
"Kamu benar-benar mengerjakan dengan baik, Liang'er …," batin Li Phin memandang Liang Si ke sana kemari mengikutinya bagaikan bayangan di sisi tubuh Liang Si.
***
Sementara Jang Min sudah kembali ke ruangannya untuk mengirimkan pesan kepada para musuh jika ingin berperang dia siap melayaninya, "Kasim Tang Ta, tolong panggil Jenderal Liang Si, aku ingin bertemu dengannya," ucap Jang Min.
"Baik, Yang Mulia!" balas Kasim Tang Ta.
Jang Min mulai berpikir banyak hal, ia sudah merencanakan segalanya dengan matang, "Aku harap, kali ini bisa membekuk pemberontakan aku tidak ingin semuanya menjadi kacau," batin Jang Min.
"Lapor Yang Mulia, Jenderal Liang Si telah tiba!" lapor pengawal.
"Silakan masuk!" ucap Jang Min.
"Salam Yang Mulia Kaisar!" Liang Si mengadakan penghormatan.
"Silakan duduk Pangeran Liang," ucap Jang Min. Keduanya duduk di sebuah kursi dengan meja kecil, seorang dayang langsung menyuguhkan minuman dan makanan ringan.
"Pangeran Liang, besok bertepatan tengah hari akan diadakan eksekusi hukuman Qin Jiajia, aku rasa besok pasti raja Mongol dan Qin Chai Xi tidak akan mungkin tinggal diam.
"Aku sangat yakin jika mereka akan datang untuk menyelamatkan Qin Jiajia, aku sudah meminta semua jenderal untuk melindungi kekaisaran, Chang An dan perbatasan-perbatasan." Jang Min menatap ke arah Liang Si.
"Baik, Yang Mulia!" balas Liang Si.
"Aku hanya ingin, kamu melindungi Permaisuri dan Putra Mahkota, aku tidak ingin kita lengah untuk itu!" ujar Jang Min.
"Baik, Yang Mulia!" balas Liang Si.
Jang Min menatap ke arah Liang Si, "Aku tahu, kamu mencintai Phin'er. Kita berdua mencintainya, aku hanya ingin Phin'er dan Putra Mahkota selamat," ujar Jang Min.
"Baik, Yang Mulia! Hamba akan melindunginya dengan segenap nyawa saya," balas Liang Si.
"Terima kasih, aku percaya kepadamu, Pangeran Liang. Apa pun yang terjadi aku berharap engkau benar-benar melindungi keduanya, bagaimanapun aku ingin tetaplah di samping Phin'er dan Ming jika aku sudah tidak ada di dunia ini Pangeran Liang," ucap Jang Min.
"Yang Mulia, aku sangat yakin jika Permaisuri tidak akan bisa hidup tanpa Yang Mulia. Hamba ingin Yang Mulia dan Permaisuri tetap bersama," balas Liang Si.
"Pangeran Liang, aku tahu … mungkin aku menjadi duri di dalam hubungan kalian berdua, maaf jika aku telah hadir di antara kalian," tukas Jang Min menatap ke arah Liang Si.
"Maaf Yang Mulia, mungkin sudah begini kehendak Dewa," balas Liang Si berusaha lebih berlapang dada menerima keadaannya. Walaupun jauh di dalam hatinya kesedihan telah melanda jiwa.
"Terima kasih, Pangeran Liang. Anda sangat luar biasa, berjanjilah untuk terus berada di sisi Permaisuri dan Putra Mahkota," pinta Jang Min.
"Saya berjanji akan melindungi keduanya Yang Mulia Kaisar!" balas Liang Si dengan ketulusan.
"Maaf, aku meminta terlalu banyak kepadamu!" balas Jang Min.
"Kewajiban saya sebagai seorang jenderal Donglang untuk melindungi Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri," balas Liang Si.
***
Alun-alun di Chang An sudah dipenuhi oleh rakyat Donglang yang ingin menyaksikan eksekusi hukuman gantung Qin Jiajia. Semua prajurit sudah berada di posisi masing-masing dan pasukan pemanah sudah bersiaga di tempat yang tidak terlihat.
"Hukum wanita iblis itu! Hukum dia!" teriak semua orang melempari Qin Jiajia dengan sayuran dan batu-batu kecil.
