Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 31~Janji Riki


Riki berjalan sembari memperhatikan nomor setiap rumah yang menempel di gerbang. Sudah berjalan sangat lama, tapi ia tak menemukan rumah yang tertulis di alamat yang diberikan Bimo tadi siang.


Kakinya terasa pegal dan Riki sangat kelelahan setelah berjalan sangat jauh. Ia pun duduk di bawah pohon mangga di pinggir jalan.


Tangannya mengibas, lalu mengelap wajah serta lehernya yang berkeringat. "Udah seharian bekerja, rasanya capek banget. Sekarang harus berjalan kaki mencari alamat Kang Bimo," gerutu Riki kesal. "Kakiku rasanya mau copot," desisnya lagi.


Wajahnya menunduk memperhatikan tulisan yang ada di kertas_alamat rumah Bimo. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan yang ternyata area tersebut sepi_tak ada seorang pun yang melintas.


Riki pun kembali berjalan untuk menemukan alamat rumah Bimo sesuai yang tertulis di kertas.


Ketika ia berbelok, ada seorang anak melintas di sana. Riki pun segera memanggilnya untuk bertanya alamat rumah Bimo.


Anak kecil tersebut pun mengangguk pertanda ia mengetahui alamat yang ditanyakan Riki padanya. Riki segera mengikuti langkah kecil anak itu menuju rumah Kang Bimo.


Sesampainya di sana, anak itupun pamit pergi dan Riki segera memasuki halaman rumah Bimo yang luas. Sepertinya Bimo termasuk orang kaya di kampungnya, sebab rumahnya paling besar dan mewah satu-satunya di sini.


Ada dua orang pria yang berjaga di pintu gerbang, sepertinya mereka bawahan Kang Bimo.


Kedua pria itu menyuruh Riki langsung masuk, karena mereka sudah diberitahu akan kedatangan tamu sore itu.


"Permisi. Kang Bimo!" panggil Riki setelah ia mengetuk pintu secara berulang kali.


Seorang pelayan keluar untuk membukakan pintu. Dia tersenyum sopan dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dan mempersilahkan Riki masuk ke dalam rumah.


Mata Riki membelalak sempurna kala pandangannya menyapu ke seluruh ruangan yang luas dengan perabotan yang pastinya sangat mewah.


Riki berdecak kagum dengan seluruh barang yang ada di dalam rumah tersebut. Dia sampai tak berkedip kala melihat patung atau lukisan yang harganya bisa dipastikan sangat mahal.


"Dateng juga lu," suara Bimo mengejutkan Riki yang melamun membayangkan sesuatu.


Riki gelagapan mendengar suara Bimo tepat dibelakangnya. Ia pun lantas menoleh secara refleks, "Eh, Kang. Maaf, aku sedikit terlambat datangnya, soalnya bingung nyari alamat rumah Akang." tutur Riki tak enak_takut Bimo marah.


"Kagak ape!" sahut Bimo sembari terkekeh. Ia pun mengajak Riki untuk ikut bersamanya masuk lebih dalam ke dalam rumahnya yang bagai istana itu. Bimo juga memperkenalkan Riki kepada istri dan para pelayan rumahnya.


Pria paruh baya tersebut mengajak Riki berkeliling rumahnya, mulai dari depan hingga belakang.


Awalnya Riki jengah, males, dan juga ... bosan tentunya. Tapi, setelah kang Bimo berkata sesuatu kepadanya, semangat Riki seperti dipompa_kian membara.


"Ape elu masih sendiri?" tanya Bimo sembari menoleh. Wajahnya menatap serius ke arah Riki.


"Ah, iya Kang. Aku masih sendiri," jawabnya jujur. "Sebetulnya aku pernah menikah, hanya saja pernikahanku kandas setahun yang lalu." sambungnya kemudian.


Riki menunduk tak berani menatap Bimo_takut salah dalam menjawab hingga membuat sang pemimpin preman pasar itu murka. "I-istriku minggat dari rumah gara-gara mengejar pacarnya yang kaya, Kang. Ibuku sampai sakit-sakitan waktu itu karena kasihan melihatku yang terpuruk,"


Bimo mengerutkan keningnya, kemudian menepuk bahu Riki untuk memberikan semangat kepada pria tersebut. "Sabar. Tuhan membiarkan sesuatu pergi, pasti memberikan gantinya yang lebih baik lagi. Asalkan elu kudu berusaha dan berdoa," ujarnya memberi nasihat.


