
Sesampainya di Villa Sandy dan Raesa duduk di ruang tamu, mereka melepas lelah Raesa tidur di pangkuan Sandy.
Tiba tiba Handphone Sandy berbunyi, Sandy mengambil nya di atas meja , begitu di lihat Sandy terkejut, dan melihat kearah Raesa.
" Abi cepat angkat dong , penting kali karena udah beberapa kali bunyi " Ujar Raesa menepuk pipi Sandy
" Syaif " Jawab Sandy yang membuat Raesa langsung duduk.
Ada rasa sakit saat mengingat Syaif , bukan karena cinta , tapi karena teringat pukulan dan siksaan saat bersama Syaif.
" Angkat lah " Ujar Raesa lalu melangkah pergi menuju kamar nya .
Sandy pun mengangkat Handphone
" Assalamualaikum Kak "
" Waalaikum salam Syaif "
" Lama sekali sih terima telfon nya " Ujar Syaif menegur Sandy
" Maaf aku masih di jalan barusan, Ada apa tumben menghubungi ku "
" Kak, besok kita ke bali ada undangan pernikahan rekan bisnis ku menikah , jadi semua keluarga di undang , mama bilang kita akan bermalam di villa Kakak " Ujar Syaif
Sandy terkejut dan mematung , dia memikirkan perasaan Raesa yang saat ini belum siap untuk bertemu dengan Syaif.
" Kak kenapa malah gak di jawab , kalau gak boleh kita sewa villa lain aja "
" Ah tentu boleh lah, Nanti biar di jemput komang ke bandara "
" Oke Kak, setelah pernikahan ku , kenapa tidak ke sini lagi, betah banget di Bali , punya cewek ya " Ledek Syaif tertawa
Sandy pun ikut tertawa meski itu hanya pura pura , fikiran nya masih tertuju ke Raesa, karena Sandy tidak mau Raesa terluka karena mengingat masa lalu nya .
" Kak sampai besok Assalamualaikum "
Sandy langsung berlari menuju kamar nya, terlihat Raesa yang sedang berdiri di pintu yang menuju kolam renang , Sandy memeluknya dari belakang.
" Sayang kok belum tidur, katanya capek "
" Apa yang Abi bicarakan? Abi tidak lagi ingin memberikan aku pada Syaif kan , Abi tidak ada niat talak aku kan " Ujar Raesa, dengan mata yang sudah banjir air mata
Sandy terkejut mendengar yang Raesa katakan dan membalikkan tubuh Raesa menghadap ke arah Sandy.
" Apa Umik fikir Abi sejahat itu, Umik fikir Abi akan berbuat bodoh lagi, Umik fikir Abi akan semudah itu melepaskan Umik, Tidak Umik ini adalah pernikahan ke dua yang sangat sulit ku dapat sampai harus kehilangan nyawa anak kecil. Aku sudah berjanji di depan Jenazah Zidan untuk membahagiakan Umik " Sandy menangis mengatakan itu semua,
Raesa langsung memeluk Sandy yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding
" Maafin Umik Bi , umik hanya takut itu terjadi lagi, setelah banyak kesedihan ,sangat sulit membangun sebuah kepercayaan, aku sangat sangat takut akan terjadi lagi, jujur aku sangat mencintai Abi tapi kepercayaan itu masih belum seutuhnya di hati ku, bayangan masa lalu itu masih hadir, meski pun aku berusaha melupakan nya, tapi aku belum seutuhnya lupa, maaf jika Abi marah atas semua ucapan ku , tapi aku mohon jangan talak aku lagi, jangan berikan aku pada orang lain " isak Raesa sambil memohon duduk di lantai.
Sandy sangat tidak tega melihat Raesa dia duduk di lantai memeluk Raesa.
" Besok keluarga Ibu Nafisah akan hadir disini semua, kita buktikan ketidak percayaan umik, aku tidak akan memberikan umik pada siapapun, kecuali Allah yang mengambil Umik "
" Berjanji lah Abi "
" Aku berjanji sayang "
mereka saling berpelukan , perasaan Raesa masih belum stabil, rasa takut membuat Raesa tidak punya tenaga, badan nya lemas, Sandy mengangkat tubuh Raesa ke tempat tidur.
" Tidurlah sayang , biar besok semua menjadi lebih tenang " ujar Sandy sambil memeluk Istrinya
Malam semakin larut suara long longan Anjing menjadi ciri khas Bali, Raesa yang sulit tertidur akhirnya tertidur, begitu juga Sandy tertidur sambil memeluk Raesa.
Luka yang melukai hati memang tidak terlihat , tapi sakitnya melebihi sakit dari luka yang terjatuh , luka itu sampai kapanpun tetap ada , kecuali kita ikhlas menerima apa yang sudah terjadi, sedang kan ikhlas masih belum seutuhnya di miliki manusia, kecuali manusia yang memang pilihan Allah.
Sedang luka terjatuh meski parah menjadi borok sekali pun akan mudah di obati dan memang sudah ada obat nya, dan sakitnya tidak terlalu sakit, karena akan sembuh dengan sendirinya .
Mungkin itu yang di rasakan Raesa sakit yang tidak Bisa dilihat, tapi trauma masa lalu yang membuat luka parah di tubuhnya.