
"Selir Qin!" teriak Li Sun.
"Hamba Yang Mulia! Maafkan saya, saya memang sering mengunjungi Selir Min Hwa, tapi saya tidak pernah membuat kedua matanya buta, saya tidak akan berani!" ujar Selir Qin Chai Xi dengan berlutut memegang kaki Li Sun, "sampai mati pun kalian tidak akan tahu siapa yang telah membuat Selir Min Hwa buta!" batin Selir Qin Chai Cu.
"Baiklah! Kita akan menanti keterangan dari Selir Min. Pengawal pukul 100 kali Selir Qin yang tidak bisa memberikan kenyamanan dan ketenangan pada semua selir di Istana Persik!" teriak Li Sun memberi perintah.
"Baik, Yang Mulia!" balas si pengawal langsung menyeret Selir Qin ke pelataran untuk mendapatkan pukulan di punggungnya dengan sebilah kayu.
"Selir Min, bangunlah maafkan aku!" ujar Li Sun, "aku begitu marah kala Li Yun meninggal! Aku tidak ingin siapa pun lagi meninggalkanku, aku telah kehilangan Jang Mei dan Li Yun. Maafkan aku Selir Min dan kepadamu Putriku.
"Seharusnya aku sebagai ayah dan suami lebih memahami penderitaan seorang anak yang kehilangan ibunya dan seorang ibu yang kehilangan anaknya," ujar Li Sun menyesali semua perbuatannya.
"Ayah, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, tapi sejak kehadiran Selir Min Hwa aku merasa memiliki seorang ibu. Namun, Ayahanda telah memisahkan kami," ujar Li Phin dengan sebuah kesedihan dan tangisan.
"Maafkan Ayah, Putriku. Aku tidak bisa mengulang masa lalu, aku hanya bisa menebus semua kesalahanku. Aku akan berjanji akan selalu menyayangi putriku dan kamu Selir Min Hwa," ujar Li Sun.
"Terima kasih, Ayahanda!" ujar Li Phin.
"Phin'er … Phin'er!" igauan Selir Min Hwa memanggil nama Li Phin.
"Ibunda aku di sini!" ujar Li phin dan Dara menggenggam tangan Selir Min.
"Hwa'er … bangunlah! Maafkan aku yang tidak pantas menjadi suamimu, Hwa'er!" ujar Li Sun memangku kepala istrinya.
"Suamiku … engkaukah itu? Aku rindu Phin'er! Jangan pisahkan aku dengannya. Suamiku aku tidak membunuh anak kita, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Yun'er!" ujar Selir Min.
"Sudahlah, Hwa'er … Maafkanlah aku! Sembuhlah, siapa yang membuat kamu hingga buta begini?" tanya Li Sun dengan membelai wajah kurus bak tengkorak Min Hwa yang tak pernah terurus kadang mendapatkan makanan dan tidak, ia lebih banyak mendapatkan siksaan daripada makanan.
"Aku tidak tahu! Seseorang datang malam-malam dan melemparkan serbuk padaku, hingga aku sadar aku tidak memiliki mata lagi," ujar Selir Min.
"Apa?" ujar Li Sun dan Dara terperanjat.
Li Phin langsung memeriksa kornea mata Selir Min. Ia hanya melihat seluruhnya menjadi putih, "Ibunda terserang sebuah racun," ujarnya.
"Apa? Aku hanya tahu katarak, sih? Memang bisa begitu?" balas Dara bingung.
"Iya, racun ini sangat langka dan aku sendiri pun tidak tahu namanya," balas Li Phin.
"Jika kamu sendiri tidak tahu namanya bagaimana kamu bisa menyembuhkannya?" tanya Dara bingung.
"Um, besok saja. Aku akan pergi dulu," ujar Li Phin menghilang.
"Woi! Hadeh enak saja nih, orang!" batin Dara masih melihat Li Sun dan Min Hwa saling menggenggam dan bercerita banyak hal.
Dara perlahan meninggalkan kamarnya, ia ingin memberikan privasi kepada kedua orang tuanya. Ia masih memakai baju zirah, ia mendengar teriakan Selir Qin dan pelayan yang mendapat hukuman.
"Apakah begitu banyak pengkhianat di rumah ini?" batin Dara melesat ke atas bubungan melihat semua hal dari atas rumahnya ia melihat bunga persik yang sedang berbunga indah di sekitarnya mengelilingi perumahan Li Phin berbatasan tidak jauh dengan istana kekaisaran Donglang yang sangat megah dan luas.
