Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Mencintai wanita yang sama


Jang Min membalikkan badan menatap ke arah Liang Si yang menatapnya dengan penuh pengharapan dan kesakitan juga rasa kosong yang dalam.


"Aku tahu, Li Phin telah menjadi istrimu dan permaisuri, tapi aku pun masih ingin menikmati senyumannya. Sebagai seorang pria sejati, aku tidak akan mengganggu rumah tangga dan kedamaian kerajaan Limen Utara dan Kekaisaran Donglang.


"Hanya saja, biarlah … aku memenuhi janjiku kepada Phin'er, untuk terus menjaganya di sisimu, sebagai seorang teman dan kekasih yang tak dianggap! Mungkin suatu saat nanti aku akan menemukan penggantinya.


"Tapi sebelum itu terjadi, biarlah aku menepati janjiku untuk terus melindunginya. Sedari kecil hingga waktunya aku harus pergi," ujar Liang Si menatap ke arah Jang Min sebagai seorang pria sejati.


Jang Min menghela napas ia tak ingin dan tak rela jika ada pria lain yang menginginkan dan menikmati senyuman istrinya. Namun, sebagai seorang pria sejati dan demi keamanan negara dan penduduk ia pun berusaha untuk lebih arif.


"Aku mengizinkan kamu untuk terus melindungi Permaisuriku, walaupun itu tak perlu kamu lakukan Pangeran. Tapi aku harap kamu tidak melangkahi batasmu! Jika kamu melangkahinya aku tidak peduli jika aku atau kau yang akan mati.


"Jika aku tidak bisa melindungi anak dan istriku, bagaimana aku bisa melindungi kekaisaran dan seluruh rakyatku," ucap Jang Min.


"Percayalah padaku, aku berjanji sebagai seorang pangeran dan seorang Jenderal juga sebagai mantan kekasih, aku akan tetap menjaga harga diriku, dirimu, dan Li Phin," ucap Liang Si.


"Sedari umur 10 tahun, aku dan Li Phin selalu bersama. Aku yang terpisah dari keluarga dan negaraku harus tinggal di Chang An tanpa keluarga dan teman, Li Phinlah satu-satunya temanku.


"Aku tak bisa jauh darinya. Mengapa aku terus berada di Donglang dan tidak kembali ke Limen Utara setelah pendidikanku selesai? Semua ini karena Phin'er," balas Liang Si.


Ia menatap Jang Min dengan kebulatan tekad, "Baiklah! Aku akan mengabulkan keinginanmu. Tapi, aku harap kamu juga menaati batasanmu!" ulang Jang Min.


"Jangan khawatir, Yang Mulia Kaisar. Terima kasih," balas Liang Si kembali menatap ke luar jendela istana.


Jang Min meninggalkan Liang Si, "Ya, Dewa. Apakah ini berlebihan dan akan menuai kesalahan di masa depan? Aku harap keputusanku dengan membiarkan Liang Si di sini tidak memuai masalah dan hal lainnya," batin Jang Min.


Ia kembali ke ruangannya untuk mengerjakan semua pekerjaan sebagai seorang kaisar. Ia melihat dari jendela di ruangan jika permaisuri sedang duduk di paviliun permaisuri dengan melihat bunga teratai dan ikan koi.


"Apa yang sedang dipikirkan oleh Phin'er? Apakah segalanya teramat rumit?" batin Jang Min. 


Ia langsung melesat melalui jendela,  memetik beberapa tangkai bunga mawar dan bunga semak lain berwarna-warni di dalam genggamannya perlahan berjalan mendekati Li Phin yang sedang termenung. 


"Oh, Suamiku!" pekik tertahan Dara kala ia melihat uluran buket bunga di dalam genggaman seseorang persis dari balik bajunya.


"Sedang apa Istriku yang cantik?" tanya Jang Min. Ia benar-benar berusaha untuk membuat istri tercintaku tak berpaling kepada Liang Si.


"Wah, ini bunga yang sangat indah, Suamiku! Apakah ini untukku?" tanya Dara tersenyum.


"Tentu saja, buat siapa lagi! Selain wanita yang paling aku cintai di seluruh Donglang," ujar Jang Min tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Suamiku!" balas Dara tersenyum.


"Ayo, berjalan-jalan sore ini!" ajak Jang Min berusaha membuat istrinya bahagia di sela padatnya rutinitas Jang Min sebagai kaisar.


