
Sandy yang memang masih mencintai Raesa, ketika bertemu Raesa merasa iba melihat keadaannya yang begitu kurus dan tidak bersemangat, melihat Raesa yang tidak perduli dengan kedatangan Sandy membuat Sandy sadar Raesa tertekan dengan hidup nya. Sandy kemudian menjauh dari tempat Raesa yang sedang duduk di lantai. bagi Sandy akan berdosa jika harus mendekati Raesa memberi semangat untuk Raesa, sedangkan Sandy masih mencintai Raesa.
" Di mana Zidan ? aku ingin menemuinya mungkin dengan kedatanganku Zidan akan cepat sadar"
" Mari ikut denganku, Aku antar menemui Zidan"
Syaif masuk bersama dengan Sandy kedalam ruang ICU, dengan memakai pakaian khusus yang di pakai ketika berada di ruang ICU. setelah Syaif mengantar kan Sandy, Syaif pun keluar , kini tinggal Sandy dan Zidan saja yang ada di sana.
" Assalamualaikum ganteng , Zidan bangun sayang , ini papa Sandy datang " Sandy mengajak berbicara Zidan yang sedang tidak sadarkan diri , Sandy menangis melihat ke adaan Zidan yang berbaring tidak berdaya .
" Mama bilang, Zidan kangen sama papa Sandy , ini papa Sandy sudah datang tapi Zidan belum juga mau bangun, lagi marah ya sama papa Sandy " Sandy tidak kuasa melihat Zidan yang masih kecil susah terbaring tidak berdaya dengan infus dan alat alat di tubuhnya.
" Kalau Zidan tidak mau bangun papa akan pergi , papa akan meninggal kan Zidan " Ujar Sandy dengan suara yang terisak.
Tiba tiba Zidan membuka matanya, Sandy yang melihat itu menjadi terkejut, dan tersenyum memeluk Zidan
" Kamu sudah sadar sayang , ini papa Sandy sayang, papa Sandy sudah datang" Ujar Sandy tersenyum bahagian
karena Zidan masih memakainya bantuan oksigen jadi Zidan tidak bisa berbicara hanya saja dia menunjukkan kebahagian dan tersenyum melihat Sandy.
Sandy langsung memencet Bell yang menuju ke ruangan perawat bagian ruang ICU. Tak lama kemudia dokter dan perawat datang.
" Dokter lihat lah anak ku sudah sadar dokter " Ujar Sandy bahagia
" Anda siapa , kenapa anda mirip sekali dengan bapak Syaif "
" Saya saudara nya dokter "
" Bapak Sandy ya " Tanya dokter
" Ia Dokter saya Sandy paman pasien Zidan "
" Sungguh luar biasa, saya tidak menyangka jika yang Zidan sebut mulai kemaren bisa membuat Zidan cepat sadar "
" Maksud dokter ? "
" Zidan selalu menyebut nama Sandy , lalu saya menemui bapak Syaif untuk membawa anda kemari , dan ternyata prosesnya cepat , Anak kecil itu ikatan batin nya kuat , bukan karena ada ikatan antara orang tua dengan anak tetapi siapa yang menyayangi nya sejak kecil masih bayi dia yang akan cenderung di ingat dan di cari cari "jelas Dokter kepada Sandy .
" Amin amin "
" Zidan papa tunggu di luar ya sayang Zidan biar di kasik obat dulu sama dokter, nanti Zidan akan cepat sembuh dan bisa main bersama papa Sandy "
Zidan pun mengangguk kan kepalanya. Lalu Sandy keluar dari ruang ICU menuju Syaif.
Sandy memeluk UK Syaif. menetes kan air mata
" Anak mu sudah sadar " Ujar Sandy pelan
Semua yan mendengar nya menjadi bahagia, apalagi Raesa dia langsung bangun dari duduk nya dan berlari pergi dari depan Ruang ICU itu
" Alhamdulillah terimakasih San " Syaif sangat bahagia mendengar kan semua itu
" Susul istri mu kemana dia akan pergi, jangan buat dia menangis lagi " Ujar Sandy sambil menepuk pundak Syaif dan tersenyum.
Sandy menghampiri Ibu Nafisah dan Nando.
" Tante semua sudah membaik , tante sekarang pulang, biar Sandy yang menjaga nya "
" Nak kemana saja kamu kenapa meninggal kan tante , Zidan sangat membutuhkan kamu , ayo kita hidup bersama lagi meski kamu sudah tidak jadi suami Raesa, setidaknya jadilah papa untuk Zidan "
" Iya kak , mungkin kakak sudah di nyatanya resmi bercerai dengan Kak Raesa, tapi ikatan batin Zidan dan kakak sangat kuat " Ujar Nando
" Tante, Nando maaf jika harus hidup satu rumah lagi , tentu nya tante dan Nando tahu seberapa besar aku mencintai Raesa. aku tidak sakit hati lagi melihat Syaif bersama Raesa, tapi aku tidak bisa melihat Raesa lama lama , karena aku masih mempunyai perasaan kepada nya , kalian jangan hawatir, aku akan selalu ada di setiap Zidan butuhkan tapi untuk hidup bersama satu rumah aku tidak bisa "
Jelas Sandy sedih
" Aku faham kak, semoga Kakak bisa mendapatkan ganti yang seperti kak Raesa "
" Ia nak semoga kamu bahagia Nanti nya "
" Amin amin , terimakasih tante, Nando "
Sandy merasakan bahagia bisa bertemu Ibu Nafisah yang sudah seperti orang tua sendiri, tapi Sandy tahu saat ini keluarga Sandy sudah marah terhadap Keluarga ibu Nafisah. jika Bapak Samuel mengetahui anak nya masih membantu Keluarga ibu Nafisah maka Bapak Samuel akan marah besar. tetapi sandy tidak mau itu sampai terjadi.