Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Penjahat Kelamin


Liu Min langsung memesan makanan dan duduk ia tidak memiliki ponsel untuk menelepon Danu, "Sial! Ponselku hilang. Apa yang harus aku lakukan?" batin Liu Min, "jika aku menggunakan telepon hotel mereka pasti bisa melacak kami," lanjut batin Liu Min termenung.


Liu Min mengetahui Indonesia sudah memiliki alat canggih untuk melacak semua hal dan seakurat mungkin. Liu Min tidak menyangka jika negara yang pernah tidak diinginkannya benar-benar sangat maju dan modern.


Ia masih menanti Dara selesai mandi, "Di mana-mana jika perempuan mandi sangat lama! Menghabiskan  air dan sabun," dengus Liu Min. 


Ia mengetahui hal itu karena berkat kedua orang tuanya ia memiliki dua adik perempuan, "Aku harap Jalik Nasution benar-benar polisi yang baik bukan korup," batin Liu Min.


 "Mandilah Tuan Liu, aku rasa bau badanmu sudah sangat mengerikan sekali!" tukas Dara mengingatkan Liu Min.


"Ya, makanlah! Sudah aku pesankan," balas Liu Min langsung mengambil paper bag-nya dan membawa ke dalam kamar mandi.


"Padahal dialah yang sangat lama menggunakan kamar mandi ini," omelnya langsung mencukur kumis dan jambangnya.


Setengah jam kemudian, Liu Min sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk berada di leher dan sedang mengeringkan rambut, Dara menatap ke arah Liu Min.


Deg! Deg! Deg!


"Hadeh! Mengapa Liu Min masih terlihat sangat tampan?" batin Dara kesal, ia menggigit bibirnya, "Emak … nasibku tragis banget, sih?" batin Dara mengeluh.


Dara masih membandingkan Liu Min di kehidupannya bersama dengan Li Phin dan yang berada di depannya, "Mengapa bisa dua orang yang berbeda waktu, tempat, dan zaman masih bisa terlihat begitu sama? Tidak ada yang berbeda di antara keduanya.


"Apakah Liu Min yang ini memiliki tanda bulan sabit di telapak tangannya?" batin Dara mengingat kenangan bersama suami masa lalu.


Ia mengalihkan pandangan ke arah tempat tidur, seketika bayangan romantis dan panasnya malam yang pernah mereka lalui di zaman antah berantah mulai mengusik.


Wajah Dara menjadi merah padam semerah kepiting rebus, ia menjadi sangat malu. Ia mulai gelisah di tempat duduknya sambil menyantap nasi dan lauk pauk yang dipesankan oleh Liu Min.


 


"Ya, ampun! Aku baru sadar jika aku dan Liu Min di kehidupan ini bukanlah suami-istri?


"Ini benar-benar bahaya! Aku harus mencari kamar lain," batin Dara menyadari ketololannya, ia tidak menyadari jika mereka bukanlah di kehidupan dunia Li Phin.


Dara menyelesaikan makannya secepat kilat membuat Liu Min mengerutkan dahi, "Apakah karena setahun kamu tak makan, sehingga membuatmu seperti kesetanan? Kamu mirip sekali dengan para iblis yang ingin mencuri makanan dari tempat sesaji!" hina Liu Min.


"Apa kau bilang? Itu tidak sopan, sama sekali! Lagian ada yang mau aku kerjakan," balas Dara kesal.


Ia langsung meletakkan piring dan berjalan cepat ke arah pintu untuk menemui resepsionis, "Mbak saya mau pesan kamar lain lagi!" balas Dara, di depan wanita cantik berhijab.


"Maaf Mbak, semua kamar sudah kosong. Lima menit yang lalu baru saja di-booking oleh tamu, Mbak!" balas resepsionis.


"Hah! Apakah tidak ada gudang atau apa gitu kek? Kamar mandi juga boleh deh!" ucap Dara penuh pengharapan dan mulai kehabisan akal.


Baginya saat itu yang penting dia dan Liu Min tidak sekamar lagi, "Apes deh! Jadi, aku harus sekamar dengan Liu Min malam ini," batinnya galau.


