
"Qin Jiajia! Bertahanlah!" ujar Selir Qin menghampiri keponakannya, Trang! Ia kembali menangkis serangan anak panah yang mengarah kepadanya, "bajingan! Kalian telah menjebak kami! Qin Jiajia! Jiajia!" teriak Selir Qin berusaha untuk membangunkan Qin Jiajia yang masih berayun di tali gantungan..
Selir Qin bersusah payah menghampiri Qin Jiajia untuk memutuskan tali di lehernya, akan tetapi ia tak juga memiliki kesempatan, saat ia berhasil memutuskan tali gantungan dan melesat membawa tubuh Qin Jiajia.
"Qin Jiajia bangunlah! Jangan membuatku semakin takut! Kita akan pulang ke Gunung Kunlun," hibur Selir Qin. Namun Qin Jiajia tetap tidak bergeming.
Selir Qin melesat ingin meninggalkan arena pertempuran, tetapi anak panah terus menghujam ke arahnya. Ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk keluar dari pertempuran dan jebakan yang digunakan oleh Jang Min.
"Bajingan! Kaisar Liu Min benar-benar telah membaca setiap gerakan yang telah kami lakukan. Aku tidak menyangka jika kami harus gagal kali ini," batinnya cemas.
Sementara Qin Jiajia sudah meninggal akibat eksekusi dan panah yang menembus jantungnya, "Biadab! Para rakyat yang menonton ini ternyata adalah prajurit yang menyamar!" umpat Selir Qin. Ia menyadari jika yang menyerang mereka tak lain adalah penduduk yang menyaksikan eksekusi yang memakai pakaian rakyat jelata.
Mereka menyembunyikan pedang di balik jubah mereka, "Andaikan aku tahu aku tidak akan sebodoh ini, melakukan penyusupan dengan memandang rendah mereka. Akhirnya akulah yang terpojok!" batin Selir Qin.
Ia masih terus memutar pedang berusaha melindungi dirinya dan Qin Jiajia di punggung. Di sebelahnya Lu Cia atau Selir Chien berusaha untuk membantunya keluar dari kepungan para prajurit yang terus menghujani mereka dengan anak panah.
"Bajingan, kau Liu Min! Aku akan mengingat semua perlakuanmu, Jahanam!" teriak Selir Chien.
"Selir Chien! Akhirnya kau menampakkan wajahmu, oh bukan, kau adalah putri Lu Dang, Lu Cia bukan? Kau telah berhasil menipu semua orang selama ini. Hingga Ayahandaku pun terkecoh.
"Sekarang saatnya Dewa memutar balikkan fakta, sehingga kalian pun harus mati terbunuh!" balas Jang Min berteriak di atas kursinya.
Ia hanya melihat dan mengawasi jalannya pertempuran saja, ia tidak ingin turun tangan. Ia begitu malas harus bertarung dengan wanita, sehingga ia hanya mengawasi jika Selir Qin dan Selir Chien melakukan kecurangan dengan menyebarkan racun.
Akan tetapi Tabib Luo sudah mengantisipasi segalanya sehingga semua racun yang ditaburkan oleh kedua selir tersebut tidak lagi berpengaruh.
"Aaa!" sebuah panah langsung mengenai bahunya ia merasa panah tersebut mengandung racun, "sial, mengapa mereka menggunakan racun? Apakah mereka telah beralih menggunakan racun yang kami buat?" batin selir Qin bingung ia masih terus bergerak menangkis anak panah.
"Kakak Chu! Bagaimana keadaanmu?" tanya Lu Cia (selir Chien).
"Aku terluka! Cobalah untuk kabur! Sepertinya bala bantuan tidak akan datang mereka sudah dihadang di perbatasan Kota Chang An!" teriak Qin Chai Chu.
Keduanya melesat ke angkasa meninggalkan pertempuran akan tetapi ratusan anak panah telah mendarat di tubuh ketiganya, "Aaa!" teriakan Selir Qin dan Lu Cia bergema keduanya limbung jatuh ke bumi akan tetapi Lu Dang langsung melesat menyelamatkan ketiganya dengan kabut hitam.
"Panah terus mereka!" teriak Jang Min melesat menarik pedangnya berusaha mengejar Lu Dang.
"Lindungi Kaisar!" teriak Jenderal Tan Ji.
Semua prajurit yang memiliki ilmu beladiri yang lumayan hebat melesat mengejar Jang Min untuk melindungi mereka. Namun, mereka kehilangan jejak, " Sialan! Lu Dang benar-benar hebat!" umpat Jang Min.
