
Raesa menata semua barang yang dibelinya siang tadi, Pak Anas dan ibu Ani membantunya sedangkan Ibu Ningsih dia memasak di dapur menyiapkan makan malam.
" Raesa jadi beli sawah " Tanya Ibu Ningsih dari dapur
" Jadi bik, apa sudah ada "
" Ada, dia mau jual 2 hektar " Ujar Ibu Ningsih
" Berapa katanya mbk yu harganya " Tanya Pak Anas
" Pak selamet dik yang mau jual, dia mintak 450 "
" Boleh bik , biar ayah kesana besok " Ujar Raesa
" Apa tidak terlalu mahal nak katanya masih mau buka restoran "
" Masih cukup Ayah "
" Jujur sama ayah kamu bener bener ada uang, Ibu tidak mau kamu memakai uang Ibu Nafisah nak " Ujar Pak Anas menghampiri Raesa.
" Iya nak , meski kita orang tidak punya tapi kita bisa hidup tampa yang mereka "
Raesa tersenyum memeluk kedua orang tuanya
" Ibu, Ayah, dulu waktu bekerja di perusahaan, gaji Raesa tiap bulan 30 juta. Bonus dari penjualan dan yang lain nya kalau ada kerjasama , Raesa juga dapat, jadi ayah sama ibu jangan hawatir, dan Raesa juga dapat dari mama Vely 1M untuk hadiah pernikahan ku, tapi semua sudah berakhir yah , apa Raesa kembali kan saja ke mama Vely " Ujar Raesa yang mendadak menangis, teringat Ibu Vely dan Bapak Samuel yang masih belum mengetahui keadaan pernikahan Sandy yang sudah berpisah.
Ibu Ani dan Pak Anas menyesal, harus menanyakan banyak hal kepada Raesa. karena melihat kondisi Raesa yang menjadi sedih lagi.
" Maafin Ibuk nak dan ayah, kita janji tidak akan membicarakan ini lagi "
" Iya nak, Ayah mintak maaf ya. jangan di kembalikan nak kasian Ibu Vely pasti sedih nantinya , apalagi dia sering sakit "
Setelah semua selesai menata barang pembelian Raesa , mereka pun makan bersama.
Di sisi lain Ibu Nafisah sedang menerima telepon dari seseorang
" Selamat malam nyonya " penelfon
" Mereka baik baik saja nyonya, mereka tinggal di desa terpencil dan sekarang sudah membeli mobil dan keperluan rumah nya " penelfon
" Pantau terus, ingat jaga mereka jangan sampai ada yang mengusik kehidupan nya " Ujar Ibu Nafisah tegas
" Baik nyonya terima kasih, selamat malam "
Ibu Nafisha menutup telfon nya, air matanya menetes mengingat semua tentang Raesa. yang diam diam Ibu Nafisah menyuruh memata matai , untuk menjaga Raesa dan semua yang di lakukan Ibu Nafisah di luar sepengetahuan Syaif , Nando dan Nanda.
" Terimakasih ya Allah, semoga anak itu bahagia , untung saja dulu Pak Anas pernah bercerita tentang Desa nya, jadi dengan mudah semua saya ketahui " Ujar Ibu Nafisah bahagia
" Aku ingin dia bahagia, Kalau Syaif tetap angkuh tidak mau berbicara baik pada Sandy, aku tidak akan mengizinkan Syaif kembali kepada Raesa, Sandy tidak salah, ini semua aku yang salah " Ujar Ibu Nafisah
Tiba tiba ada suara ketukan pintu.
" Masuk " Ujar Ibu Nafisah
" Mama sudah minum obat ? " Tanya Syaif masuk kedalam kamar Ibu Nafisah
" Sudah, bagaimana Zidan apa dia sudah mau kamu gendong "
" Belum ma , dia tanya Sandy terus menerus, sampai marah aku tadi " Ujar Syaif dengan nada kesal
" Ternyata kamu tidak berubah ya, Syaif yang angkuh, bagaimana anak mu mau,kalau kamu sering marah begitu, jangan menyalahkan Sandy, ini sudah jalan hidup kamu, kamu harus sadar dan mau memaafkan semuanya, kamu tidak lagi Syaif waktu bersama Raesa, kamu Syaif waktu tinggal di Australia, Mama fikir dengan kamu kecelakaan akan membuat mu lebih tunduk kepada Allah, ternyata kamu menyalahkan Taqdir yang Allah berikan kepada mu " Ujar Ibu Nafisah dengan mata berkaca kaca
" Ma sudah Syaif tidak mau berdebat dengan mama "
Ujar Syaif
" Apa kamu sudah Hafal dengan permintaan Raesa, kalau kamu tidak hafal siap siap saja Raesa meninggalkan kamu " Ujar ibu Nafisah
" Belum, Aku yakin Raesa hanya main main dengan syarat itu, dia akan kembali kerumah ini lagi, karena aku yakin dia juga tidak akan betah hidup tampa Zidan , aku akan menggunakan Zidan untuk membawa dia pulang lagi kerumah ini "
" Mama tidak yakin kalau kamu bisa mendapatkan Raesa dengan cara yang kamu mau, seharusnya kamu sadar kenapa kamu di suruh menghafal 7 surat itu, itu adalah surat Al Quran yang memberi kemudahan dan jalan keluar setiap kesulitan. Tapi kamu lebih memilih memakai ke egoisan mu "
Syaif tidak menjawab, dia pergi meninggalkan Ibu Nafisah, perasaan Ibu Nafisah sakit sudah tidak di anggap oleh Syaif saat berbicara.