Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Putri Mongol Mo Yu'er


"Oh, syukurlah kalau begitu! Aku tidak tahu siapa pendekar hebat tadi? Tapi, racunnya sangat hebat sekali! Aku melihat terakhir kali ia memukul Liang Si begitu mengerikan," balas Dara berpura-pura.


Ia menatap ke arah Jang Min, menggenggam erat tangan suaminya dan sedikit bermanja-manja, "Aduh, jika bukan karena Li Phin, aku tidak akan melakukan hal ini," batin Dara.


"Pangeran Limen Utara … terluka, ia masih dirawat oleh Tabib Yu. Aku rasa nanti aku akan menemuinya lagi," balas Jang Min menatap wajah istrinya. 


"Oh, aku harap ia akan segera sembuh. Apakah lukanya begitu parah, Suamiku?" selidik Dara menutupi rasa khawatir yang berlebihan di jiwa Li Phin.


"Um, aku rasa lumayan, pendekar itu benar-benar hebat! Aku juga tidak tahu siapa pria itu?" balas Jang Min.


"Apakah Ayahanda, Paman Yuan Ji, dan Jenderal Ming Fu, tahu?" tanya Dara.


"Tak seorang pun yang menyebut siapa nama pendekar itu. Hanya saja, aku tidak menyangka jika Qin Chai Xi benar-benar berani menyerang kemari," balas Jang Min.


"Sebagian mengatakan, jika Perdana Menteri Zhu Chang sedang mereka sekap, aku akan meminta jendela Tan Ji untuk menyelidikinya. Sedangkan Pangeran Gu Shenzian mengatakan, 'Jika Kak Jia'er dan Pangeran Gu Shanzheng sedang menyelidiki ke Mongol apa hubungan antara Selir Chien dan Qin Chai Xi juga Mongol, serta Changsha selain negara tetangga,'.


"Aku berharap mereka selamat, tanpa adanya bahaya yang mengerikan yang menghadang keduanya!" ujar Jang Min.


Owe! Owe!


Tangisan Liu Sun Ming, membuat Jang Min bergetar, "Sayang, apakah itu anak kita?" tanya Jang Min penasaran.


"Iya, Sayang! Aku rasa waktunya untuk minum ASI," balas Dara.


Seorang dayang membawa Liu Sun Ming dan menyerahkannya kepada Dara yang langsung dengan kelembutan membujuk putranya untuk minum ASI.


Jang Min melihat siluet kebahagianan antara Li Phin dan putranya Liu Sun Ming, bagaikan sebuah lukisan indah di sana dengan latar belakang bunga persik yang sedang bermekaran indah.


"Li Phin sangat cantik dan menawan, putraku begitu tampan! Aku berharap Dewa selalu menjaga mereka," batin Jang Min bersyukur akan banyak hal. 


"Kesayangan Mama!" lirih Dara menggenggam tangan Liu Sun Ming yang berada di pangkuannya.


"Mama? Phin'er terkadang sedikit aneh. Ia memiliki bahasa yang berbeda dan cara hidup yang berbeda yang jauh dari zaman ini?" lirih batin Jang min memperhatikan istrinya yang begitu bahagia di sisinya. 


Jang Min masih ingin berlama-lama bersama dengan istri dan anaknya akan tetapi kewajibannya sebagai kaisar menuntutnya untuk segera meninggalkan istrinya sementara.


"Sayang, aku akan melihat keadaan dulu. Selain itu aku juga ingin menjenguk dan melakukan pemakaman Jenderal Ming Fu," ucap Jang Min.


"Baiklah, Sayangku. Tolong, lihat juga ayahanda," balas Dara, ia ingin mengatakan sesuatu mengenai Liang Si. Akan tetapi, ia sangat takut jika Jang Min akan murka ia melihat jika suaminya benar-benar lelah.


"Sayang, mandi dan gantilah baju zirahmu. Jangan lupa makan dulu, aku tahu sejak dari perbatasan Gunung Sun hingga kita kemari, Yang Mulia belum makan," balas Li Phin.


"Baik, Istriku!" balas Jang Min tersenyum, "aku pergi dulu! Liu Ming, Ayahanda pergi dulu, jangan nakal dengan Ibunda ya, Nak!" ucap Jang Mi  membelai wajah mungil di dalam dekapan sang istrinya, ia mengecup kening Li Phin sekilas dan tersenyum kepada istri tercintanya.