"Maaf, Mbak! Sangat tidak etis jika kami menyediakan kamar seperti itu kepada tamu. Lagian, gudang sudah penuh dengan peralatan dan barang-barang.


"Ya, baiklah!" balas Dara tidak tahu lagi harus bagaimana, "sial, malang sekali! Aku harus bagaimana ini?" batin Dara kebingungan.


Ia berjalan menyusuri tangga darurat menuju atap hotel ia melihat jalanan Kota Medan sangat ramai dan penuh dengan hiruk-pikuk, klakson, dan hingar bingar suara.


"Ingin rasanya aku melesat jauh ke bawah dan tak ingin bangun lagi," umpat Dara kesal.


Ia masih duduk di pembatas gedung dengan kaki diletakkan di luar gedung menggantung di udara, "Jimmy, kamu benar-benar sialan!" batin Dara menatap langit.


Ia mulai mengingat banyak hal sebelum kejadian naas yang membuatnya koma dan menghantarkannya berpetualangan dan berkenalan dengan bagian belahan jiwanya.


"Aaa! Seharusnya aku tidak sebodoh itu! Bagaimana mungkin Jimmy bisa menembakku? Salahku dimana?" batin Dara mulai mengingat banyak hal 


Namun, Dara masih tidak bisa melihat dan mengoreksi apa yang telah terjadi kala di perkebunan tebu tersebut. 


Malam semakin larut, "Apes banget, masa aku harus menginap di atap? Hadeh, mau tidak mau aku harus kembali," batin Dara.


Ia berjalan gontai menuju ke kamar mereka, perlahan ia membuka pintu ia mendapati Liu Min telah tertidur dengan angkuhnya di tengah tempat tidur.


"Bajingan ini benar-benar tidak punya hati!" umpat Dara kesal, "bagaimana mungkin dia tidak menyisakan tempat untukku? 


"Seharusnya sebagai pria dialah yang mengalah dan tidur di soda saja," batin Dara mau menendang tubuh Liu Min dari atas tempat tidur.


Namun, kala ia mendekat dan bersiap-siap ingin mendorong tubuh Liu Min, "Kasihan, sekali! Dia pasti sangat letih. Ah, Liu Min, sangat tampan jika tidur begini. Oh, Sayang aku rindu padaku …." lirih batin Dara.


Ia masih menatap wajah Liu Min seketika hatinya tersadar, "Bajingan ini, bukan suamiku. Dasar, kampret!" umpat batin Dara langsung mengambil bantal dan guling.


Ia berjalan menuju sofa dan langsung tidur di sana, ia tak lagi peduli, jiwa, dan raganya benar-benar lelah.


Sementara Liu Min memperhatikan apa yang dilakukan Dara dengan diam, dia sudah berulang kali mengawasi Dara yang meminta kamar baru dan duduk di atap.


"Kasihan, sekali! Apakah ia berpikir aku akan berbuat tidak senonoh padanya? Jelek banget pikiran gadis ini.


"Apakah aku terlihat persis seperti penjahat kelamin? Hilang deh, harga diriku!" batin Liu Min kesal. 


Liu Min masih menanti dan mengawasi Dara sehingga Dara ingin kembali ke tempat tidur, "Sebaiknya aku berpura-pura tidur saja. Apa yang akan dilakukan gadis ini? Xixixi," Liu Min menyeringai persis serigala kepada gadis tudung merah.


Ia merasa jika Dara mulai mendekat dan mengambil bantal dan guling  berbaring di sofa, "Apakah Dara sudah tidur?" batin Liu Min.


Perlahan ia berjingkat turun dari tempat tidur ingin melihat wajah Dara, "Ish, jijik banget! Gadis ini, cantik-cantik ileran! Ckckck," batin Liu Min.


"Liu Min …." lirih Dara.


Liu Min langsung mundur, bruk! Liu Min terjengkang ke belakang.


"Sialan, gadis ini, bukan hanya di waktu sadar membuat kacau, di alam bawah sadarnya pun juga membuatku babak belur!" batin Liu Min mengusap bokongnya yang terhempas ke lantai.