
Pertempuran semakin heboh, para prajurit hantu mulai mendapatkan lawan mereka yang seimbang. Mereka terus bertempur walaupun berulang kali tewas dan hidup kembali. Para naga mulai menguik di angkasa seakan ingin ikut menyerang prajurit bayangan milik Tan Jia Li.
Sementara cahaya kehitaman terus melesat ke angkasa, Pedang Naga hijau terus berpendar dengan cahaya kehitaman yang menguasainya dan terus bertempur dengan bumerang milik Tan Jia Li.
Kehebohan terjadi kembali masing-masing berusaha untuk menghancurkan musuh mereka. Dara dan Li Phin saling melihat dan tersenyum penuh makna, keduanya merasakan kembali kedekatan mereka.
"Selamat datang kembali di duniaku Li Phin, aku tidak menyangka kita akan bertempur kembali. Semoga kali ini kemenangan berada di pihak kita lagi," ujar Dara, ia melihat ke arah Li Phin yang masih menatap ke arahnya.
"Ya, kamu benar. Kita harus mengakhiri semua perang masa lalu ini, pada dunia kamu. Aku tidak menyangka, kita masih bisa bertemu di zaman ini. Ayo, selesaikan! Aku ingin tidur kembali," balas Li Phin tersenyum.
Li Phin tak ingin kembali ke dunia, ia sudah cukup bahagia di alam berbedanya. Li Phin merasa marah telah terpaksa harus bangkit mengangkat pedang dan menggunakan racun dan kekuatan miliknya.
Keduanya langsung melesat bergerak secepatnya karena para prajurit tidak mengikat mereka di sebuah tiang. Dara dan Li Phin bertempur dengan menerjang beberapa prajurit.
Dara melesat melompat mengambil pedangnya yang sudah dirasuki oleh aura iblis, membuat Dara harus bergulingan di tanah untuk menaklukkan dan menguasai Pedang Naga hijau miliknya.
"Pedang Naga hijau! Aku perintahkan kepadamu, untuk kembali kepadaku!" teriak Dara dengan nada memerintah kepada pedangnya.
Pedang Naga hijau bergetar di dalam genggaman kedua belah tangan darah yang mencoba untuk membantu pedang melawan kekuatan iblis. Dara terus bergulingan mencoba untuk menguasai pedang miliknya. Sementara Li Phin terus melesat menyebarkan racun kepada para prajurit hantu dan juga pengawal Guangzhou.
Li Phin berusaha untuk melindungi Dara dan pedangnya, "Bajingan! Siapa yang telah membangkitkanku dari mimpi indahku!" teriak Li Phin murka.
Ia melesat dengan mudah seakan ia tak lagi berpijak di bumi, Li Phin di dalam tubuh Liu Aching bergerak dengan sebuah kecepatan yang berbeda.
Di sudut lain, Tan Juan bergerak dengan tangan buntung melesat mengambil pedang berlari ke tengah pertempuran membunuh para pengawal bersama Liang Bo dan Luo Kang.
"Serang!" teriak Tan Juan dengan baju zirah milik Li Sun bedanya ia tak memiliki tangan, Ningrum dan si kembar berdoa di balik ceruk dinding batu untuk keselamatan semua teman, anak, dan menantu juga orang tua, paman dan bibi mereka.
Akibat teriakan Li Sun semua prajurit di bawah komandonya di masa lalu, keluar dari portal yang terbuka dari bumi membantunya bergerak membunuh musuh.
"Wah, ini sangat luar biasa!" ujar Liang Bo dan Luo Kang.
Keduanya tidak mempercayai dengan apa yang mereka lihat. Li Sun benar-benar memiliki banyak prajurit.
"Apakah kita juga bisa memanggil semua teman di masa lalu?" tanya Luo Kang, ia ingin semua pertempuran agar segera usai secepatnya.
"Aku tidak tahu, tapi bisa dicoba! Andaikan Liu Min menyadari ini, dia adalah Seorang kaisar, dia lebih memiliki banyak prajurit di masa lalu!" balas Liang Bo.