"Heh! Aku akan mengingat semua perlakuan kalian! Jika aku mati pun aku bersumpah akan bangkit untuk menuntut balas!" teriak Qin Jiajia, "apakah ayahanda dan Raja Shan Shi'er akan menolongku?" batinnya melihat ke arah kerumunan orang berharap salah satunya muncul di sana.
Namun, Qin Jiajia tidak melihat salah satunya di sana, ia menghela napas, "Mungkin sudah takdirku akan mati mengenaskan begini. Jika aku tahu, aku tidak akan melakukan sandiwara konyol ini," sesal Qin Jiajia.
"Tuan Prajurit! Kapan eksekusi hukuman wanita iblis itu?" tanya salah seorang wanita berkerudung. Qin Jiajia terkesiap ia mengenali suara itu yang tidak lain adalah Selir Qin sang bibi yang menggunakan kerudung dan berbaju hitam.
"Saya tidak tahu Nyonya! Belum ada keputusan dari Yang Mulia Kaisar," balas prajurit.
"Memang apa yang sedang Kaisar tunggu lagi?" tanya suara yang tidak lain adalah Selir Chien Cia (Lu Cia).
"Saya tidak tahu Yang Mulia! Mungkin Yang Mulia Kaisar sedang menunggu seseorang atau sesuatu," balas prajurit menatap ke arah wanita yang lain yang berpakaian berwarna merah dengan cadar.
Qin Jiajia tersenyum, "Hahaha, akhirnya mereka datang juga!" batin Qin Jiajia tersenyum bahagia, "sekarang adalah giliran kami untuk menguasai kekaisaran Donglang! Lihat saja, Li Phin kau akan aku bunuh!" batin Qin Jiajia tersenyum bahagia.
Jang Min dan yang lainnya telah tiba di tempat eksekusi dengan beberapa pengawal, "Kaisar Liu Min terlalu percaya diri. Ia tidak memerlukan pengawal untuk melakukan eksekusi, baguslah!" batin Qin Jiajia.
"Yang Mulia, apakah eksekusi akan segera dilakukan?" tanya Algojo.
"Ya, mengingat perdana menteri Zhu Chang masih ditawan oleh musuh, kita akan menunggu mereka untuk membawa perdana menteri Zhu Chang. Jika sampai satu jam lagi mereka tidak muncul lakukanlah eksekusi!" balas Jang Min duduk di salah satu kursi yang disediakan.
"Cuih, apakah kamu tidak tahu jika Perdana Mentrimu sudah mati!" teriak Qin Jiajia.
Semua orang memandang ke arah Qin Jiajia, "Apa?! Jadi perdana menteri Zhu Chang sudah meninggal? Bagaimana kau bisa membuktikannya?" tanya Jang Min menatap ke arah Qin Jiajia.
"Ayahanda dan raja Changsha Chien Fu telah membunuhnya karena Perdana Menteri Zhu Chang tidak mau membuka mulutnya hingga ia rela membunuh dirinya sendiri," balas Qin Jiajia.
"Oh, baiklah jika begitu! Pengawal! Lakukan eksekusi kepada putri mantan Perdana Menteri Qin Chai Xi yang tidak lain adalah permaisuri dari Kerajaan Mongol.
"Ia telah meracuni semua permaisuri kerajaan tetangga dan ingin membunuh Permaisuri Li Phin dan Putra Mahkota. Sehingga ia harus dihukum mati sekarang juga," ujar Hakim Chin Cai.
"Hukum wanita peracun itu! Hukum wanita pengkhianat!" teriakan semua orang menggelegar.
Seorang algojo maju ke depan dengan menyarungkan penutup kepala hitam ke kepala Qin Jiajia dan mengalungkan tali gantungan ke lehernya.
Satu! Dua! Tiga! Kras!
Pintu di bawah pijakan kaki langsung terbuka memasukkan tubuh Qin Jiajia ke bawah hingga ia tergantung dengan bergerak-gerak kesakitan meregang nyawa. Namun, beberapa orang langsung melesat ingin menyelamatkannya.
"Pasukan pemanah!" teriak Menteri kehakiman langsung memberi perintah dan semua warga yang menonton mengeluarkan senjata mereka memanah Qin Jiajia dan beberapa orang yang melesat ingin menolongnya.
Hujan anak panah langsung mengarah ke tubuh Qin Jiajia dan kedua wanita bercadar hitam dan merah membuat kedua wanita tersebut berusaha untuk menyelamatkan nyawa. Mereka menangkis ribuan anak panah yang mulai menghujam ke arah mereka.