
Di tempat lain, Riki dan kedua orang tuanya tengah sibuk mengangkut barang-barang dari mobil pick-up untuk dibawa ke kedai yang ada di pasar.
Ya. Mereka menjadi kuli panggul di pasar Paciweuh, sebab tak ada pekerjaan lain yang bisa ketiganya lakukan.
Mau tak mau Riki rela menjadi kuli panggul demi menafkahi kedua orang tuanya, dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Kini Riki sadar, jika hidup itu harus berjalan terus dan tak boleh berpangku tangan. Ada perut yang harus diisi makanan dan mereka tak mau merasakan kelaparan.
Seperti biasa, Riki maupun kedua orang tuanya beserta yang lain bergegas menghampiri mobil pick-up yang baru datang untuk segera mengangkut barang.
Mereka rela berdesakan dengan orang lain untuk mendapatkan pekerjaan itu demi sesuap nasi.
Kuli panggul yang lain segera menghampiri mobil pick-up pengangkut sayuran yang baru saja tiba di parkiran pasar. Mereka menghalangi Riki dan kedua orang tuanya agar tidak mendapatkan jatah pekerjaan, sebab mereka tak suka kepada Riki dan kedua orang tuanya yang selalu bersikap seenaknya sendiri.
Ketika Riki dan kedua orang tuanya mendekat, kuli panggul yang lain tak memberikan celah untuknya mengangkut barang tersebut. Mereka kompak ingin agar ketiga orang itu tak mendapatkan pekerjaan lagi.
Terjadilah kericuhan antara Riki dan kuli panggul yang lain, perihal pekerjaan. Riki yang tak terima dengan perlakuan mereka, seketika menjadi marah dan mulai menyerang. Tentu saja, tantangan Riki segera diterima mereka dengan senang hati, sebab ini akan menjadi kesempatan mereka untuk menyingkirkan Riki dan kedua orang tuanya.
Preman pasar pun berdatangan untuk mengamankan mereka yang membuat kerusuhan di wilayahnya. Mereka memanggil Riki dan salah satu kuli panggul lain untuk menghadap ketua preman pemegang pasar paciwueh tersebut.
"Dia duluan yang mulai, Kang! Gue mah hanya bekerja," ucap kuli panggul itu.
Riki segera menyanggah. "Bohong! Dia duluan yang mulai, Kang. Saya sama kedua orang tua saya dihalangi untuk mengambil pekerjaan oleh mereka,"
Orang yang dipanggil Akang itu segera berdiri untuk memberikan hukuman kepada yang salah, sesuai bukti yang didapatkan. Ternyata, Riki dan kedua orang tuanya tak bersalah dalam hal ini karena mereka hanya mencari pekerjaan dan kuli yang lain menghalanginya.
Rekaman CCTV yang dipasang paling atas, menampakan kejadian sesungguhnya jika mereka memang sengaja melakukannya.
"Baiklah! Karena bukti sudah didapatkan, gua akan bertindak tegas," ucap Kang Bimo.
Melihat hal itu, kuli panggul tersebut gelagapan dan langsung bersimpuh di kaki Kang Bimo. "Maafin gue, Kang. Akang kan tau kalo gue udah kerja lama di sini dan gak akan buat onar jika mereka bertiga tak mancing duluan," selorohnya.
Kang Bimo mengerutkan kening, begitupun Riki dan kedua orang tuanya. "Apa maksudnya?"
Kuli panggul yang bernama Juki itupun menceritakan semua alasan tentang ketidaksukaan mereka terhadap keluarga Riki, dan Kang Bimo pun mengangguk_menyimak pernyataannya.
"Nah, itu alasan kami melakukannya!" ucap Juki sembari menatap sengit ke arah Riki.
"Tapi saya tidak merasa seperti itu, Kang. Sifat saya memang seperti ini dari dulu," tukas Riki menjelaskan.
"Justru itu. Elu harus berubah sikap kalo ingin bergaul sama orang lain. Jangan sok seperti orang kaya! Dasar kere," hardik Juki.
Riki menjadi geram dengan ejekan Juki. "Kamu!"
