Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Mendarat di Indonesia


Seorang tentara langsung membuka borgol Liu Min, "terima kasih!" ujarnya dingin, memegang pergelangan tangan kanan dan kirinya bergantian, ia merasa kebas telah terborgol selama setahun mendekam di penjara karena kebrutalannya membunuh bandar narkoba bahkan, membunuh semuanya tanpa ampun termasuk beberapa petinggi negara Hongkong.


Ia mendapatkan pasal pelanggaran HAM, Liu Min hanya diam tanpa bicara dan bergeming. Ia mengetahui jika atasannya yang killer pasti menginginkan sesuatu darinya, "Sial! Nasibku selalu kacau jika berhadapan dengan Laksamana Tan Juan," umpat batinnya menggerutu.


"Liu Min, perserikatan dunia ingin kau dan beberapa tentara yang terdiri dari pasukan elit dari berbagai negara yang tergabung.


"Mereka membentuk aliansi untuk memerangi dan mengamankan perdagangan obat terlarang di Hongkong dan Tiongkok.


"Tapi, kau harus berangkat ke Asia Tenggara tepatnya Indonesia," ujar Laksamana Tan Juan tanpa basa-basi.


"Apa?! Indonesia! Hadeh!" bayangan Liu Min mengenai Indonesia sedikit kacau. Ia sama sekali tak pernah tertarik untuk pergi ke Indonesia dengan banyaknya insiden yang telah terjadi selain itu, ia sendiri pun sangat berat untuk ke sana.


Walaupun semua keluarganya mengatakan, "jika Indonesia, negara yang harmonis dan indah,". 


"Tidak bisakah aku pergi ke tempat lain saja?" tawar Liu Min.


Pandangan tajam Laksamana Tan Juan sudah mengisyaratkan jika dia tidak memiliki tawaran lain, "Ingat kau masih dihukum! Jika kau berhasil maka Negara akan membebaskanmu dan menaikkan pangkatmu!" lanjut Laksamana Tan Juan sedingin salju.


"Jika aku mati?" ketus Liu Min sinis.


"Kau hanya dikenang sebagai Kolonel gila!" balas Tan Juan santai.


"Sial!" umpat Liu Min.


"Satu hal, malam ini kau akan berangkat. Bersihkan dirimu, aku tidak ingin citra AL Hongkong, kacau balau karena penampilanmu yang mirip gembel! Pakai nama internasional saja, Liu Feter! Jangan Liu Min, karena kau masih di dalam penjara!" ujar Tan Juan.


"Siap Laksamana, laksanakan!" ujar Liu Min memberi penghormatan.


***


Tan Juan benar-benar mengirim Liu Min melalui pesawat heli rahasia ke pelabuhan di salah satu provinsi di Indonesia. Liu Min berulang kali mengecek peta dan keberadaannya di gogle.


Pesawat mendarat dengan sempurna, ia merasakan tanah di kakinya seakan bergerak dan memanggil jiwanya, "Tanah ini mengerikan! Seperti memiliki sihir," batinnya kecut.


Seorang pria dari ketentaraan AL Indonesia membawanya  dengan beberapa orang dari negara lain dengan mengendarai sebuah mobil menuju pangkalan. Liu Min memandang semua kota beserta isinya, ia merasa tidak asing dan seseorang memanggilnya di salah satu tempat.


"Tanah ini benar-benar berhantu!" ujar Liu Min di dalam Bahasa Kanton.


Seorang polisi di sebelahnya yang mengemudi melirik sekilas, "Apakah saudara pernah kemari?" balas Bripka kepolisian bernama Danu (kepercayaan Dara Sasmita) di dalam bahasa Kanton.


Pertanyaan dan ucapan polisi di sebelah membuatnya terhenyak, ia tidak menyangka akan ada yang mengetahui bahasa ibunya, "Kamu mengerti Bahasa Kanton?" tanya Liu Min manatap Danu.


Sementara perwira yang lain hanya menggunakan bahasa Inggris kepadanya. Danu menatapnya sekilas, "Komandanku sering mengajariku beberapa bahasa. Seharusnya dia yang menjemput Anda. 


"Dan dari jajaran kepolisian seharusnya dialah yang ikut di dalam misi ini," balas Danu mengingat Dara Sasmita yang sudah koma hampir setahun.


"Lalu kemana komandanmu? Apakah dia takut?" balas Liu Min sinis.


