
Waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari,minggu demi minggu, sudah 5 bulan Raesa hidup mandiri di desa terpencil itu.
Raesa memantapkan hati nya, untuk datang ke pesantren An najah. Raesa mengendarai mobil seorang diri menuju ke pesantren, ingin menjemput ridho Allah tentang janji nya kepada Syaif, hati Raesa sudah yakin dengan sebuah pilihan, yang dia inginkan Syaif berubah dan di beri petunjuk oleh Allah semata mata hanya Zidan.
" Bismillahirohmannirrohim, semoga ini keputusan terbaik ku ya Allah, aku tidak akan egois meski aku tidak punya suatu perasaan cinta lagi, mungkin ini jalan ku bisa bersama Zidan, Semoga Sandy dan Syaif sudah saling memaafkan" Seru Raesa pelan
Jalan yang di tempuh Raesa tidak terlalu jauh, karena hanya menempuh perjalanan satu Jam tiga puluh menit.
Jam menunjukkan pukul 9, 47 , Raesa masuk ke parkiran mobil di halaman Santri putri, Raesa memilih menunggu di parkiran, Handphone Raesa tiba tiba berdering
" Hallo Assalamualaikum " Sapa Raesa
" Kak Ini Fatma "
" Bagaimana Fatma ? "
" Kak Syaif sudah tadi malam tidak pulang, Mungkin dia udah berangkat Karena Kak Syaif pernah bertanya An Najah kepada ku kak "
" Zidan bagaimana Hari ini "
" Ya seperti biasa kak,setelah mendapat telfon dari kakak selalu senang dan mengatakan, Mama bekerja dulu Zidan mau jadi anak baik , biar ketemu mama sama papa Sandy , Gitu dia bilang mbk "
" Maaf gara gara masalah ini , kamu mengorbankan diri sendiri, sampai tidak kuliah ke kairo, hanya Nanda saja yang berangkat kesana " Ujar Raesa sedih
" Kak saya tidak merasa keberatan menemani mama disini, bagi saya di anggap anak sudah Alhamdulillah kak, kenapa kakak merasa bersalah, Fatma kan tetap kuliah meski hanya di sini "
" Semangat ya, kakak yakin kamu akan hidup bahagia Nanti, kamu telah banyak membantu keluarga ku dan menjaga anak ku "
" Jangan berkata seperti itu mbk, bagi Fatma bisa membantu kak Raesa sudah alhamdulillah, karena kakak juga berjuang untuk ku "
" Ya sudah kakak mau menunggu Syaif " Ujar Raesa
Lalu Raesa menutup telfon nya, dan keluar dari dalam mobil nya.
Raesa masuk kedalam pesantren putri, di sana sudah ada Aisyah yang menunggu nya.
" Assalamualaikum Neng "
" Sehat neng ? "
" Alhamdulillah "
" Sudah di tunggu Abah mulai tadi "
" Maaf terlambat "
Lalu mereka berdua pergi ke Dalem Kiai Jakfar , yang memang sudah menunggu di teras belakang dekat santri putri.
" Assalamualaikum Kiai "
" Waalaikum salam nak "
Raesa menyalami Kiai Jakfar dengan pernah hormat, lalu duduk di dekat Kiai Jakfar.
" Nak apa kamu akan siap menghadapi ini dan akan siap kembali ke Syaif ? "
" kula sampun angenaken sedaya nya kiai, amargi kula memikirkan lare kula kiai. kula mboten purun lare kula tebih saking kula, kula pitados syaif badhe berubah " ( Saya sudah fikir kan semua nya Kiai, karena saya memikirkan anak saya Kiai. Saya tidak mau anak saya jauh dari saya, saya yakin syaif akan berubah )
" Saya tahu kamu adalah santri yang memang selalu patuh terhadap perintah Allah, saya yakin nak kamu bisa melewati ini " Ujar Kiai Jakfar yang tidak mengatakan bahwa Sandy berada di pesantren ini.
Kiai sangat iba melihat Raesa, Kiai sangat memahami keadaan Sandy dan Raesa , dan Kiai dengan sengaja menyuruh Sandy mengantar Kita ke pesantren Miftah.
" Kula boten ajeng zidan tuwuh tampa asih tresna kula kiai, kula ajeng zidan gadhah sosok bapak uga ibu ingkang sempurna, senaos pun kula boten mangertos menapa kula saged nglampahi punika, saweg kula taksih nresnani kak sandy" ( saya tidak ingin zidan tumbuh tampa kasih sayang saya Kiai, saya ingin Zidan punya sosok ayah dan ibu yang sempurna, meski pun saya tidak tahu apa saya mampu menjalani ini, sedang saya masih mencintai Kak Sandy.)Ujar Raesa dengan meneteskan air mata.
" Saya rasa sudah waktunya kamu melupakan semuanya , ikhlas kan semua nak dan memulai lah hidup yang baru , Syaif sudah menunggu di pendopo"
" Menapa syaif sampun dangu dugi nya kiai ? kula sampun nyukakaken syarat dhumateng syaif, menawi syaif apal mila kula berhak nampinipun "
( Apa Syaif sudah lama datang nya Kiai ? Saya sudah memberikan syarat kepada Syaif, jika Syaif hafal maka saya berhak menerimanya ), Ujar Raesa
Lalu Kiai mengajak Raesa ke pendopo luar, sesampainya nya di sana sudah duduk Syaif dan Azam yang di pendopo itu, Syaif yang melihat kedatangan Raesa menjadi menatap nya,dan tersenyum bahagia.