Jang Min menggandeng tangan Li Phin menyusuri taman istana langsung menuju ke taman persik yang berada di dekat rumah Li Phin. Di bawah naungan bunga  persik yang sangat luas dengan bunganya yang indah Dara dan Jang Min menyaksikan senja.


"Apakah kamu terlalu lelah?" tanya Jang Min melihat Dara yang memandang taman persik dengan mengingat banyak kenangan di sana.


"Taman ini terlalu banyak kenangan saat aku bertemu denganmu pertama kalinya. Mungkin … kamu juga bermain di sini bersama dengan Liang Si kecil. 


"Istriku, aku tahu. Itu adalah masa lalumu. Aku tak keberatan dengan semua masa lalu itu, tapi yang berlaku biarlah berlaku," ujar Jang Min.


Dara dan Li phjn hanya diam berusaha mencerna ke mana arah dan tujuan semua pembicaraan yang dimaksud oleh Jang Min.


"Pangeran Liang Si … dia akan segera sembuh dan tetap berada di kaisaran," ucap Jang Min berdiri di antara gugurnya bunga persik yang indah.


"Oh, syukurlah!" balas Dara berusaha jantuk normal dan tidak ingin Jang Min curiga jika Li Phin begitu merindukannya.


"Iya, aku sudah mendapatkan kabar jika Jenderal Yuan ji  telah sampai ke Xihe dan Wuling. Mereka berusaha untuk memperkuat benteng perbatasan antara Wuling dengan Qin, Xuchang dengan Changsha Xihe dengan Mongol. 


"Aku baru tahu jika selama ini mereka berusaha membuat kekacauan dengan mengatasnamakan namaku dan Donglang. Bagaimana menurutmu jika kita berdua menyusup ke sana?" tanya Liu Min penasaran.


"Yang Mulia, bukan aku tidak mau. Tapi, jika Yang Mulia pergi dari kekaisaran aku tidak ingin jika ada musuh di dalam selimut yang berusaha untuk menghancurkan Donglang dari dalam," ucap Dara menatap suaminya yang tinggi besar dan tampan.


"Aku sudah tidak sabar menanti di kekaisaran tanpa tahu bagaimana keadaan di luar," balas Jang Min.


"Sabarlah, Sayang, aku rasa Kak Jia'er dan Gu Shanzheng pasti akan mengabarinya, percayalah!" ucap Dara menyentuh bahu suaminya yang langsung merengkuh pinggang Li Phin di dalam pelukannya.


"Aku sangat rindu kala kita berdua bertempur di medan perang Istriku, rasanya menanti begini sangat membosankan dan tidak tahu harus berbuat apa!" ujar Jang min.


"Jika aku sudah melahirkan anak kita, aku akan menemanimu menyusup ke luar istana, tapi … untuk sekarang jangan dulu. Aku tidak ingin terjadi apa pun terhadap anak kita Suamiku!" ucap Dara.


"Hahaha, Sayang! Kalian berdua adalah hal yang terpenting untukku. Aku hanya tidak tega dengan apa yang dilaporkan Jenderal Yuan Ji dan Tan Ji jika perbatasan dengan tiga kerajaan tetangga itu begitu mengerikan.


"Aku sudah melepaskan semua raja dan permaisuri negara tetangga yang ikut perlombaan kemarin. Aku tahu jika mereka berkomplot, aku sudah menyuruh mata-mata untuk mengawasi gerakan mereka semua.


"Jika terang-terangan aku menghukum mereka itu artinya aku terlalu membela dirimu dan melupakan kepentingan rakyatnya. Itu akan dengan mudah memprovokasi penduduk dan semua orang untuk memutuskan kerjasama dan pemberontakan di mana-mana.


"Lebih baik aku lepaskan ekor dan aku tetap memegang kepalanya. Aku mengawasi mereka semua dengan mata-mata siapa saja yang berkhianat?" papar Jang Min.


"Ya, itu adalah ide yang sangat baik Suamiku. Engkau begitu pintar dan luar biasa," ujar Dara menatap dan melingkarkan kedua belah tangannya di leher Jang Min.


Sepasang suami istri itu tidak mengetahui jika Liang Si mengawasi mereka, "Betapa bahagianya Li Phin. Ia benar-benar melupakanku!" batinnya getir, "aku telah berjanji akan selalu menemani dan melindunginya," lanjut batinnya melesat menjauh kala Jang Min mengecup bibir indah Li Phin.


Sementara jiwa Li Phin sendiri pun pergi entah ke mana menjauh dari Dara dan Jang Min.