Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Ketenaran seorang Li Phin


Jendral Mongol menatap tajam ke arah Li Phin, "Aku beruntung jika aku bisa membunuhmu! Wanita pendekar, sekaligus seorang permaisuri! Semua orang akan menyanjungku dan menjadikanku pendekar nomor 1 di dunia persilatan," ujar Jenderal Mongol.


"Aku hanyalah wanita biasa yang mencoba untuk menjadi luar biasa! Aku tidak tahu kekuatanku, karena aku percaya di atas langit masih banyak langit. Jadi, aku tidak tahu seperti apa kekuatanku! Selain itu, aku tidak tahu jika aku setenar itu.


"Tapi sebagai putri, adik seorang jenderal, dan permaisuri, aku akan berusaha untuk menghalangi musuh yang mencoba untuk menghancurkan Kekaisaran Donglang dan penduduk!


"Majulah! Jika kamu penasaran denganku! Aku tidak akan pernah mundur," ucap Dara menarik pedang naga hijaunya.


Pendar cahaya hijau mulai menyinari semua arena di bagian benteng Xihe Utara, "Jadi itu pedang yang terkenal itu?" batin Jenderal Mongol menelan ludah.


Ia sedikit gentar, jenderal Mongol tidak menyangka jika Permaisuri Li Phin yang menjadi buah bibir di dunia persilatan memiliki tenaga dalam dan pedang yang luar biasa.


Dara melesat secepatnya menyerang dan menebas musuh di depannya pendar cahaya pedang benar-benar menghancurkan musuh yang ingin mendekatinya hingga terpental dan langsung muntah darah.


Jenderal Mongol dan Qin Chai Jian terpesona dengan segala kekuatan milik Dara, "aku tidak menyangka jika Permaisuri Li Phin benar-benar hebat! Padahal, dulu ia sempat menjadi buah bibir karena dia seorang pelakor.


"Bajjngan! Gara-gara, cinta adikku Jiajia harus meninggal! Aku harus membunuh Li Phin, agar Ibunda Chien Ti'er bahagia dan tersenyum kembali," batin Qin Chai Jian, "selain itu jika aku bisa membunuhnya aku akan mengambil pedang naga hijau miliknya," lanjut batin Qin Chai Jian.


Ia masih berjumpalitan melawan Tan Jia Li hingga sebuah sabetan pedang Tan Jia Li menebas sebelah tangannya, darah merembes membuat Qin Chai Jian murka.


"Aaa! Sialan kau Jia'er! Aku akan membunuhmu!" teriak Qin Chai Jian. 


Qin Chai Jian tidak menyangka jika Tan Jia Li yang terluka berhasil membalikkan keadaan. Qin Chai Jian melihat jika pasukan bala bantuan dari Donglang, Wuling, dan Limen Utara berhasil menyapu pasukannya yang lebih banyak.


"Mengapa aku tidak melihat Kaisar Liu Min. Pria macam apa yang mengirimkan istrinya? Cuih, bisanya hanya bersembunyi di balik seorang wanita!" umpat Qin Chai Jian mengejek untuk mengalihkan Tan Jia Li dan lukanya 


"Aku sudah siap untuk mati! Jadi aku tidak sepenakut dirimu, Jian. Aku tahu sepengecut apa dirimu," balas Tan Jia Li melesat secepatnya ingin membunuh Qin Chai Jian, berulang kali Tan Jia Li menghujamkan pedangnya ke tubuh Qin Chai Jian.


"Kaisar Liu Min aku mengenalnya dari kecil sejak dia berumir 7 tahun, aku tahu dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab tidak sepertimu Brengsek!" ketus Tan Jia Li murka karena Qin Chai Jian yang jauh lebih buruk telah menghina adik sekaligus kaisarnya.


"Apakah Jang Min menganggapmu sebagai seorang kakak? Buktinya dia mengirimmu sebagai penjaga benteng. Memalukan! Pria yang bersembunyi di balik ketiak perempuan!" ketus Qin Chai Jian.


Tan Jia Li melesat ingin menghabisi Qin Chai Jian yang berlumuran darah yang mengucur deras membanjiri seluruh tubuh Qin Chai Jian, tetapi seseorang melesat menyelamatkan tubuhnya.