Ketika akan terjadi keributan lagi, Bimo segera melerai keduanya. "Cukup! Gua yang berhak memutuskan apa dan bagaimana nasib kalian di mari. Gua ngerti, kalian sama-sama butuh duit buat makan. Sekarang, gua bagi kerjaan kalian semua." tegas Bimo.
Pria paruh baya tersebut bersikap adil dengan membagi kerjaan antara para kuli panggul di sana. Satu mobil pick-up untuk lima sampai enam orang, tidak boleh lebih ataupun berebutan. Mereka harus bergantian agar kebagian jatah pekerjaan untuk bisa mendapatkan uang. Jika ada yang meminta bantuan mereka seperti mengantar barang pribadi, mereka boleh mengambil pekerjaan itu dan yang lain tidak boleh protes.
Keduanya sontak menjawab serempak. "Baik, Kang!"
Seusai sidang dadakan itu, mereka kembali bekerja seperti biasanya. Tak ada yang berani melanggar keputusan Bimo, pengelola keamanan pasar paciweuh itu. Jika ada yang berani melanggar, maka para preman bawahan Bimo akan menendang mereka keluar dari pasar dan tak mendapat pekerjaan lagi.
Pasar paciweuh ini terbilang pasar tradisional terbesar di wilayah ini, dengan luas bangunan setara pasar swalayan. Memiliki tiga lantai dengan banyak ruko atau kedai-kedai di dalamnya.
Pasar paciweuh juga sangat bersih karena terjamin kebersihan dan keamanannya dibawah pimpinan Kang Bimo. Pria paruh baya tersebut sangat ditakuti semua pedagang, maupun pekerja Pemda sendiri.
Bukan tanpa alasan, melainkan Kang Bimo ini sudah dari awal mula didirikannya pasar ini dia yang mengurus semuanya termasuk surat izinnya pula. Dan kini para atasan itu tunduk dan patuh terhadap segala keputusan Kang Bimo.
"Riki!" panggil Bimo kepada Riki yang tengah beristirahat.
Riki segera menghampiri dengan sopan. "Iya, Kang. Ada apa?"
Bimo menepuk bahu Riki sembari tersenyum. "Sepulang dari sini elu mau ke mana?"
"Pulang, Kang." sahut Riki.
Sejenak Bimo melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan pembicaraan mereka tak ada yang mendengar. "Elu mau kagak ke rumah gua? Ada sesuatu yang gua inginkan dari elu," cetusnya tanpa basa-basi.
Riki mengerutkan keningnya penasaran. "Apa itu, Kang? Saya tidak punya apapun untuk diberikan sama Akang,"
"Gua kagak mau harta-benda yang elu punya. Cukup kesetiaan aja," sahutnya.
Riki semakin tak mengerti dengan ucapan Bimo. Ia terdiam sembari menatap serius wajah pria paruh baya di hadapannya.
Bimo tak melanjutkan ucapannya lagi sebab orang-orang berlalu lalang di area tersebut. Ia tak mau yang lain curiga terhadap apa yang sedang dibicarakan mereka. Maka dari itu ia pun pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke kantornya.
Sebelum pergi, tak lupa Bimo menyelipkan alamat rumahnya ke kantong kemeja Riki. Riki mengangguk sopan ke arahnya masih dengan penasaran.
Apa yang dimaksud Bimo dengan meminta kesetiaannya? Apa mungkin Bimo memintanya untuk menjadi pengawal pribadi?
Tidak ... tidak! Tidak mungkin Bimo memintanya menjadi pengawal pribadi, sebab kekuatan dan cara bertarung Bimo lebih dari cukup sebagai ketua preman seluruh daerah Barat. Ia mempunyai skill bertarung layaknya petarung hebat karena Bimo dikenal juga sebagai jawara kampung Babakan.
"Kenapa kamu melamun terus?" tanya ibunya Riki.
"Aku bingung, Bu. Kang Bimo memintaku untuk datang ke rumahnya. Untuk alasan apa, dia tak mengatakannya. Hanya berkata meminta kesetiaan ku saja," jelas Riki.
Ibu dan ayahnya saling pandang kemudian memikirkan kemungkinan apa yang akan dibicarakan Bimo pada putranya.
...Bersambung ......