aku hanya minta lindungilah putri, menantu, dan cucuku. Jang Mei … aku datang!" batin Li Sun melihat mendiang istri pertama yang dicintainya seakan mendekap tubuhnya dan tersenyum.


Akan tetapi, trang! Pedang naga hijau milik Li Phin langsung menangkis cakar Lu Dang, pendar hijau dan hitam bergemuruh di angkasa, Dara melesat dengan cepat dari punggung kuda di sisi Jang Min kala tiba di istana ingin menyelamatkan ayahandanya


"Ayahanda! Maaf, aku terlambat!" ucap Li Phin memberikan kapsul kepada Li Sun yang bersimbah darah dari mulut dan tubuhnya.


"Putriku … hiduplah dengan Bahagia dan terhormat. Aku bangga padamu putriku, maaf, bila aku tidak bisa melihat cucuku," balas Li Sun tersenyum.


"Tidak! jangan tinggalkan aku Ayahanda! Aku mohon," teriak Li Phin dan Dara memeluk Li Sun air mata bergulir.


Lu Dang tidak menyia-nyiakan kesempatan ia melesat ingin membunuh Li Phin. Akan tetapi, trang! Pedang Liang Si menangkis cakar Lu Dang dan cakaran mengenai bahunya yang langsung berasap ia terduduk lemah tetapi berusaha untuk bangkit.


"Pangeran Liang Si! Minumlah dan taburkan ini," teriak Dara melemparkan obat kepada Liang Sun.


Dara melompat menghadang Lu Dang dengan kehamilannya, "Kau … aku tidak tahu siapa kau? Tapi, aku ingin membalas kesakitan Ayahandaku," ucap Dara dingin. Mencengkram pedang dan menyerang Lu Dang.


Pendar hijau dan hitam kembali bergemuruh di udara membuat semua orang menyingkir, Jenderal Tan Yuan Ji mengambil tubuh Li Sin, "Tan Ji, bawa Jenderal Li ke Tabib Luo cepat!" ujar Tan Yuan Ji menyerahkan abang iparnya pada Jenderal Tan Ji yang langsung melompat dengan cepat menuju rumah Tabib Luo.


Tan Yuan Ji menghadapi Qin ChaI Xi, "Kau memang, biadab!" ujarnya menyerang dengan tombak besarnya membuat Qin Chai Xi melesat secepatnya tetapi, pukulan dan luka dalam yang diberikan oleh Li Sun tak lagi mampu untuknya bertahan hingga dengan mudah Tan Yuan Ji menerjang dan menebas tangannya.


"Aaa!" teriak Qin Chai Xi, "Tan Yuan Ji, bantu aku untuk merebut kembali Kekaisaran Donglang. Aku akan memberikan apa yang kamu minta!" tawar Qin Chai Xi.


"Hahaha! Aku tak akan pernah berkhianat sepertimu, Bajingan!" teriak Tan Yuan Ji melesat menebaskan tombak besar dan berat miliknya membuat dentingan bergema. Ia berhasil menebas kedua tangan dan melukai punggung Qin Chai Xi. Akan tetapi, kala Tan Yuan Ji ingin membunuhnya bayangan hitam melesat menyambar, menyelamatkan tubuh Qin Chai Xi.


"Panah mereka!" teriak Tan Yuan Ji. Semua prajurit memanah bayangan tersebut.


Sementara Dara masih bertempur dengan Lu Dang yang hebat dan kuat, kekuatan mereka sebanding. Namun, perut Li Phin terasa sakit air ketuban dan darah mulai merembes dari pangkal pahanya, akibat banyaknya tenaga dalam dan menahan racun hingga kontraksi kelahirannya telah terbuka.


"Oh, anakku!" teriak Dara terjatuh karena rasa sakit dideritanya, "aku harus kuat!" batin Dara.


"Dara, kita mau melahirkan! Bagaimana ini?" teriak Li Phin bingung.


"Entahlah, aku bingung!" balas Dara karena untuk pertama kali dia harus mengalami fenomena menegangkan ingin melahirkan di tengah pertempuran.


Lu Dang tidak menyia-nyiakan kesempatan ia langsung menyerang Dara, "Jangan coba-coba menyentuhnya!" teriak Liang Si menghadang Lu Dang, pedang dan cakaran kembali bergema.


