Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Penyelamatan


"Lapor Kakak Seperguruan! Semua sudah beres, kalian bisa terus maju,  kami 'kan membawa semua pasukan dengan cara mengendap-endap!" lapor Gu Akim.


"Baiklah! Berhati-hatilah, aku tidak ingin menjelaskan banyak hal kepada guru dan kekasih kalian!" pesan Jang Min.


"Terima kasih, Kak! Mari, Kakak Ipar!" ajak Gu Akim dan Gu Shien melesat sejauhnya.


"Suamiku, apakah kita akan bergerak sekarang?" tanya Dara.


"Tentu saja! Apakah kamu lelah?" tanya Jang Min penuh perhatian, Li Phin tersenyum seraya melayang ke udara seakan ia memiliki sayap.


"Ayo, turun! Jangan besar kepala, malah di kepalamu sudah terlalu banyak bunga bangkai!" ejek Dara tersenyum.


"Halah, kamu juga senang!" balas Li Phin tak peduli.


"Aku tidak lelah suamiku! Ayo, aku juga sudah rindu pada ayahanda," balas Dara menutupi rasa bahagianya, "benar kata orang, 'Cinta bisa mengubah sikap sekeras batu menjadi selembut roti,' sialan! Bisa-bisanya aku terjebak dan jatuh cinta di dunia aneh ini?" batin Dara. 


Namun, dia terus melesat menembus malam berusaha untuk mengimbangi Jang Min bergerak sangat cepat. Mereka melihat di depan sana Jenderal Tan Jia Li, Li Sun, Liang Si, dan semua prajurit juga pasukan tentara Bayangan Naga Hitam sudah diikat dengan dua keping papan di bagian leher dan tangan di samping kepala dengan lubang tempat kepala dan tangan juga rantai di sekujur tangan dan kaki. 


Sanggul rambut Tan Jia Li sudah lepas rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajah cantiknya, begitu juga rambut putih ayahhanda Li Sun, dan rambut hitam milik Liang Si begitu juga dengan semua orang.


"Zaman ini mengerikan, tanpa adanya hukum dan pengadilan mereka langsung menghukum siapa yang menurut mereka bersalah tanpa menimbang rasa semua perjuangan yang telah mereka lalui untuk kejayaan kekaisaran dan penduduk," batin Dara.


Cahaya temaram obor di sekeliling mereka semua orang telah jatuh bersujud di atas kedua kaki mereka yang berdarah, di depan mereka tali gantungan telah menanti.


Dara sudah mengepalkan tangan, Jang Min menyentuh tangan Li Phin dan menggelengkan kepala, "Sabarlah!" bisik Jang Min tepat di telinga Li Phin membuat Dara dan Li Phin sedikit berjengit, hampir saja ia terjatuh dari dahan, untung saja Jang Min menarik tubuh Li Phin hingga ia merapat ke dalam dekapan Jang Min.


"Jangan lakukan itu, jika di saat genting begini!" bisik Dara di telinga Jang Min. 


"Kamu juga jangan, ada sesuatu yang bergerak di bawah sana," balas Jang Min.


Dara dan Li Phin mengerutkan kening ia merasakan sesuatu menonjol di sana keduanya saling menelan ludah, "Dasar, si omes! Perlu dibanting ini orang!" batin Dara  dan Li Phin berbarengan.


Keduanya saling membuang pandangan, Dara melesat sedikit memberi jarak pada tubuh mereka, matahari mulai muncul di Ufuk Timur Jang Min dan Dara melihat ketiga orang di depan mereka di sebuah anjungan kayu yang mirip podium mengangkat wajah mereka menatap ke Ufuk Timur. Dara melihat semua orang melakukan  sembahyang kepada Dewa Langit dan Tanah.


"Tunggulah Ayah, Kakak Jia dan Liang Si. Sial, mengapa kita harus menyelamatkan pria jahat itu?" batin Dara kesal.


"Sudahlah Dara. Kita juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimanapun dia adalah teman semasa kecilku dan setia kepada Kekaisaran Donglang dan kepada sahabatnya, Bagaimanapun dialah pria pertama yang aku sukai," ujar Li Phin bijak.


"Ya, kamu benar!" balas Dara.


Tepat hampir tengah hari semua petinggi kekaisaran berkumpul tapi tidak ada perdana menteri Qin Chai Si dan Kaisar Liu Fei.


"Sepertinya mereka orang-orang Qin, Mongol, dan Changsha? Apa yang sudah terjadi?" tanya Dara.


