Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Hot Cat


Dara melihat Liu Min dengan penuh perasaan, "Tapi aku tidak boleh terlalu bahagia, si Buaya ini, terkadang buat kesal saja!" batin Dara keki.


Dara dan Liu Min masih saling pandang, "Memang di dalam bayanganmu, aku sedang bercinta begitu?" tanya Dara dengan perasaan yang campur aduk antara marah yang ingin meninju Liu Min dan tertawa terbahak-bahak.


"Ya, begitulah! Maaf, aku sendiri tidak tahu mengapa bayangan itu muncul begitu saja?" balas Liu Min pelan dan merasa sangat malu. 


Ia tidak menyangka jika dirinya bisa berhalusinasi hal yang tidak wajar, "Apakah kamu mengenal pria itu?" tanya Dara penasaran.


"Tidak! Jika aku mengenalnya aku akan mematahkan batang lehernya!" balas Liu Min cepat.


"Wow, mengapa demikian? Memang kamu marah jika aku bercinta dengan pria lain? Apakah kamu mencintaiku?" pancing Dara dengan tersenyum menggoda.


Liu Min tercekat ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan demikian, "Aku … hanya ingin melindungimu saja, tidak lebih." Liu Min berusaha untuk mengalihkan pembicaraan wajahnya sedikit merona.


"Oh, begitu!" balas Dara dengan tersenyum manis.  


"Dara, um, menurutmu … apakah sebaiknya kita tidak menyelidiki awal mula kasus yang sedang kamu tangani sebelum kamu koma?" tanya Liu Min penasaran menatap wajah Dara yang masih memandangnya.


"Aku rasa boleh juga, tapi aku tidak tahu perkembangan kasus itu selanjutnya, selama setahun sku koma," balas Dara jujur. Ia sendiri tidak tahu harus memulai segalanya dari mana.


Ia merasa segalanya semakin membingungkan dengan hadirnya Liu Min dan Danu menugaskan Jalik Nasution. Ia merasa banyak hal yang sedang terjadi, "Aku tidak tahu bagaimana dan harus apa?" batin Dara berusaha untuk memutar otaknya.


"Aku berpikir jika kita memulai dari sana, kita akan menemukan titik terang dari semua kasus ini. 


"Hanya saja, kita sedikit sulit untuk menghubungi orang lain. Sebaiknya kita membeli laptop dan ponsel agar memudahkan kita untuk menyelidiki segala hal," ucap Liu Min, "dan berhubungan dengan apa yang kita cari," lanjut Liu Min memberikan usul.


"Baiklah, siang ini kita akan mencoba untuk ke kota, sekalian membeli apa yang kita butuhkan. Selain kita menyelidikinya kita juga butuh makan.


"Dulu kami menyelidiki gembong narkoba berasal dari Meksiko, di sini kaki tangannya Rocky dan kami berhasil menangkapnya.


"Sebelum kematian Rocky di lapas, laporan lapas mengatakan, 'Jika dia bunuh diri,'. Namun aku merasa ia telah dibunuh oleh kelompoknya sendiri yang tidak ingin semua sindikat mereka terbongkar. 


"Rocky sempat menggenggam secarik kertas dengan nama Pablo Sandez, kami ingin menyergap transaksi yang dilakukan oleh kaki tangan Pablo dan Zacky di perkebunan tebu.


"Dan aku berhasil menembak Zacky akan tetapi Jimmy menembakku," ujar Dara mengenang semua itu.


Dara mencengkram sendoknya dengan amarah dan rasa dendam kepada Jimmy, "Jika aku bertemu dengan Jimmy aku 'kan menyeretnya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang dilakukannya," lanjut Dara Sasmita.


"Jadi tidak ada petunjuk lain lagi? Ya, ampun! Kita akan mudah dihabisi dan diburu, seperti kelinci yang sangat mudah untuk digiring mereka, ke dalam suatu perangkap.


"Dan sekarang mereka dengan santai melihat kita seperti binatang buruan," balas Liu Min. 


Ia masih menyuap makanan terakhir dari piringnya, "Apakah selama setahun ini kalian tidak memiliki petunjuk?" tanya Dara menatap ke arah Liu Min.