Riki mengangguk perlahan, lalu tersenyum sekilas_terlihat dipaksakan.


Bimo mengajaknya duduk untuk berbincang lebih serius. Ditatapnya dengan lekat wajah pria itu sebelum berbicara. Cukup lama pria paruh baya tersebut mengamati Riki untuk menilai kepribadiannya.


Selama beberapa bulan mengenalnya, Bimo bisa menilai jika Riki adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Semua itu terbukti dengan baktinya terhadap kedua orang tua. Mengurus dan melayani kedua orang tuanya dengan kasih sayang serta penuh hormat. Bimo menyukai Riki dari segi tanggung jawab dan juga kasih sayangnya, hingga ia memiliki niat terhadap Riki.


Ya. Bimo memiliki niat terselubung terhadap panggilannya kepada Riki ke rumahnya. Dia ingin mempertemukan Riki dengan putri bungsunya, dan menjadikan Riki sebagai menantu.


Walaupun Riki bersikap sombong dan arogan, tapi Bimo menyukainya karena ia yakin bahwa sikap Riki semata-mata sebagai bentuk kekecewaan terhadap istrinya yang kabur_katanya.


Padahal, Bimo tidak tahu jika yang bersalah bukanlah istrinya Riki, melainkan Riki sendiri yang senang berselingkuh dan mendapat bayaran setiap kencan. Katakan saja ia adalah lelaki bayaran.


Bimo terdiam sejenak, menyusun sebuah kata-kata yang akan dirangkainya untuk dilontarkan kepada Riki. "Begini, Riki." Bimo mulai membuka suara. "Kalau elu mau, gua bisa bantu kehidupan lu ame kedua orang tua lu." Riki mendongak_terkejut dengan perkataan Bimo. "Asalkan ... lu mau jadi mantu gua. Maksud gua, lu mau ngawinin anak bontot gua. Gimana? Lu mau ape kagak?!"


Tubuh Riki mendadak gemetar_gugup untuk memberikan jawaban yang langsung menohok seperti itu. Pertanyaan Bimo bagaikan peluru yang melesat tepat ke dalam jantungnya, membuat dirinya seperti mati karena di tertembak. "Umm, itu ... aku ..."


Bimo tahu jika pertanyaannya tersebut terbilang spontan hingga membuat Riki gugup. "Elu bisa pikirin dulu baek-baek, Ki! Gua kagak maksa elu buat langsung terima tawaran gua. Tapi, asal lu tahu, gua kagak bakal bohong tentang mencukupi semua biaya hidup lu ame kedua orang tua lu."


Riki mengangguk berulang, meyakinkan diri dan juga Bimo. Dengan lantangnya ia berkata, "Aku percaya sama Kang Bimo. Kang Bimo dan keluarga pasti gak akan bikin kami kecewa. Hanya saja, aku yang takut bikin anaknya Kang Bimo kecewa dan juga malu mempunyai suami miskin kek aku ini." cetusnya lirih.


"Eh, elu jangan minder gitu. Gua kagak menilai elu dari segi kekayaan. Hanya satu yang gua pinta dari lu, yaitu kesetiaan lu terhadap putri gua. Gua pengen dia bahagia, pengen dia seneng hidupnya karena memiliki seorang suami yang sayang ame dia. Lu bisa kan bikin putri gue bahagia?!" Bimo menatap serius Riki yang terlihat diam tanpa ekspresi apapun.


Kedua pria itu terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan perbincangan lagi.


"Aku terima putri Kang Bimo menjadi istri," putus Riki kemudian membuat Bimo gembira.


"Benarkah!"


"Iya, Kang. Tapi, kalian benar-benar menerima keadaan keluargaku, bukan?!" Riki terlihat sedih. "Kang Bimo sudah tahu bukan alasan perceraian dengan istriku. Jadi, aku tak ingin mengalami kegagalan dalam rumah tangga lagi." ujar Riki kemudian.


"Gua janji, anak gua kagak bakal ninggalin elu kek mantan bini lu itu. Asalkan, lu juga janji kagak bakal ninggalin dia,"


Riki mengangguk dengan perkataan Bimo. Ia pun berjanji pada Bimo tidak akan mengingkari janji dan tak kan merusak kepercayaan yang diberikan pria paruh baya tersebut.


...Bersambung ......