Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Bertemu dengan Jerry


"Tidak akan semudah itu Liu Min!" balas Dara membalikkan tubuhnya dan memberikan jari tengah kepada Liu Min dan berlalu.


"Aw! Liu Min, apa yang kamu lakukan?" pekik Dara kala Liu Min yang terbakar amarah langsung melesat melompati meja makan langsung menarik tubuh Dara dan mendaratkan ciuman di bibir indahnya.


Dara sedikit meronta ingin memukul wajah Liu Min akan tetapi langsung ditangkap oleh Liu Min.


"Aku harap, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan ciuman bibirku, Dara!" ujar Liu Min meninggalkan Dara yang masih terperanjat dengan apa yang dilakukan oleh Liu Min.


"Sialan, kamu brengsek!" hardik Dara langsung meleset ingin memukul Liu Min.


Bruk!


Hingga keduanya terjerembab di lantai dengan posisi Dara di atas tubuh Liu Min dan tangan Liu Min langsung memeluk pinggang Dara.


Dara ingin memukul wajah Liu Min tapi, ditangkap oleh Liu Min, ting!


Sebuah pesan berbunyi laptop, "Dara, nanti kita lanjutkan! Aku rasa ada pesan penting," ucap Liu Min dengan begitu mudah memindahkan tubuh Dara ke samping.


"Pesan dari mana?" tanya Dara sedikit penasaran, ia pun langsung berdiri dan berjalan mendekati Liu Min yang kembali duduk di depan laptop.


"Pablo Sandez?!" lirih Dara.


"Ya, siapa sangka si bajingan ini memiliki basis di Hunan! Jauh-jauh aku berjalan hingga kemari ternyata mereka berada di Hunan," ujar Liu Min.


"Lalu bagaimana kita ke sana? Apakah kamu mau kita menjadi buronan internasional begitu?" tanya Dara mulai kesal dan marah.


"Jangan khawatir! Kamu bilang, jika yang menembak kamu adalah Jimmy bukan? Bagaimana jika kota menculik Jimmy dan memaksanya untuk bicara banyak hal! Aku ingin sekali menghancurkan kepalanya itu!" ujar Liu Min.


"Usulmu boleh juga, kita harus membersihkan nama kita dulu!" balas Dara.


"Baik! Ayo, kita bersiap-siap!" ajak Liu Min.


"Tapi sebelum itu, aku ingin kita pergi ke Diskotik J di Medan, aku memiliki informan di sana!" usul Dara.


"Oke! Mana baiknya sajalah," timpalnya.


Mereka makan dengan diam, malam telah turun hingga mereka kembali mengendarai sepeda motor pergi ke Kota Medan. Doa meminta Liu Min memarkir sepeda motor dan masuk ke dalam diskotik tanpa penyamaran.


"Aku ingin bertemu Jerry!" ucap Dara.


"Jerry?!" si bartender menatap Dara dan Liu Min bergantian.


"Jangan coba-coba menelepon polisi jika kau masih ingin selamat!" ancam Liu Min menodongkan senjata di balik kancing jaketnya sepucuk pistol telah terhunus dengan peredam tanpa terlihat oleh siapa pun seakan Liu Min sedang memasukkan tangan ke kantong bajunya.


"Jerry sudah lama tidak bekerja di sini lagi, kaki dan tangannya sudah cacar dan dia juga sudah bisu," balas Bartender.


"Apa?! Sejak kapan?" tanya Dara tidak mengerti.


"Sejak Anda tertembak dan koma!" balas Bartender.


"Baiklah, di mana aku bisa menemuinya?" ucap Dara.


"Pergilah ke Jalan Gatot Subroto di Daerah Nibung, kamu bisa menemuinya di pusat prostitusi. Biasanya di sana sebagai penyemir sepatu," balas Bartender.


"Baiklah, terima kasih!" ujar Dara menyelipkan uang tips pada bartender.


"Aku harap Anda bisa menangkap dan membunuh penjahat yang sesungguhnya, selain itu selama kembali Komandan Dara Sasmita!" balas Bartender dengan mengedipkan mata.


"Aki melihat dua buronan yang sedang dicari masuk ke diskotik ini!" suara ribut bergema di pintu masuk. Dara sudah mulai meraba pinggang belakangnya bersiap mengambil pistol.


Plup! 