"Selamat bekerja, Ayahanda!" balas Dara seakan-akan putranyalah yang sedang berbicara.


***


Sementara Gu Shanzheng mulai sadar ia melihat seorang wanita menyalakan api unggun dan telah mengganti baju Tan jia Li. Si wanita meniup seruling di tangannya.


"Siapakah Nenek ini?" tanya Gu Shanzheng berusaha untuk bangkit.


"Lukamu masih belum membaik dengan benar, berbaringlah! Apa hubunganmu dengan Liu Bei?" tanya Mo Yu'er.


"A-aku adalah cucunya," balas Gu Shanzheng.


"Um, apakah ibumu Liu Jang Yin?" selidik wanita tersebut menatap ke arah Gu Shanzheng.


"Ya, mengapa Nenek bisa kenal dengan kakek dan ibu saya?" tanya Gu Shanzheng bersiap-siap jika ada hal yang tidak diinginkannya.


Ia melihat wanita di depannya menimang seruling emas yang diberikan oleh Ibunda Zhu Sia permaisuri Wuling yang juga ibu tirinya.


"Lalu hubunganmu dengan Raja Wuling Gu Tian?" tanya Mo Yu'er.


"Dia adalah ayahku!" balas Gu Shanzheng jujur masih menatap ke arah Mo Yu'er dengan penasaran, "siapakah Nenek yang sebenarnya?" akhirnya Gu Shanzheng bertanya juga.


"Kau tak perlu tahu, siapa aku?" balas Mo Yu'er dingin.


Ia meneliti wajah Mo Yu'er di keremangan  api unggun, "Apakah Nenek adalah Putri Mo Yu'er? Aku melihat lukisan wajahmu di kediaman Kakek Liu Bei di Kekaisaran Donglang," ujar Gu Shanzheng.


Ia melihat wajah Mo Yu'er yang masih muda telah berganti dengan rambut putih dan cara sanggulan rambut yang sama juga pakaian yang berbeda sedikit lusuh.


"Heh! Si pengkhianat itu masih menyimpan lukisanku? Apakah dia tidak tahu wajahnya telah menghuni hatiku sepanjang waktu hingga kini? Apa yang telah aku dapatkan? Tak ada! Hanya sebuah penyesalan," balas batin Mo Yu'er sengit.


Gu Shanzheng mengingat sesuatu di selipan lengan bajunya yang selalu dibawanya, amanat terakhir kakeknya untuk diberikan kepada wanita di dalam lukisan yang ia sendiri pun tidak tahu siapa namanya.


"Maaf, Nenek! Ini amanat terakhir Kakek untuk Nenek. Aku tidak tahu siapa nama wanita di dalam lukisan itu? Hanya saja sebelum kakek meninggal ia memintaku untuk memberikan ini, tapi aku tidak tahu siapa nama Nenek? Karena aku masih terlalu kecil," balas Gu Shanzheng meraih sebuah sapu tangan berwarna putih dengan kotak kecil di dalamnya.


Mo Yu'er menerimanya dengan tangan bergetar dan lelehan air mata, [Mo Yu'er, kekasihku. Maafkan, aku yang tak bisa memenuhi janjiku, padamu. Tapi di sepanjang hidupku, aku hanya mencintaimu!] 


Mo Yu'er membaca secarik pesan di sapu tangan dengan tulisan Liu Bei dan seperangkat perhiasan untuk sebuah pernikahan.


Mo Yu'er bergetar dan melesat ke luar gua. Keduanya tidak menyadari jika Tan Jia Li sudah mulai sadar, "Apakah itu adalah Putri Mo Yu'er? Salah satu putri tercantik di Mongol yang dicintai oleh Kaisar Liu Bei?" batin Tan Jia Li.


Ia pernah mendengar sebuah rumor sebuah kisah yang tak pernah sampai antara Liu Bei dan Putri Mo Yu'er. Hingga akhir napas Kaisar Liu Bei, hanya ada satu nama yang terucap dari bibirnya yaitu nama Mo Yu'er.


"Jadi, putri Mo Yu'er, masih hidup? Dan masih sendirian?" batin Tan Jia Li, "aku mendengar jika dia hanya menghabiskan hidup di lembah kecil di Desa Mayu. Apakah ini Desa Mayu?" batin Tan Jia Li berusaha bangun, "aduh!" rintihnya akibat luka di punggung. 


"Jia'er apakah kamu sudah sadar?" tanya Gu Shanzheng.