Keduanya terus bergerak menebaskan tongkat dan pedang ke arah musuh, Liang Bo melihat jika Laksamana Tan Juan begitu lihai di medan pertempuran, ia mengingat samar bayangan jendral Li Sun di zaman dulu yang begitu hebat.
Sementara para naga musuh mulai menyemburkan api ke sana kemari di angkasa mencoba untuk membunuh prajurit bayangan naga dan prajurit di bawah kekuasaan Li Sun.
Liang Bo dan Luo Kang pin memanggil dan memerintahkan semua pasukan masa lalu mereka, hingga prajurit miliknya dan pasukan tabib berbaju putih melesat dari portal akibat dibukanya hubungan portal masa lalu dan masa kini oleh raja iblis.
"Ini adalah pertempuran yang paling tidak masuk akal!" umpat Liu Min.
Suara dentingan pedang bergema, "Bajingan! Aku harus melepaskan diriku," batin Liu Min, ia berusaha untuk membuka jaring emas, kala semua naga sibuk untuk menghalau musuh.
"Kaisar! Perintahkan semua prajurit Donglang untuk ke luar!" teriak Liu Amei pada Liu Min dari sudut lain yang masih bertempur dengan sengitnya.
"Apa?! Bagaimana bisa? Aduh, ada-ada saja!" ujar Liu Min bingung, ia masih saja tidak menyadari kedudukannya.
"Memang bisa? Memanggil seseorang dari Kematian atau masa lalu? Apakah mereka tidak murka?" umpat batin Liu Min, "padahal mereka sudah tidur dengan tenang," keluh Liu Min.
Liu Min berusaha untuk melepaskan ikatan dan jaring emas. Semburan api dan air membahana dari udara, menghalau naga yang yang ingin membunuh para prajurit bayangan naga hitam.
Liu Min melihat portal raja iblis semakin mengeluarkan banyak prajurit yang mengerikan dan hebat yang terus berusaha untuk membunuh kelompok prajuritnya dan menyeret mereka ke portal Raja Iblis Neraka.
"Bajingan! Ke mana mereka ingin membawa prajurit Donglang! Aku tidak akan membiarkannya," geram Liu Min murka, ia langsung menggunakan lelehan jaring emas yang menetes untuk membuka ikatan tangannya di tiang.
"Aaa!" lirih batin Liu Min.
Kala tetesan emas mengenai pergelangannya, ia terus menahannya hingga ia terlepas. Liu Min membuang jaring emas dari tubuhnya dan mengambil pedang miliknya yang tergeletak di tanah.
"Pasukan Donglang! Bersiaplah! Serang! Hancurkan musuh!" teriak Liu Min.
Keajaiban terjadi, Portal tiba-tiba terbuka
Pasukan Wuling, Limen Utara, Luoyang, Shandong, dan semua kerajaan yang bersekutu dengan Donglang bergerak maju bertepatan dengan naga merah dan hijau muncul di angkasa menyemburkan api dan air yang berbentuk kristal menghujam para naga.
Gaokan para naga melesat menyerang Qinglong dan Long Mei di angkasa. Namun, tak satu pun serangan para naga mampu menjatuhkan pasangan naga yang begitu murka.
"Wah! Banyak benar!" ujar Liu Min, ia malah terbengong menatap semua itu.
Liu min tidak menyangka ia hanya berdiri bingung di tengah pasukan miliknya sendiri yang melintas di antara tubuhnya maju dengan teriakan bergema mengerikan dari atas pelana kuda.
"Maaf Kaisar! Kami terlambat!" teriak Gu Shanfeng dan semua putra mahkota dari kerajaan tetangga.
"Ya, terima kasih! Maaf, masih merepotkan kalian! Maaf juga terpaksa membangunkan tidur panjang kalian!" ujar Liu Min, ia merasa tidak enak hati.
Pochia meringkik bersama si hitam yang melesat di barisan paling depan.
Derap langkah kuda dan teriakan semua prajurit Donglang membahana dengan pedang, tombak di tangan juga busur panah trus memasuki arena pertempuran.
"Panah naga di angkasa! Lindungi naga merah dan hijau!" teriak Liu Min.