"Hahaha, dia adalah wanita yang hebat! Sayangnya, dia koma hampir setahun terbaring di RS." Danu terdiam membayangkan kekacauan yang semakin merajalela, sejak Kombes neraka koma, penggantinya kurang begitu kompeten.


"Oh, apa yang terjadi?" tanya Liu Min penasaran.


"Ya, tapi kami belum juga berhasil membekuknya. Malahan semakin kacau, banyak keluarga dari pihak polisi juga diancam," ujar Danu.


Liu Min hanya terdiam, "Maukah kamu membawaku untuk melihatnya?" tanya Liu Min. Entah mengapa benua mendorong mulutnya berkata demikian.


"Besok aku akan mengantar Saudara ke sana," balas Danu.


"Mengapa tidak malam ini saja? Biarkan para perwira dari negara lain menuju ke pangkalan. Aku akan melihat … siapa namanya?" tanya Liu Min sedikit sulit mengingat nama di dalam dialek Indonesia.


"Dara … Dara Sasmita!" ulang Danu.


"Ya, Dara …," ulang Liu Min mengulang nama itu di benaknya seakan ia begitu dekat dengan wanita tersebut.


Danu benar-benar mengantarkan semua perwira ke pangkalan AL dan membawa Liu Min ke RS. Sesampainya di rumah sakit Liu Min melihat seorang wanita paruh baya sedang membaca kitab suci yang dipergunakan umat Islam, karena ia memiliki saudara penganut agama tersebut.


Ia hanya diam memandang wanita itu mengaji, saat wanita itu selesai melakukan ibadahnya. Liu Min menatap seorang wanita terbaring di brankar dengan selang oksigen dan selang lain yang menyambung dari mulut, hidung dan jarum infus di tangan.


"Wanita ini … aku seperti mengenalnya? Tapi di mana?" atinnya bingung. 


Ia berusaha mengingat banyak hal tetapi ia tak pernah bisa menemukan dan mengingat, di mana ia pernah bertemu dengan wanita yang sedang berbaring tersebut.


"Sudahlah, nanti juga aku akan ingat!" batinnya menepis mencari jejak bayangan wajah Dara di relung jiwa dan hatinya.


"Maaf, Nak Danu?" ujar Ningrum menghampiri Danu, "Ibu tidak tahu jika kalian datang." Ningrum mempersilakan Danu dan Liu Min masuk ke dalam ruangan. Keduanya masih berdiri di depan pintu di mana dua orang polisi berjaga.


"Tidak masalah Bu. Bagaimana keadaan Bu Dara?" tanya Danu sedikit khawatir.


"Masih seperti biasa, hanya saja. Jemari tangannya sudah mulai bergerak," ujar Ningrum sedikit bersemangat.


"Alhamdulilah!" balas Danu sedikit lega, "oh, iya Bu kenalkan ini Pak Liu Peter dari divisi Hongkong yang ada misi ke Indonesia. Dia ingin bertemu dengan Bu Dara," ujar Danu di dalam bahasa Indonesia.


"Oh, saya Ningrum terima kasih sudah menjenguk Putri saya," balas Ningrum mengukurkan tangan.


Liu Min mengulurkan tangan menyambut uluran tangan Ningrum, Danu berbahasa Kanton menjelaskan kepada Liu Min apa yang dikatakan oleh Ningrum.


"Saya Liu Peter! Saya penasaran dengan Putri Ibu yang sangat luar biasa!" balas Liu Min yang langsung di translate Danu ke bahasa Indonesia.


"Terima kasih," balas Ningrum tersenyum.


"Bolehkah saya melihatnya?" tanya Liu Min.


"Tentu saja, Nak. Silakan!" balas Ningrum.


Liu Min berjalan perlahan ke arah brankar Dara, jantungnya berdegup kencang seakan ada sesuatu hal yang sedang dirasakannya.


"Ada apa dengan jantungku? Apakah wanita ini seorang penyihir?" batin Liu Mkn sedikit bingung. 


Liu Min menatap wajah Dara dengan pandangan penasaran  wajah Dara tertidur dengan begitu lembut, ia menyentuh telapak tangan Dara. Namun, Liu Min tidak mengerti mengapa naluri membimbingnya untuk melakukan hal itu.


Ia sendiri pun tidak pernah mengetahui mengapa ia melakukan semua itu, "Aku seperti mengenalnya bertahun-tahun yang lalu," batin Liu Min bingung.