"Jangan memcoba-coba membunuh putraku!" teriak Chien Ti'er menghalangi Tan Jia Li yang ingin mengejar Qin Chai Jian.


Chien Ti'er mendengus ke arah Tan Jia Li dan melihat sekilas ke arah Li Phin yang begitu gesit melawan musuh dan jenderal Mongol kewalahan melawannya, "Ternyata wanita ini benar-benar luar biasa!" batin  Chien Ti'er murka ia mengingat semua kenangan akan putrinya yang meninggal karena bersaing dengan Li Phin.


Chien Ti'er melesat ke arah Li Phin dengan kekuatan yang luar biasa menghunuskan kipasnya, ia ingin membunuh Li Phin karena dendam atas kematian putrinya.


"Li Phin, awas!" teriak Tan Jia Li berusaha untuk mengejar Chien Ti'er. Namun, Tan Jia Li tak menyangka jika istri dari Qin Chai Xi sekaligus adik dari raja Changsha benar-benar luar biasa hebat.


"Dara, awas!" teriak Li Phin membuat Dara melesat semakin tinggi dan menukik cepat menendang punggung Chien Ti'er akan tetapi ia hanya menebas bayangan saja.


"Sial! Apakah dia ruh sepertimu Li Phin?" teriak Dara bingung.


"Bukan! Dia memiliki kekuatan yang sangat luar hebat. Berhati-hatilah, Dara. Dia lebih hebat dari semua yang hadir di sini. Jangan sampai lengah," balas Li Phin mengingatkan Dara.


"Baiklah! Aku berharap kita masih bisa mengulur waktu agar Jang Min dan pasukan yang lain segera tiba!" balas Dara.


"Ya, kamu benar!" sambung Li Phin, ia masih melihat Liang Si dan Jenderal Tan Yuan Ji menyapu semua prajurit musih di dalam benteng Xihe. Gu Shanzheng sudah mulai bisa berdiri di sisi abangnya Gu Shanfeng dengan ilmu beladiri yang unik. 


"Pangeran Wuling benar-benar tampan semua! Pantas saja mereka terkenal playboy!" ujar Li Phin.


"Ya, ampun! Kamu cinta Liang Si atau sudah mulai berpaling kepada Gu Shanfeng?" ketus Dara, "bukan malah berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari Nyonya Gila ini?" gerutu Dara kesal.


"Wajarlah, aku mengagumi pria tampan! Kalau kamu 'kan tidak mungkin, kamu sudah menikah. Walaupun itu tubuhku," omel Li Phin, "tidak bisakah aku bersenang-senang sedikit?" tanya Li Phin.


"Bukankah kau sudah bersenang-senang dengan Liang Si?" ketus Dara di antara pendar hijau dan kipas perak yang menggelegar.


"Hah! Bayangkan saja bagaimana rasanya jika kamu menjadi hantu lalu berpacaran dengan manusia hidup? Memang aku bisa menyentuhnya? Secara langsung seperti kamu yang menyentuh Jang Min!" kesal Li Phin, "Dara, awas kipasnya aneh!" jerit Li Phin langsung emngambil alih tubuhnya dan menaburkan serbuk kuning.


"Apa itu?" tanya Dara bingung.


"Itu racun! Berhati-hatilah dengan kipasnya yang dapat menyebarkan racun ganas! Beruntungnya Tabib Luo mengajari banyak hal. Jika tidak, kita sudah lama mampus!" ulang Li Phin.


"Kamu memang hebat! Maaf aku kira kamu terlalu sibuk mengagumi pria tampan tanpa mempedulikan keselamatan kita," keluh dan sesal Dara.


"Hah! Kamu kurang sensitif sejak bersama Jang Min. Aku tidak akan menbiarkan tubuhku mati! Um, lagian aku sudah bilang, padamu, kalau aku terlalu ngeri melihat tebasan pedang dan kucuran darah!" ujar Li Phin menatap darah di tubuh Zhang Fuk yang sedang diobati oleh Wong Fei di pinggir area pertempuran.