Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Kebulatan tekad seorang Dara


Jang Min memasuki ruangan perawatan bagi prajurit dan penduduk yang terluka, "Bagaimana keadaan Zhang Fuk dan Lin Tao Tabib Luo?" tanya Jang Min menatap kedua prajurit utusan perang yang sedang terluka.


"Mereka terluka parah, kemungkinan besok mereka tidak bisa ikut perang," ujar Tabib Luo.


"Tidak masalah, Tabib Luo, yang terpenting mereka selamat. Sembuhkan saja keduanya. Musuh benar-benar sangat kejam dan licik," balas Jang Min marah. Ia tidak menyangka jika musuh mereka begitu luar biasa kejam.


"Maafkan kami, yang mulia! Kami tidak menyelesaikan titah Yang Mulia dengan baik," lirih Lin Tao.


"Kalian sudah lebih dari menyelesaikan titahku, dengan sangat luar biasa! Aku berterima kasih untuk itu, aku bersyukur kalian berdua bisa pulang. Jangan pikirkan yang lainnya. Semoga kalian segera sembuh!" ujar Jang Min menepuk bahu Lin Tao dan Zhang Fuk.


Jang Min keluar dari tenda dan kembali memeriksa seluruh prajuritnya yang akan dibawa ke medan perang. Dia masih berjalan di sekeliling benteng Xihe memeriksa semuanya, "Sebaiknya besok kita menunggu mereka di luar benteng dan sebagian berada di dalam benteng. 


"Matahari benar-benar bersinar dengan indah! Burung bangkai sudah mulai berdatangan, padahal perang belum saja dimulai!" lirih Jang Min menatap cahaya matahari yang begitu terik. Ia melesat di atas benteng menatap ke depan dengan diam.


"Aku berharap kemenangan akan datang kepada rakyat Donglang," batinnya. 


Bayangan Dara di tubuh Li Phin kembali menari di benaknya, "Aku harap aku memenangkan pertempuran dan hati Dara untuk terus bersamanya, "andaikan aku bisa menahannya untuk tinggal  … aku rela memberi apa pun yang diinginkannya," batin Jang Min. 


Ia berdiri di atas benteng Xihe dengan penuh kewibawaan, Jang Min tidak menyadari sudah berapa jam berlalu ia masih berdiri mematung memandang segalanya. Senja mulai datang menyinari tubuh Jang Min di sana bagaikan sebuah tonggak dan patung yang sangat tampan dan dikagumi oleh semua orang.


Dara di dalam tubuh Li Phin hanya memandang Jang Min di sana dengan meletakkan sebelah tangan di kening karena sengatan cahaya matahari yang menyilaukan.


"Jang Min apa yang sedang kamu pikirkan?" batin Dara melihat kekasih hatinya masih mematung dengan kedua belah tangan berada di belakang punggung dengan baju zirah kekaisaran.


"Permaisuri! Ada yang ingin aku tanyakan kepada Yang Mulia," ujar Tan  Jia Li.


Dara dan Li Phin menoleh ke arah Tan Jia Li dan tersenyum, mereka berdua adalah dua orang wanita yang berada di sana selain para wanita penduduk Xihe yang tidak mau juga dievakuasi.


"Apakah benar … maksudku, jujur Li Phin hal ini sulit aku terima. Tapi, aku tidak bisa menahannya terlalu lama," balas Tan Jia Li menatap ke arah  Li Phin.


Dara dan Li Phin hanya memandang ke arah Tan Jia Li, "Apa yang ingin Kakak tanyakan?" ujar Li Phin.


"Phin'er, apakah benar di dalam tubuhmu bukan hanya dirimu seorang?" tanya Tan Jia Li berbisik dengan menarik lengan adik sepupunya ke sebuah sudut, di atas benteng di sebelah Utara Xihe.


"Ya, itu benar! Dara muncullah agar Kak Jia'er melihatmu juga!" ujar Li Phin.


