Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Dihadang musuh


Dara mencengkram pedangnya semakin kuat, memasuki jalan berliku ke lereng gunung Sun, ia mencoba melihat dari balik tirai, semua orang mengendarai kuda dengan diam. 


Liang Si menatap ke arah Li Phin, keduanya saling menunduk dan membuang wajah, "Apakah Yang Mulia Permaisuri membutuhkan sesuatu?" tanya Liang Si.


"Tidak Jenderal Liang! Apakah perjalanan masih jauh?" tanya Dara ia sama sekali tidak pernah ke gunung Sun.


"Bukankah dulu Permaisuri sering berjalan-jalan kemari?" sindir Liang Si.


"Oh, sial! Aku lupa bertanya kepada Li Phin mengenai banyak hal, manalah aku tahu jika pernah kemari! Dalam mimpi pun tidak pernah terbayangkan hal ini," batin Dara.


"Dara kami dulu sering pergi ke kaki gunung Sun, Liang Si selalu menemaniku untuk mencari tumbuhan ramuan." Li Phin mengingatkan Dara, Li Phin sendiri merasa ingin membuang kenangan itu di benaknya. 


"Oh, mengapa akhir-akhir ini kita tidak bisa terkoneksi dengan baik, Li Phin?" tanya Dara.


"Aku tidak tahu, mungkin karena kita berada di tubuh yang sama dengan dua jiwa, dan keinginan dan pikiran yang berbeda sekarang. Jika dulu kita memiliki tujuan yang sama.


"Selain itu … aku selalu pergi entah ke mana," alasan Li Phin. Ia malu mengatakan jika dirinya terus membayangi Liang Si ke mana pun Liang Si berada.


"Andaikan Jang min bersama kita," lirih Dara ia sangat merindukan suaminya, "Kasim Tang Ta!" lirih Dara.


Kasim Tang Ta langsung mendekat, "Ada apa, Yang Mulia?" 


"Berhati-hatilah, aku merasa sedikit aneh!" ujar Dara.


"Ya, jangan khawatir Yang Mulia, Jenderal Liang sudah membuat pengawal bayangan di sekitar kita jika ada serangan hang mendadak," ucap Kasim Tang Ta.


Akan tetapi, belum saja Kasim Tang Ta kembali ke tempatnya semula, serangan anak panah langsung menghujam ke arah pedati dan semua pengawal.


Trang! 


Liang Si melesat berusaha untuk menangkis anak panah begitu juga dengan semua pengawal dengan sigap berusaha untuk melindungi permaisuri mereka, "Kasim Tang Ta lindungi Permaisuri!" teriak liang Si bergema.


"Pengawal, lindungi Permaisuri!" teriak Kasim Tang Ta menarik pedang.


Semua prajurit pembuat brigade mengelilingi kereta kuda berusaha untuk melindungi permaisuri Li Phin dan berjuang dengan sekuat tenaga..


Pertempuran semakin sengit para prajurit semakin terdesak, Dara dan Li Phin melihat ke arah Kasim Tang Ta yang sudah terdesak sementara Liang Si harus melawan gerombolan perampok lain yang memakai pakaian serba hitam.


"Apa kita harus ke luar?" batin Dara kehamilannya sudah memasuki bulan ke-7, "aku lagi memakai pakaian seperti ini, akan sulit bergerak!" keluh Dara.


Suara jeritan dan kematian bergema di sekeliling mereka membuat Dara dan Li Phin semakin was-was, "Li Phin aku tahu engkau mencintai Liang Si, tapi aku mohon demi anak kita," ujar Dara.


"Jangan khawatir pewaris Donglang di atas segalanya Dara. Ayo, lakukanlah apa yang menurutmu yang terbaik," ucap Li Phin memberi semangat.


"Ya, kita harus berjuang demi anak kita!" tegas Dara. Ia berusaha melesat ke luar kereta kuda di mana para penyerang mulai menyerangnya si kusir telah terluka di punggung akibat tebasan pedang musuh.


"Hyat! Hyat!" terikan si kusir berusaha untuk menyelamatkan Permaisuri Li Phin. 