Anak panah yang menerjang ke arah Lu Dang jatuh kembali ke tanah tanpa berhasil melukainya, sunyi senyap mencekam.
"Kembali ke posisi! Aku tidak ingin ini hanyalah pengalihan saja!" teriak Jang Min.
***
Sementara Lu Dang langsung membawa ketiga wanita yang terluka dengan kekuatannya kembali ke Gunung Kunlun.
"Paman Lu Dang! Bagaimana keadaan putriku?" tanya Chien Ti'er (istri Perdana menteri Qin Chai Xi)
"Aku tidak tahu. Ayo, bawa mereka! Sepertinya mereka terluka parah," balas Lu Dang dengan dingin dan wajah mengeras menahan amarah. Ia melihat jika Lu Cia putrinya dan Selir Qin sudah menghitam akibat racun perontok sukma miliknya.
"Aku tidak menyangka jika jenis racun hebat yang aku ciptakan sendiri, akan membunuh anak keturunanku!" batin Lu Dang, "siapa yang telah berhasil menguasai dan menciptakan penawarannya? Aku hanya tahu jika Nona Zhang Mei yang bisa melakukan hal itu.
"Tapi, dia sudah lama tak terlihat di kancah persilatan. Apakah dia benar-benar memihak kepada Kaisar Liu Min? Wanita sialan! Setelah ia menolak cintaku, dia pula yang menjadi musuhku, sekarang!" lanjut batin Lu Dang marah.
Ia masih terus berupaya mengobati Selir Qin dan Chien, ia terperanjat mendengar teriakan dari Putri Changsha yang tak lain istri dari perdana menteri Qin Chai Xi yang menangis histeris.
"Putriku! Putriku, Jiajia! Bangun, Nak!" teriak Chien Ti'er menggoyang tubuh Qin Jiajia yang sudah tewas.
Lu Dang langsung memeriksa tubuh Qin Jiajia, "Jiajia telah tewas akibat racun dan anak panah serta tali gantungan," lirih Lu Dang.
Ia menarik napas perih ia tak menyangka jika akhir kehidupan dari salah satu cucunya banyak yang meninggal di tangan Kaisar Liu Min dan Permaisuri Li Phin.
Semua orang berdatangan kembali ke Gunung Kunlun, "Ibunda! Apa yang terjadi dengan Jiajia?" tanya Qin Chai Jian melihat adiknya sudah terkapar dengan bersimbah darah dan tubuh menghitam.
"Jian'er mereka telah membunuh Jiajia-ku!" teriak histeris Chien Ti'er menangis tersedu di dalam pelukan Qin Chai Jian.
"Apa? Apakah mereka yang menyusup telah gagal? Lalu bagaimana dengan pasukan Mongol dan Changsha?" tanya Qin Chai Jian menatap ke arah Qin Chai Xi, Chien Fu, dan Lu Dang.
"Kita belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun jika Selir Qin dan Selir Chien pun gagal kemungkinan memang mereka telah merencanakan jebakan.
"Itu berarti pasukan Mongol dan Changsha juga gagal menyusup, kita akan menantikan berita selanjutnya. Aku akan mengobati Selir Qin dan Selir Chien," ujar Lu Dang, "maafkan aku Chien Ti'er aku terlambat menyelamatkan putrimu. Aku terjebak di pertempuran di perbatasan Kota Chang An," lanjutnya.
"Sabarlah, Sayang! Aku juga tidak menyangka jika Jiajia harus mengalami kejadian ini," balas Qin Chai Xi.
"Aku benci, hal ini. Kau harus membalaskan dendam atas perlakuan Kaisar Liu Min dan Permaisuri Li Phin. Kau harus berhasil membunuh keduanya," balas Chien Ti'er di antara isak tangisnya.
"Percayalah, aku akan membalaskan rasa sakit hati ini. Aku tak akan menyia-nyiakan pengorbanan putri kita," balas Qin Chai Xi.
"Ibunda, percayalah aku pun tidak akan membiarkan mereka berbahagia di atas kematian adikku! Aku akan menuntut balas," timpal Qin Chai Jian.
"Kita harus berembuk kembali, aku merasa jika kita harus berperang. Jika tidak aku sangat yakin, Kaisar Liu Min beserta sekutunya tidak akan membiarkan kita semua bebas!" balas Lu Dang.
"Baiklah, kita akan menantikan raja Chien Fu dan Shan Ti'er," ucap Qin Chai Xi.