"Aku seperti sedang menonton film!" batin Dara. Ia meraih seruling Li Phin, "Li Phin begitu pintar mengenai obat dan meniup seruling," batin Dara.
"Phien'er!" ujar Jang Min di pembaringannya, ia langsung mengambil pedang dan melesat ke luar kamar melalui bubungan rumah.
Jang Min berlari dari atap dan dahan-dahan buah peach dan bunga persik memasuki taman istana bunga persik yang dibuat oleh kakeknya Liu Bin untuk putrinya Liu Jang Mei yang tak lain adalah ibunda Li Phin.
Ia melihat Li Phin duduk di atas bubungan masih memakai baju zirah lengkap dengan atribut perang, juga dengan rambut masih tergulung ia duduk di atas atap.
"Hai, istriku! Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Jang Min.
Dara menghentikan tiupan serulingnya dan tersenyum, "Prett! Um, suamiku benarkah pengakuan seorang Putra Mahkota?" tanya Dara tak percaya.
"Ya, begitulah. Memang ada apa? Pemilik sapu tangan yang ada padamu adalah pemberianku, Phien'er," balas Jang Min.
"Apa? Jadi, anak yang memakai baju putra mahkota berwarna kuning itu adalah dirimu, Suamiku?" tanya Li Phin.
"Ya, aku pun beru mengetahui kala kamu memperlihatkan sapu tangan itu, aku kira kamu adalah anak petani atau apalah begitu," balas Jang Min tersenyum.
"Oh," balas Li Phin terdiam.
"Lalu suara siapakah itu?" tanya Jang Min mendengarkan teriakan kesakitan dari belakang rumah Li Phin.
"Aku menyuruh pengawal menghukum Selir Qin dan para pelayan yang berkhianat," balas Li Phin.
"Berkhianat bagaimana?" tanya Jang Min bingung.
"Mereka yang membuat Ibunda Selir Min Hwa buta di Istana Dingin," balas Li Phin.
"Oh, begitukah?" selidik Jang Min, "apakah kamu tidak takut jika Perdana Menteri Qin Chai Xi akan menaruh dendam padamu?" tanya Jang Min.
"Tidak! Bila perlu aku akan membongkar setiap kejahatan yang dilakukan oleh mereka," balas Li Phin.
"Bagus! Semangat Permaisuriku, benar-benar luar biasa," balas Jang Min tersenyum.
"Apa? Permaisuri! Oh, tidak! Suamiku tolong, aku bisa gila nanti," balas Dara langsung berdiri.
"Hahaha, bagaimana mungkin kamu bisa gila? Sementara kamu belum lagi menjalani semua itu, lagian kamu sudah terbiasa tinggal di Istana Persik, bagaimana mungkin kamu tidak bisa dengan mudah masuk ke dalam Istana Utama?" tanya Jang Min bingung
"Hahaha, aku sama sekali tidak dibesarkan dengan gaya kerajaan, aku hanyalah anak yang terbuang, sejak Ibunda Selir Min Hwa dihukum aku sama sekali tidak mendapatkan pelatihan secara benar dan baik untuk menjadi wanita bangsawan," balas Li Phin.
Dara terdiam ia tidak begitu memahami apa yang telah diderita oleh Li Phin. Namun, satu hal yang dipahaminya jika kehidupan masa kecil Li Phin sangat sengsara tanpa kasih sayang dari seorang ayah dan ibu dan ia terasing di istananya sendiri.
"Istriku, aku akan selalu menyayangimu hingga ajal yang memisahkan kita," balas Jang Min.
"Terima kasih, Suamiku! Aku berharap itu benar adanya aku tahu kamu seorang Kaisar bagaimana jika banyak orang dan kerajaan lain yang menginginkan kamu menjadi menantu mereka dengan alasan keamanan dan integritas sebuah negara?" keluh Dara dan Li Phin.
"Sayang, percayalah padaku!" balas Jang Min.
"Andaikan aku tahu dirimu seorang Putra Mahkota, aku tidak ingin menikah denganmu! Lebih baik aku menjadi seorang Jenderal saja," ujar Li Phin dan Dara menatap keremangan malam melihat para prajurit meronda dan membunyikan kentongan untuk berpatroli dengan membawa lampion.