Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Cinta tidak bisa terpaksa, memaksa, atau dipaksakan


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Li Phin memeluk Liang Si. 


"Hah! Aku merasa bahagia untukmu Phin'er walaupun aku tak menyangka jika sebagian hatiku tidak rela," keluh Liang Si.


Ia mencoba untuk melesat ke luar dari ruangannya berjalan ke arah Taman Persik menikmati rembulan dan kenangan saat bersama dengan Li Phin kecil. Ia tak menyangka jika jiwa Li Phin bersamanya ia selalu merasa damai ia tak tahu mengapa ia selalu saja merasa jika Li Phin selalu di sisinya.


Menikmati gugurnya bunga persik di sekujur tubuh dan menangkap bunga-bunga yang berguguran mencoba melakukan apa yang dilakukan oleh Li Phin kecil dulu berputar dan menari di sana.


"Aku merindukanmu Li Phin! Sangat merindukanmu …," lirih Liang Si.


"Aku juga sangat merindukanmu Liang'er, maaf mungkin kita tidak berjodoh di kehidupan ini," balas Li Phin dengan derai air mata menemani Liang Si berputar di tengah gugurnya bunga persik.


Keduanya menikmati perih dan luka akibat cinta yang luar biasa indah dan menyakitkan menikmati segala roman picisan yang tak berujung. Namun,  hanya cintalah yang membuat keduanya tetap bertahan di sana menemanni raga orang yang mereka cintai.


***


Keesokan paginya Dara di dalam tubuh Li Phin sudah mulai bergerak menuju ke aula kekaisaran untuk menemui semua permaisuri dari kerajaan tetangga yang ingin memberikan selamat atas kelahiran dan penabalan nama anak mereka.


"Selamat Yang Mulia Permaisuri Li Phin," ujar Permaisuri dari kerajaan Luoyang.


"Terima Kasih, Permaisuri Luoyang!" balas Dara dengan senyuman. Sementara Liang Si dan Dayang Ling'er berada di sisinya. 


"Selamat Yang Mulia Permaisuri Li Phin," ujar Permaisuri Mongol, yang tidak lain adalah Qin Jiajia.


"Putri Qin Jiajja?" ucap Dara dan Li Phin terperanjat. Mereka tidak menyangka jika Qin Jiajia yang pernah mencoba ingin menjadi selir Kaisar Liu Min yang tidak lain adalah suaminya, kini telah menjadi istri dari raja Mongol Shan Ti'er.


Dara dan Li Phin menatap ke arah Qin Jiajia dengan tatapan kecurigaan yang dalam, "Apakah Qin Jiajia menjadi permaisuri Kerajaan Mongol?" ucap Li Phin.


"Begitu mudah dia melepas cinta dari orang yang diinginkan, awalnya ia mengejar Liang Si, mencampakkan dan mengejar Jang Min karena ditolak ia mengejar Shan Ti'er," ucap Li Phin marah.


"Dia tidak pernah mencintai siapa pun hanya dialah yang tahu siapa yang ia cintai. Ia hanya mencintai kedudukan dan tahta," balas Dara.


"Ya, kamu benar!" balas Li Phin menatap Qin Jiajia penuh dengan kebencian, "karena dia segalanya menjadi berantakan," batin Li Phin.


"Kita lihat saja, apa yang akan dilakukannya. Berhati-hatilah!" balas Dara.


"Selamat Yang Mulia Permaisuri Li Phin atas penabalan putra Mahkota Li Sun Ming," ucap Qin Jiajia sedikit menekuk lututnya memberi penghormatan. Memandang 


"Terima kasih, Permaisuri Mongol, silakan duduk!" balas Dara mengawasinya dengan ketat.


"Baik, Yang Mulia Permaisuri!" jawab Liang Si langsung mengawasi Qin Jiajia yang berjalan mendekati Putra Mahkota Li Sun Ming.


"Maaf, Permaisuri Mongol. Para tamu tidak diperbolehkan untuk menyentuh Putra Mahkota," ujar Liang Si langsung menghadang Qin Jiajia.


"Aku hanya ingin melihatnya, mengapa? Apakah kamu takut jika aku akan melakukan hal-hal aneh begitu?" tanya Qin Jiajia memandang ke arah Kiang Si dengan sebuah kerinduan.


