
Malam sudah sangat larut, Nanda belum juga mengantuk, ada beban fikiran yang saat ini di alami Nanda. Nanda memikirkan perasaan Kiai Jakfar, Fatma yang melihat Nanda dengan keadaan seperti itu membuat Fatma juga tidak bisa tidur.
" Kamu kenapa belum tidur? "
" Aku tidak mau menjadi santri durhaka dan membangkang Guru ku. Aku sangat takut Fatma Kiai akan marah kepada ku"
" Selama ini hubungan keluarga kita baik dengan pesantren , aku yakin Kiai tidak akan marah kepadamu Nan"
" Iti menurut mu Fat, tapi aku tidak mau menyangkut pautkan semua ini dengan kebaikan mama"
" Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk membuat Semu baik baik saja"
" Entahlah aku juga bingung dengan masalah ini. Aku sebenarnya sudah belajar Ikhlas dengan melepas Azam. Dan aku akan menghadapi semua nya dengan sabar , tapi ternyata semua sia sia. Aku pasrah dengan apa yang Allah taqdir kan untuk ku "
" Nanda sebaik nya kamu tidur ini sudah jam 1.30 hampir subuh "
" Tidur lah terlebih dahulu, nanti aku akan tidur juga " Ujar Nanda masih duduk di teras kamar nya.
Di lain tempat Sandy sudah terbangun untuk sholat Tahajud , Sandy melihat kesamping nya seorang wanita yang tertidur pulas, sambil memeluk buah hati nya yaitu Zidan. Sandy mencium kening Raesa kemudian mencium Zidan .
Rasa sayang Sandy terhadap Zidan sudah seperti orang tua ke anak. Raesa tiba tiba membuka matanya dan melihat kearah Sandy yang menatap Zidan.
" Abi ada apa? Menatap Zidan seperti itu" Tanya Raesa tersenyum manis
" Umik apakah Umik memakai Alat kontrasepsi seperti KB, Spiral, AUD atau yang lain nya ?" Tanya Sandy sambil memegang tangan Raesa
" Kenapa Abi bertanya seperti itu? " Tanya Raesa malu
" katakan saja Abi hanya ingin kamu jujur kepada Abi " Ujar Sandy tersenyum
" Maaf bi Raesa minum pil KB " Ujar Raesa merasa bersalah karena tidak mengatakan sebelum nya kepada Sandy
" Hei kenapa wajah nya muram, Justru Abi mau Kamu membesarkan Zidan terlebih dahulu, setelah Zidan umur 4 boleh Umik ikut program hamil " Ujar Sandy membuat raesa terkejut dengan kata kata Sandy.
" Karena Abi tidak Mau Zidan kurang kasih sayang kita, Abi ingin Zidan benar benar di perhatikan sama Umik tentunya dengan kita berdua" Ujar Sandy lagi.
Raesa mendengar penjelasan Sandy membuat Raesa menangis. Memeluk Sandy.
" Terimakasih Bi , telah menerima Zidan dan menyayangi Zidan sepenuh hati. Umik bangga menjadi istri Abi, semoga keluarga kita akan tetap bahagia dan selalu di lindungi oleh Allah Bi "
" Amiin, sudah istirahat dulu Umik besok bekerja. Abi mau sholat tahajud dulu"
" Kamu mengoda ku ya. Lihat dedek mu mula berdiri" Ujar Sandy menggoda Raesa
" Aah Abi nakal sudah cepat pergi sholat tahajud nya menunggu"
" Tapi besok pagi mintak jatah ya Umik buat bekal ke Restoran " Bisik Sandy lembut.
Raesa tersenyum sambil mencubit pinggang Sandy
" Nakal ah , Insyaallah kalau Zidan tidak rewel "
" Zidan ada mbk peni yang akan menemani, Umik nya temani Abi dulu ya olah raga pagi biar Abi sehat dan kuat hehe " Ujar Sandy senang suara merayu
" Oke oke Bi Raesa kalah, nanti Raesa menurut apa mau Abi ya" Jawab Raesa mengeleng geleng kan kepalanya melihat suaminya merengek memohon seperti anak kecil.
" Alhamdulillah terimakasih Umik tercinta, tersayang, tersegalanya" Ujar Sandy sambil meninggalkan Raesa menuju kamar mandi.
Raesa tertawa melihat tingkah Suami nya.
Raesa kembali memejamkan matanya, sedang kan Sandy pergi ke musholla yang bersebelahan dengan kamar Raesa.
Sandy tidak pernah meninggalkan sholat tahajud nya, dia sangat istiqomah dengan sholat sunnah nya itu, karena bagi Sandy kebahagiaan nya adalah hasil dari dengan tunduk kepada Allah .
Setelah beberapa jam azan subuh berkumandang, alarm azhan yang di sediakan di musholla rumah mewah Ibu Nafisah membuat penghuni rumah itu terbangun.
Sandy melangkah menuju kamar untuk membangun kan Raesa, ternyata Raesa sudah siap dengan memakai mukenah nya, Sandy tersenyum melihat Raesa yang sudah bersiap sholat
" Mama sudah bangun Bi "
" Seperti nya belum bangun Umik "
" Bi tunggu mama bangun dan jangan lupa bangunin Nando juga, Raesa mau panggil peni dulu biar jagain Zidan "
" Iya Nyonya Sandy " Jawab Sandy tersenyum lalu pergi, Raesa ikut tersenyum dengan tingkah suaminya
Raesa masuk ke kamar Zidan dengan memindahkan zidan dari kamar Raesa ke kamar Zidan.
Kemudian Raesa menekan Bell yang terhubung ke kamar peni. Di kamar peni yang mendengar Bell dari Kamar zidan langsung melepas mukenah nya dan langsung berlari ke atas.