Tubuh Dara melayang ke tanah menahan pinggangnya yang mulai sakit. Jang Min melesat menolong istrinya meninggalkan pertempuran membunuh banyak prajurit, "Istriku! Apa yang terjadi?" tanya cemas.


"Aku ingin melahirkan, Suamiku!" teriak Dara.


"Di saat genting seperti ini?" teriak Jang Min bingung.


"Aku tidak tahu! Jika aku tahu, aku juga tidak mau!" teriak Dara kesal.


"Pangeran Limen Utara! Bisakah kamu menangani pertempuran? Permaisuri ingin melahirkan!" teriak Jang Min.


"Baiklah, bawalah dia ke sudut panggil para dayang!" teriak Liang Si masih mencoba menahan serangan Lu Dang.


"Apa yang terjadi?" teriak Tan Yuan Ji mendekat.


"Permaisuri ingin melahirkan!" teriak Jang Min semakin kacau.


"Aaa!" teriak kesakitan Dara semangkin mencengkram dan menjambak rambut Jang Min.


"Bawa dia ke sudut!" aku akan melindunginya!" teriak Tan Yuan Ji.


Jang Min melesat ke sudut, " Para Dayang! Tolong, Permaisuriku!" teriaknya memanggil semua dayang yang terus merubungi langsung membentangkan kain di sekeliling tubuh Dara untuk membantu proses melahirkan.


"Istriku! Bertahanlah demi anak kita!" ucap Jang Min.


"Suamiku, pergilah! Bunuh bajingan  di luar sana! Aku tidak bisa tenang jika mereka masih di sini!" teriak Dara.


"Ba-baiklah!" ucap jang Min mengecup kening istrinya dan melesat kembali ke pertempuran.


"Ayah angkat, titip istri dan anakku!" teriak Jang Min.


"Jangan khawatir aku akan melindungi menantu, ponakan, dan cucu!" teriak Tan Yuan Ji membuat brigade dengan  prajurit lain menolong kelancaran kelahiran dan serangan prajurit sekutu Qin, Changsha, dan Mongol.


Sementara Jang Min melesat menolong Jenderal Ming Fu yang sudah tidak memiliki tangan kiri dan tertancap 5 tombak di dada dan tersenyum dengan angkuh juga rambut tergerai, ia bahkan bagaikan sesuatu benda yang berdiri di atas tombak yang menyanggahnya dari tanah. Namun, pedang masih berada di genggaman tangan kanan.


Jang Min melesat mengambil tubuh Ming Fu dan membaringkannya di tanah, "Jenderal Ming, bertahanlah!" ujar Jang Min menyeka darah dari wajah Ming Fu yang tersenyum dan menggenggam tangan kanan Jang Min.


"Syukurlah, Yang Mulia telah tiba. Maaf, hanya sampai di sini, saya menemani Yang Mulia! Jangan biarkan Qin menang!" ucap Jenderal Ming Fu menghembuskan napas di pangkuan Jang Min membuat kemurkaan di hatinya.


"Beristirahatlah dengan damai Paman, Kau adalah Jenderal terhebat dari Nan," balas Jang Min melesat menghadapi Qin Chai Jian. 


Owee! Owee! 


Bertepatan dengan suara tangisan bayinya, "Terima kasih Dewa! Semoga anak dan istriku selamat!" batin Jang Min.


"Hahaha, akhirnya kau datang juga Jenderal Jang Min. Oh, bukan … Kaisar Liu Min," ucap Qin Chai Jian.


"Aku tidak menyangka kita harus berada di sini dengan cara seperti ini, Jian, kau tahu kita adalah teman sepermainan dan berlatih bersama di bawah komando Jenderal Yuan Ji," ucap Jang Min.


"Hahaha, aku tidak pernah menganggap semua itu adalah persahabatan, tetapi persaingan! Aku ingin membunuhmu! Bedanya aku dan kau adalah, aku terlahir sebagai putra mahkota yang terbuang sedangkan kau adalah putra mahkota yang disembunyikan," balas Qin Chai Jian.


Keduanya saling menghunuskan pedang berusaha untuk saling membunuh,