Siluet bayangan wajah Dara muncul di wajah Li Phin, "Ya, Dewa! Jadi apa yang dikatakan oleh Jang Min benar adanya," balas Tan Jia Li melihat wajah Dara di sana.


"Ya, aku pasti melakukannya!" balas Tan Jia Li, "wanita ini sangat tegas dan cantik, pantas saja Jang Min begitu mencintainya dengan sangat luar biasa. Sayangnya, dia akan kembali ke dunianya.


"Andaikan dia tahu jika Jang Min telah banyak menitipkan pesan kepadaku. Bahkan, gulungan pesan jika dia gugur. Semua ini demi wanita yang bernama Dara ini," batin Tan Jia Li diam menatap lekat ke wajah Dara.


"Kak, apa yang sedang Kakak pikirkan?" tanya Li Phin melihat kegundahan di wajah Tan Jia Li.


"Tidak ada! Aku hanya ingin membuktikan apa yang dikatakan Jang Min, aku kira dia berbohong," balas Tan Jia Li tersenyum, "Dara kembalilah menyatu dengan tubuh Li Phin, aku tidak ingin ada yang melihatmu selain aku!" ujar Tan Jia Li.


Dara kembali menyatu dengan tubuh Li Phin keduanya berjalan mengitari benteng memeriksa benteng Xihe bagian Utara melihat semua prajurit yang sedang berpatroli.


***


Malam semakin larut nyala api unggun di tengah benteng menjilat ke angkasa,  semua prajurit mulai bersiap-siap berbaris dan ada yang beristirahat di perut kuda yang sedang berbaring. Sebagian ada yang mengasah pedang, tombak, dan menajamkan anak panah mereka menumpuknya menjadi tumpukan yang banyak di dalam kantung busur.


Jang Min masih menatap keremangan malam beserta Dara di dalam tubuh Li Phin, yang mengalunkan seruling indah penuh kesedihan dan perjuangan.


Tiada seorang pun yang bersuara selain bunyi asahan senjata tajam, semua penduduk membantu dan memberikan obat juga bekal makanan. 


Seruling kesedihan Li Phin terus bergema, "Dara, aku tidak tahu mengapa aku merasa antara kita akan berakhir? Aku tidak tahu … rasanya kita akan berpisah," ucap Li Phin berat untuk melepas kepergian Dara dari tubuhnya selama hampir dua tahun mereka bersama.


Dara hanya menghela napas dia diam dengan seribu bahasa, hanya kalbu yang masih berbicara banyak hal, "Ya, aku juga tidak ingin berpisah denganmu! Apalagi, di sini aku telah menjadi seorang istri, ibu, permaisuri dan memiliki ayah dan juga semua orang yang sangat menyayangiku.


"Namun, semua kebahagiaan ini bukanlah milikku Phin'er. Semua ini adalah milikmu, pinjaman yang kamu berikan kepadaku," balas Dara tersenyum getir.


"Aku rela berbagi semua itu bersama denganmu Dara. Jika itu yang kamu takutkan dan risaukan. Aku rela," balas Li Phin. Alunan serulingnya terus saja bersuara indah dan menyayat hati.


"Phin'er … tugasku di sini sudah selesai. Di zamanku ada ibu dan orang-orang yang masih bergantung kepadaku, jangan khawatir aku akan selalu mengenang dan mendoakanmu.


"Pintaku, uruslah putra kita dan Jang Min," lanjut Dara merasakan kesedihan yang luar biasa, "andaikan bisa dan aku mengetahui akan begini jadinya, mungkin aku akan menimang Sun Ming setiap harinya. Tapi, aku tidak menyesalinya aku telah menjadi ibu hampir setahun ini, tanpa campur tangan dari para dayang," balas Dara tersenyum.


"Ya, kamu benar!" balas Li Phin tak lagi bisa menahan Dara untuk tetap tinggal.


Keduanya melihat siluet bayangan Jang Mkn yang masih berdiri di anjungan benteng menatap ke luar benteng, "Jang Min begitu tampan. Tidakkah kamu ingin tinggal demi dirinya dan Sun Ming?" tanya Phin 'er.