"Konspirasi! Jika mereka berhasil melenyapkan mereka bertiga secara otomatis Kekaisaran akan lemah!" balas Jang MIn.


Keduanya masih melihat ke arah depan mereka, "Titah dari Kekaisaran Liu Fei, Pengkhianatan dari Jenderal Li Sun, Jenderal Tan Jia Li, dan Pangeran kedua Liang Si dari Kerajaan Limen Utara yang berkomplot dengan pemberontak ingin menggulingkan Kekaisaran Donglang. 


"Hidup Yang Mulia Kaisar Donglang Liu Fei!" balas semua orang.


"Apakah kau mengakui jika kau bersalah Jenderal Li Sun?" tanya Seorang pengkhianat dari Kekaisaran Donglang Tuan  Man Thien.


"Aku tidak pernah berkhianat sepertimu Man Thien! Lebih baik aku mati daripada menjadi penghianat!" ujar Li Sun, "cuih!" lanjut Li Sun berludah tepat di wajah Man Thien.


Buk! Buk!


Seorang algojo memukul punggung Li Sun, "Yang Mulia Jenderal!" ujar semua orang yang memihak padanya.


"Jenderal Tan Jia Li, apakah kamu mengakui jika kau berkhianat?" tanya Man Thien.


"Tak ada di kamusku kata penghianat Kutu Busuk sepertimu!" teriak Tan Jia Li, ia pun mendapatkan pukulan yang sama di punggung.


"Apakah kamu mengakui jika kau seorang pengkhianat Pangeran Liang Si?" tanya Man Thien.


"Hahaha, kau tanya dirimu sendiri! Kata-kata itu sangat cocok jika ditujukan padamu," jawab Liang Si dari balik rambutnya, ia pun mendapat pukulan di mulut  hingga tersungkur dan muntah darah.


"Sudah hukum saja! Perintah Perdana Menteri Qin Chai Xi," ujar Jenderal Cien Lo salah satu jendral Changsha.


Semua orang ditarik untuk berdiri dan dibuka penjepit papan di leher dan tangan mereka tinggal rantai, kepala mereka dimasukkan ke dalam simpul tali untuk digantung. Semua telah dikalungi oleh tali tambang tersebut tinggal menunggu aba-aba.


"1,2,3 laksanakan!" teriak Man Thien.


Brak!


Semua algojo menarik tuas untuk membuka papan di bawah kaki untuk tubuh bagian bawah mereka yang jatuh ke kolong podium tersebut. Semua orang menggelepar kesakitan untuk meregang nyawa.


Kras! Kras!


Beberapa pisau terbang meluncur ke arah tali gantungan membuat semua orang terjatuh diselamatkan oleh Dara dan Jang Min yang melesat menebas kepala Man Thien hingga putus. Semua prajurit gadungan Donglang langsung menyerang Dara dan Jang Min. 


Kelompok Gu Akim dan Gu Shien, juga Pasukan Tan Yuanji, Limen Utara, dan pasukan yang disiapkan Ratu Li Hun langsung menyerang prajurit gadungan. Jenderal Cien Lo ingin kabur akan tetapi Dara sudah melesat secepatnya menendang punggung Cien Lo di atas kuda dengan ilmu peringan tubuh.


"Jangan seenaknya kau kabur, Bajingan! Apa yang kau mulai belum selesai!" teriak Dara.


"Sialan, kau!" teriak Cien Lo mengambil tombak dan pertempuran terjadi. Dentingan tombak dan pedang naga Li Sun bergema di tangan Dara aura hijaunya berpendar, "Kau! Kau si Li Phin putri Li Sun! Sialan, aku akan membunuhmu! Kau telah membunuh Kakekku!" teriak Cien Lo. 


Ia melesat dari kudanya bergerak cepat ingin memenggal Dara tapi ditangkis oleh Dara. Dentingan semangkin kacau Tan Jia Li, Li Sun, dan Liang Si sudah bertempur di tengah lapangan Jang Min bertempur dengan tentara Qin dan Mongol.


"Jang Min! Dia bagianku!" teriak Tan Jia Li melesat ke arah Jenderal Qin, "Hahaha, kau masih bisa bertarung setelah kau terluka?" ucap Jenderal Qin yaitu Chung Kit Tak.


"Kau tidak akan bisa selamat!" teriak Tan Jia Li ia melompat dengan ganas rambut panjangnya tergerai di tengah pertempuran, ia menyerang Chung Kit Tak dengan dua pedang membuat Chung Kit Tak kewalahan dan terjerembab.