Liu Min memberi perintah pada pasukan pemanah, membuat ribuan anak panah melesat bak hujan menuju ke arah para naga yang menyerang Long Mei dan Qinglong.
Liu Min langsung menarik tali kekang pochia dan duduk di pelana kuda, ia melesat memasuki arena pertempuran.
Si hitam masih meringkik melesat melompati musuh dengan bayangan arwahnya yang berwarna silver mencari Dara dan Li Phin.
Lu Dang telah bersatu dengan Guangzhou ia begitu murka dengan apa yang terjadi. Sementara Mitzuki ingin kabur dengan pasukan ninjanya.
"Aaa! Bajingan! Mengapa upacara tumbal berdarah ini belum juga usai?" batin Guangzhou kesal.
Guangzhou dan raja iblis neraka tidak menyangka segalanya menjadi berantakan. Sementara di bawah reruntuhan tembok arena Mitzuki dan kelompoknya ingin pergi.
"Ayo, tinggalkan arena aneh ini! Ini bukan urusan kita!" teriak Mitzuki.
"Tapi, Paman!" teriak Quino, ia sudah ingin maju ke medan pertempuran.
"Ini bukan urusan kita lagi," tukas Mitzuki ingin pergi dengan pasukannya.
Mereka bergerak secepatnya ingin kabur tetapi jleb! Sebuah kekuatan menarik Mitzuki dan pasukannya, melemparkan mereka semua ke tengah pertempuran.
"Kau tidak bisa mengkhianatiku Mitzuki!" suara berat Lu Dang bergema dari bawah patung Raja Iblis Neraka yang mulai bergerak.
"Bedebah! Mengapa bisa begini? Ini bukan perang kami!" teriak Mitzuki.
"Hahaha, apakah kau lupa telah memberikan sumpah darah padaku? Setetes darahmu telah mengikatmu untuk menjadi budakku!" teriak Raja Iblis Neraka tertawa bangga.
"Apa?!" Mitzuki terhenyak di tengah pertempuran.
Mitzuki tidak menyangka jika setetes darah yang diberikan olehnya pada Guangzhou telah merubah segalanya. Mitzuki mengingat kala pertama kali bergabung dengan sindikat mafia besar yang digawangi oleh Guangzhou.
Mitzuki diminta oleh Guangzhou untuk memberikan setetes darah sebagai sumpah setia sebagai sahabat yang diteteskan pada sebuah cincin tengkorak di jari manis Guangzhou telah mengikat dirinya menjadi budak iblis yang mengerikan dan tak bisa lagi kabur selain kematian. Bahkan, saat kematian menjemput pun ia masih harus menemaninya ke neraka jahanam.
"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Mitzuki miris, ia tak bisa melawan kekuatan dahsyat dari Raja Iblis Neraka.
Namun, kini ia sudah berada di tengah pertempuran mau tidak mau ia pun terpaksa mengangkat samurainya, berbeda dengan Quino yang begitu bahagia bertempur di tengah serunya suara pedang dan senjata yang beradu memecahkan gendang telinga.
"Hahaha, ayo, kemarilah kalian!" teriak Quino, ia langsung menghajar musuh hingga semuanya jatuh terpenggal tetapi semenit kemudian para prajurit hantu dari kedua belah pihak terus menyatukan kembali jasad mereka dan kembali bertempur.
"Aduh, ngapain aku bertempur dengan hantu begini sih? Mending aku melawan Dara Sasmita atau Lu Min saja," ujar Quino, ia melesat melompat dengan menggunakan kekuatan untuk lari ke arah Dara dengan bertumpu pada kepala-kepala para prajurit hantu yang terus berperang dengan gilanya.
Quino bertemu dengan Liu Aching, "Kamu mau ke mana Nyonya Qin?" teriak Li Phin di dalam tubuh Liu Aching.
"Hei! Siapa yang kau sebut Nyonya Qin? Aku Quino!" ujarnya murka, "enak saja! Aku masih gadis ya?" balas Quino.
"Aku tidak peduli! Aku melihat wajahmu, jika kau adalah Nyonya Qin!" balas Li Phin.