Lampu di seluruh ruangan  langsung padam, "Bu Dara, ikuti saya!" ucap Bartender langsung meraih tangan Dara yang langsung meraih tangan Liu Min berlari memasuki sebuah pintu rahasia di balik lemari minuman sang bartender dan menuju ke sebuah lorong pendek dan langsung tembus ke parkiran.


Dara dan Liu Min berlari diantara gelapnya parkiran dan melesat menuju ke Jalan Gatot Subroto, "Itu daerah prostitusinya. Ayo," ajak Dara.


"keduanya berjalan cepat menuju ke sebuah rumah memberi kepuasan kepada hidung belang.


"Apakah kamu masih mengenali pria yang bernama Jerry?" tanya Liu Min. Ia tidak tahu harus mencari pria yang seperti apa.


"Tenang saja! Aku pasti mengenalnya," balas Dara keduanya langsung memasuki ruangan remang yang penuh dengan wanita cantik berdandan menor, dengan pakaian yang hanya dua lembar menutup aurat.


"Jerry!" lirih Dara melihat seorang pria yang merangkak dengan bertumpu sebelah tangan berjalan dengan kotak semir kecil di lehernya.


"Jerry!" ujar Dara menyentuh bahu Jerry.


"A-aa!" ujar Jerry ingin berkata sesuatu kepada Dara dan Liu Min.


Liu Min langsung membopong Jerry, membawanya ke kursi, "Sebaiknya kita bicara di sana saja!" ajak Jerry dengan menulis di sebuah buku.


Dara membaca sekilas dan mengajak Liu Min ke luar pintu di sebuah rumah kecil, Liu Min mendudukkan Jerry ke sebuah kursi, "Ini titipan seorang bartender, untukmu!" ucap Dara memberjkan sebuah bungkusan sebuah plastik kresek.


"Oh, dari Tommy! Terima kasih!" balas Jerry di sebuah tulisan.


"Jer, aku minta maaf. Jika karenaku kamu mengalami nasib seperti ini," ucap Dara


"Tidak apa-apa, Bu!" balas Jerry tersenyum.


"Siapa yang melakukan semua ini padamu Jerry?" tanya Dara.


"Jimmy dan seorang pria keturunan bermata sipit juga seorang pria keturunan bule. Mereka menculik dan menyiksaku.


"Mereka mengancamku agar aku tidak mengatakan kebenaran jika kalian  menangkap sindikat narkoba bernama Pablo Sandez. 


"Semua berawal aku melihat Jimny bersama dengan sindikat narkoba melakukan transaksi di Diskotik J. Mereka menangkapku yang ingin melaporkan kepada Pak Danu." Jerry menatap ke arah Dara ia turun dari kursi.


Ia meraih sebuah koper dan memberikan kepada Dara, "Aku tidak tahu apa isinya, aku tidak pernah menyiksanya," ujar Jerry.


"Terima kasih, Jerry. Aku akan memeriksanya nanti, aku ingin kamu pergilah ke villa di Brastagi malam ini. Ini kuncinya dan ini pesan yang akan kamu berikan kepada Pak Sembiring," ucap Dara.


Liu Min membopong Jerry dan mengantarkan ke pinggir jalan mengawasi dari balik halte kala sebuah grab membawa Jerry pergi ke villa di Berastagi.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Liu Min kepada Dara.


"Ayo!" ajak Dara menyelempangkan koper di bahunya dan pergi dengan mengendarai sepeda motor melesat meninggalkan halte di Jalan Gatot Subroto.


Mereka mengintai rumah Danu dan melihat beberapa polisi masih menjaga rumah Danu, "Jangan khawatir!" ucap Liu Min. Ia menembakkan obat bius kepada 3 polisi yang menjaga rumah Danu.


Liu Min dan Dara melesat melompati pagar samping dan berjalan mengendap masuk melalui pintu belakang.


Tok! Tok! Tok!


Dara mengetuk jendela dengan kode sandi sebanyak tiga kali dengan gerakan cepat.


Kriet!


"Bu Dara!" teriak Danu.


"Ssst! Apakah istri dan anakmu berada di rumah?" tanya Dara.


"Ya, um … sebaiknya kita melakukan sandiwara saja!" ujar Dara melesat masuk dari pintu dapur dengan cara mendobrak hingga jebol.


"Bu Dara!" pekik Tiara berlari memeluk Dara.