"Kami hanya mendapatkan semua perdagangan narkoba mengarah kepada Pablo. Namun aku tidak yakin jika hanya pablo yang menangani bisnis besar ini.


Liu Min beranjak dari duduknya dan berjalan membawa piring kotor ke wastafel segera mencuci dan membersihkan semua piring dan peralatan masak yang digunakan oleh Dara.


 "Kamu sebaiknya duduk saja. Biar aku yang membersihkannya. Kamu sudah memasak, alangkah baiknya jika aku yang mencuci piringnya.


"Bukankah itu salah satu dari emansipasi wanita, yang kalian harapkan? Aku tidak ingin kalian akan berkoar-koar nanti! Karena aku sebagai pria tidak menghargai hak itu," ketus Liu Min.


"Wow, kamu manis sekali, Tuan Liu Min!" sindir Dara, yang sudah berada di sisi Liu Min.


"Tentu, saja! Apakah kamu mulai jatuh cinta padaku, Dara?" goda Liu Min mengedipkan sebelah matanya.


"Um, sepertinya …." Dara berbalik menghadap Liu Min mengangsurkan jari telunjuk membelai lengan Liu Min membuat desir gairah aneh mulai merayap di tubuh Liu Min.


Pandangan mata Liu Min semakin nanar, ia merasakan suatu gairah terpendam. Kembali bayangan demi bayangan terlintas dengan kabur.


Buk!


Sebuah tinju mendarat di perut Liu Min dengan pelan, "Jangan menggodaku Tuan Liu. Aku bukan wanita murahan !" umpat Dara


Berjalan meninggalkan Liu Min terperanjat memegang perutnya, "Dasar, Dara!" geram Liu Min. Ia membelai perutnya dan tersenyum, "wanita yang luar biasa! Aku mulai menyukaimu Nona Hot Cat," lirih Liu Min menjuluki Dara sebagai kucing liar yang bergairah tanpa disadari si pemilik.


Sementara Dara pergi ke lantai atas ke kamarnya untuk mandi, namun saat ia membuka lemari ia melihat laptopnya di sana, "Mengapa laptop ini di sini?" batin Dara mengambil dan memeriksanya.


"Yes, pada akhirnya kami tidak perlu mencari ke mana pun. Ponselku juga ada di sini. Apakah Mama yang melakukan semua ini?" batin Dara melamun.


Bayangan Ningrum untuk terakhir kali dilihatnya di balkon, membuat hatinya semakin perih, ia rindu ingin memeluk mamanya.


Bayangan nasehat Ningrum kembali mengusikku, "Boruku, jika menjadi seorang polwan adalah pilihanmu. Aku mendukungmu  Nak. 


"Jadilah pengayom rakyat dan negara. Bukan membuat kesusahan dan menggunakan pangkatmu sebagai kekuatan untuk menindas orang yang lemah!" pesan Ningrum kala pertama kali Dara mendaftar menjadi seorang AKPOL.


"Mama, percayalah aku tidak pernah menggunakan kekuatanku untuk hal yang engkau larang. Aku berjanji, akan membersihkan namaku!" lirih Dara penuh dengan tekad membara.


Ia langsung memakai baju dan menyisir rambut ala kadarnya, "Rambutku sudah terlalu panjang, Wajahku," batin Dara memegang kedua pipinya di depan cermin.


Ia meraih laci di meja rias dan menggunting rambutnya sependek mungkin, "Ini baru nyaman!" ujar Dara merasa tenang.


Setelah setahun terbaring koma itu adalah hal pertama kalinya, ia melihat wajahnya sendiri di cermin  "Aku merindukan wajah ini, walaupun terkadang aku juga merindukan tubuh Li Phin," batinnya, "apakah Danu masih menyimpan novel itu?" lanjutnya penasaran.


Dara turun ke bawah dengan ponsel dan laptop, "Tuan Liu Min! Tuan Liu!" teriak Dara, ia tidak melihat Liu Min di dapur dan di bawah.


"Ada apa?"jawab Liu Min melesat dengan handuk dililit di pinggang, rambut penuh shampo, dan pistol di tangan kanan.