
Setelah cukup lama menunggu Aisyah di depan UGD, seorang perawat datang, menyampaikan bahwa Aisyah sudah siuman.
Kiai Jakfar masuk kedalam ruang UGD menemui putri nya Aisyah.
" Aisyah ada apa nak ? kenapa menahan sakit mu sampai seperti ini nak " Ujar Kiai Jakfar sedih
" Abah jangan menangis, Aisyah tidak apa apa Bah, hanya saja tadi pusing dan dada terasa sakit "
Jelas Aisyah memegang tangan Kiai Jakfar.
" Nak kakak mu miftah dia akan segera datang , Abi sudah menelfon nya"
" Tidak usah Bah, Aisyah mau pulang saja, jangan merepotkan kakak, karena kakak banyak kesibukan "
" Kakak mu akan marah Nak jika Abah tidak memberi kabar "
Setelah keadaan Aisyah lebih baik, perawat memindahkan Aisyah keruang rawat inap. Kiai Jakfar mengikuti Aisyah yang di bawa dengan kursi roda, begitu juga Hamdan dan Sani mengikuti Kiai.
" Hamdan tolong telfon Abdullah, besok subuh ganti kan saya ngimami dulu "
" Nggih Kiai " Jawab Hamdan
Lalu Hamdan pergi dari depan ruang inap Aisyah untuk menelfon Azam.
Tut tut tut
" Assalamualaikum Abdullah "
" Waalaikum salam Ham"
" Abdullah Neng Aisyah opname " Ujar Hamdan
" Dimana Ham ? kapan ? " Tanya Azam terkejut
" Sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap "
" Ya Allah Kasian Kiai "
" Ada salam dari Kiai kamu di suruh ngimami besok subuh "
" Iya Ham , makasih informasinya "
" Kok kamu santai ? bukannya Neng Aisyah tunangan mu "
" Iya juga sih. Oke jangan lupa ya Assalamualaikum "
" Waalaikum salam "
Azam masih tidak percaya dengan kabar Neng Aisyah yang sakit. dan dia merasa bersalah atas kejadian yang waktu ulang tahun Nanda. Yang secara terang terangan menceritakan semuanya. Karena Azam sendiri tidak menyadari bahwa Aisyah sebenarnya mencintai Nando.
Di hotel yang masih tidak terlalu jauh dari Pesantren, keluarga Ibu Nafisah bermalam, Nando yang lebih memilih di kamar memandangi sarung pemberian Aisyah, dan membaca surat yang di kirim Aisyah berulang ulang.
" Kenapa perasaan cintaku begitu besar kepada Aisyah, dulu ketika aku bersama Rere, aku tidak sampai seperti ini, oh Aisyah kamu mampu membuatku tergila gila padamu " Seru Nando dalam hati.
Di kamar sebelah Nando, ada sepasang kekasih sedang bahagia memadu cinta. Sandy memeluk erat tubuh Raesa.
" Bi kenapa erat sekali memeluk nya "
" Abi takut umik pergi ninggalin Abi "
" Ya Allah Bi ..... jika aku pergi Abi harus ikhlas dan menerima dengan lapang dada" Ujar Raesa tersenyum menatap ke arah Sandy.
" Apakah Umik berniat ingin meninggalkan Abi ? " Dengan mata berkaca kaca, Raesa menjadi merasa bersalah.
" Bi jangan menangis, Abi adalah seorang laki laki , tidak pantas jika Abi menangis hanya karena seorang perempuan" Ujar Raesa sambil mengelus elus wajah suaminya.
" Bukan hanya wanita yang di berikan Air mata untuk di tumpah kan, tetapi laki laki juga di beri hak untuk mengeluarkan semuanya lewat air mata. Kamu tahu orang menagis ada dua hal, antara sedih dan senang. Tapi air mata ku ini adalah kesedihan, karena takut Umik tinggal kan"
" Segitu besar nya Abi mencintai ku, Pada ada yang lebih berhak mendapat cinta di atas cinta mu Bi "Ujar Raesa meyakinkan Sandy
" Cintaku jangan di ukur dengan cintaku terhadap yang mempunyai cinta, cintaku kepada yang mempunyai cinta kekal di dalam jiwa ini Umik. sedang kan cintaku kepada Umik adalah cinta yang siap di tinggal kan tapi tidak mampu jika benar benar di tinggal kan. dan akan berusaha meyakinkan semuanya bahwa Umik adalah milik ku sampai aku lelah dan mengembalikan Umik pada Sang Maha pencipta" Ujar Sandy seperti penyair saja.
" Lantas jika aku mendadak menghilangkan bagaimana " Raesa mengoda suaminya sambil mencium hidung nya.
" jika Umik pergi dariku maka aku akan pergi juga meninggalkan semua yang aku miliki. dan lebih memilih pasrah pada Allah didalam ke gelapan atau aku akan hidup sendiri sampai aku mati" Ujar Sandy pelan. tapi meyakinkan, membuat Raesa tidak lagi berkata untuk pergi
" Umik jujur pada Abi, apa Umik mencintai aku "
Tanya Sandy menatap Raesa dalam dalam
" jika tubuh ku saja sudah aku serahkan pada Abi, apa Abi masih ragu terhadap umik" Ujar Raesa menjawab keraguan Sandy.
" Terimakasih Umik mau menjadi pendamping ku, insyaallah aku akan menjaga Umik sampai detik nafas terakhir ku " Jawab Sandy
Mereka pun tertidur pulas terbawa ke alam mimpi yang membuat mereka merasa nyaman tidur masih saling memeluk.