"Aku sangat yakin, kamu akan melakukan hal itu  karena aku sangat yakin kamu akan melakukan banyak kejahatan yang telah kamu rencanakan Qin Jiajia," ucap Liang Si.


Qin Jiajia menatap wajah Liang, "Apakah kamu tidak mengingat kisah cinta kita Liang'er? Begitu mudahnya engkau melupakan semua kenangan tentang kita berdua?" tanya Qin Jiajia tersenyum penuh cinta, mencoba mengusik kenangan lama mereka.


"Aku tidak pernah mengingat apa pun tentang masa lalu kita Jiajia! Bukankah engkau selalu mengancamku? Jika aku tidak bersikap manis padamu, kamu akan membunuh Li Phin dan tidak memberikan penawar racun padaku?" tanya Liang Si menatap ke arah Qin Jiajia dengan penuh amarah dan dendam.


"Hahaha, engkau terlalu mendramatisir keadaan Liang'er. Aku benar-benar mencintaimu saat itu bahkan, mungkin hingga sekarang, tapi … ayahmu Raja Liang Bao terlalu angkuh.


"Terlalu setia kepada Kekaisaran Donglang! Entah apa yang diberikan oleh Kaisar Liu Fei kepada kalian hingga kalian melakukan hal itu!" ucap Qin Jiajia menatap ke arah Liang Si.


"Engkau tidak akan pernah tahu arti dari sebuah kesetiaan. Saat kerajaan kami diserang oleh kerajaan tetangga hanya Kekaisaran Donglang-lah yang mau turun tangan membantu kami, kemana Kerajaan Qin? 


"Sejak Kekaisaran Donglang yang berkuasa, keadaan semakin membaik. Perekonomian, pertanian, dan pendidikan luar biasa maju. Namun, kalian tidak pernah mau mengakui semua itu bukan? Malah kalianlah yang selalu membuat huru-hara yang mengerikan bukan?" tanya Liang Si.


Liang Si menatap ke arah Qin Jiajia dengan perasaan kebencian yang luar biasa, "Lalu kamu dengan mudah mengatakan jika kamu mencintaiku? Heh! Kamu dengan mudah menjadikan dirimu ingin menjadi selir sang kaisar  apakah itu yang dinamakan cinta Jiajia?" tanya Liang Si.


"Dan kau! Kau rela mengabdikan diri menjadi seekor anjing di samping wanita yang kau cintai, hanya untuk apa? Kau bodoh sekali! Jika aku jadi dirimu aku tidak akan pernah melakukan hal itu!" balas Qin Jiajia tak kalah sengit mengepal tangannya. 


Di depannya Liang Si menatap Qin Jiajia dengan tatapan dingin, "Aku rela hancur demi wanita yang kucintai asal dia bahagia! Bagiku tidak masalah! Jika itu yang kau maksud," balas Liang Si tegas.


"Hahaha, dasar bodoh! Jika aku jadi kamu, aku akan menghancurkan Kaisar Liu Min, dengan mengambil istri dan  tahtanya," ketus Qin Jiajia.


"Aku bukan dirimu! Cintaku bukanlah cintamu yang penuh pengkhianatan dan keangkaramurkaan. Jangan kamu bandingkan cintaku dengan cintamu, kau tidak akan pernah tahu apa itu kesetiaan dan ketulusan juga arti mencintai seorang wanita," balas Liang Si.


"Cuih! Jangan kau ajari aku cara mencintai  Liang Si. Aku memiliki cinta yang tulus padamu sejak kecil, tapi .... kau selalu mencintai wanita itu! Apa kurangnya aku dan Li Phin? Jika bicara kecantikan, aku lebih cantik darinya.


"Jika bicara mengenai kepintaran, aku lebih pintar darinya, bahkan aku lebih memiliki segala-galanya, bukankah begitu? Tapi kau selalu saja mencintainya, mengejarnya, dan melindunginya seperti seekor anjing dengan tuannya," ketus Qin Jiajia marah.


"Cinta tidak bisa dipaksa, memaksa, atau terpaksa Qin Jiajia. Rasaku pada Li Phin tak bisa dilukiskan dengan apa pun! Kau harus tahu itu. Sepanjang hidupku aku hanya berteman dan mengenal satu orang wanita selain ibundaku, yaitu Li Phin!" balas Liang Si.