Kereta juga terus melesat secepatnya sedangkan Dara terombang-ambing di dalam kereta berusaha untuk mengikat perutnya dengan selendang pemberian Selir Min Hwa.


"Dara apa yang kau lakukan? Itu sangat aneh pakaian dalammu terlihat,'" ujar Li Phin melihat pakaian dalam yang tipis seperti celana panjang terlihat.


"Aku tidak peduli  di zamanku lebih parah dari sini. Ini masih terlihat sangat sopan!" balas Dara. Ia langsung membelitkan selendangnya membuat sebuah celana agar mudah bergerak dan melindungi bayinya.


Kereta kuda terus meluncur si kusir sudah mulai melemah, kuda terus meringkik melesat menjauh, "Jenderal Liang! Tolong, Permaisuri!" teriak Kasim Tang Ta.


"Sial! Aku melupakan Li Phin!" batinnya ia melesat secepatnya mengendarai kuda mengejar kereta kuda Li Phin yang melaju dengan cepat sementara di atas atap kereta kuda. Beberapa perampok masih berusaha untuk menyabotase kereta kuda dan membunuh Li Phin.


"Menyerahlah kau Permaisuri kurang ajar! Kau telah membunuh banyak keluargaku!" teriak seseorang di belakang kereta kuda langsung menebas roda dan kekang kuda membuat kuda terus berlari dan kabin kereta semakin oleng hampir masuk ke jurang.


"Phin'er!" teriak Liang Si melesat secepatnya menarik balok sambungan kereta yang hampir jatuh ke jurang.


"Jenderal Liang!" teriak Dara.


Bayangan hitam ingin menebas tangan  Liang Si akan tetapi ia berusaha untuk menyelamatkan diri dan kereta yang hampir meluncur ke bawah.


"Sial, apa yang membuat kita terjepit di sini?" tanya Dara ingin membuka pintu kereta.


"Seseorang berusaha untuk memaku semua pintu dan atap," terIak Li Phin panik.


"Sialan! Aku akan membunuh siapa yang melakukan ini pada kita!" teriak Dara melesat secepatnya dengan tenaga dalam menembus atap kabin kereta.


Ia melihat Liang Si harus melawan musuh di pinggir jurang dengan sebilah pedang di tangan kanan.


"Bajiangan, kau harus mati!" teriak Dara menarik pedang hijaunya dan melesat membunuh para perampok. Ia benar-benar marah.


"Dara …." Li Phin terperangah ia tidak menyangka Dara menjadi berbeda, dari biasanya ia sudah lama tidak melihat kemarahan di mata Dara semenjak menjadi permaisuri.


Dengan rok yang dibebatkan persis rok zaman modern ia terus memainkan pedang menebas musuh.


"Kalian telah berani mencoba membunuh anakku! Terimalah, ajal kalian!" teriak Dara melesat membabat semua membunuh semua musuh tanpa terkecuali.


Liang Si melesat berusaha untuk membantu Dara, "Permaisuri, naiklah ke punggung kuda!" teriak Liang Si, "ceparkah sampai ke Gunung Sun sebentar lagi!" teriak Liang Si.


Kuda Jang Min Pocia berlari secepatnya mendekati tubuh Li Phin, "Pocia!" teriak Dara melesat dengan pedang di tangan kanannya.


Akan tetapi, ia semakin lemah karena kehamilannya, ia terkulai di atas punggung Pocia dan sebuah anak panah melesat  menembus jantung Li Phin.


Trang!


Pedang Liang Si melesar menghalangi anak panah musuh tersebut akan tetapi anak panah lain mendarat di punggung Liang Si.


"Aaa!" teriak Liang Si melesat mendarat di pelana Pocia menarik tubuh Li Phin yang lemah, "bertahanlah Phin'er demi Jang Min dan anakmu!" ujar Liang Si memacu kuda melewati anak panah.


Pasukan bayangan yang ditempatkan Liang Si langsung menghadang gerombolan perampok yang akan mengejar liang Si ke gunung Sun.


Derap langkah kuda truss menaiki lereng gunung dan berhenti tepat di sebuah Vihara dengan ribuan anak tangga, "Phin'er!" lirih Liang Si.