KU IKHLAS 1

KU IKHLAS 1
Episode 210


Dada Raesa terasa sesak, Bos besar itu juga Berdiri seperti patung melihat ke arah Raesa, matanya berkaca kaca menahan tangis. Pak Wayan dan yang lain merasa heran melihat kearah Raesa dan Bos besar itu.


Ibu putu memegang tangan Raesa, saat ini Raesa seperti gunung es yang sudah lama beku. Tidak bergerak tapi wajah nya pucat.


" Meeting di tunda kalian boleh pergi " Ujar Bos besar, dengan tatapan yang masih menatap Raesa.


PakWayan membawa Berkas itu kemudian Ibu putu memapah Raesa di bawa keluar, mereka semua seperti melihat sebuah drama sedih.


" Tinggal kan Raesa pergilah kalian " Ujar Bos besar itu


Mereka tidak berani membantah, akhirnya mereka pergi meninggalkan Raesa, setelah mereka benar benar pergi Bos besar itu mendekat


" Kenapa kamu pergi " Tanya Bos besar itu yang tak lain adalah Sandy, laki laki yang mencerai kan nya karena ingin kebahagiaan saudaranya .


" Kenapa harus bertemu lagi , aku sudah menutup luka ku , luka yang kalian buat 3 tahun lalu, luka yang aku sendiri merasa sulit untuk mengobati, aku sudah pergi kenapa kamu datang lagi , apakah kamu datang ingin membuka luka itu " Isak Raesa Tampa melihat kearah Sandy


" Aku minta maaf membuat luka yang begitu parah dalam hidup mu , membuat mu berjuang sendiri mengobati luka itu, tapi kamu harus tahu aku mencarimu dari ujung ke ujung , bahkan seluruh dunia ku mencari mu , aku tidak pernah lelah, karena aku ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat kepada mu " Jelas Sandy yang akhirnya menangis .


" Aku tidak pernah mendendam bahkan aku tidak pernah menoleh lagi ke belakang, aku takut membuka lagi luka lama, aku takut jika harus bertemu kalian, aku bukan barang yang di lempar sana sini, aku manusia yang punya rasa sakit jika di sakiti, punya rasa bahagia jika di hargai"


" Hukum lah aku untuk menebus semua kesalahan ku kepada mu, Jika saja nyawa ini bisa menebus dosa maka aku ikhlas menyuruh mu membunuh ku, aku mohon maaf kan aku , aku mohon biar kan aku menebus kesalahan ku "


" Aku sudah katakan , aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu meminta maaf , aku tak ingin mendendam, tapi aku hanya seorang manusia yang punya rasa sakit, ketika mengingat saat aku di buat mainan oleh kalian "


" Cukup jangan katakan itu lagi, aku sakit mendengar nya , aku sakit " Ujar Sandy tetap menangis .


Raesa seperti kehilangan kekuatannya untuk melangkah , tubuh nya tidak kuat lagi berdiri akhirnya Raesa menjatuhkan tubuh nya, kelantai hingga duduk bersimpuh di lantai.


Sandy juga duduk mereka duduk hanya berjarak 2 meter saja.


" Tetap lah disini , aku merindukanmu, seandainya memeluk mu tidak berdosa aku akan memeluk mu , aku rindu kamu Raesa aku sangat merindukan mu , Aku sudah tidak peduli dengan semuanya, yang aku inginkan saat ini adalah kamu "


" Maaf aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya " Jawab Raesa masih menangis.


" Beri aku kesempatan untuk kedua kalinya , aku akan memperbaiki nya "


" Maaf tapi aku tidak bisa, sebesar apa keinginan mu mengharap kan aku kembali kepada mu , sebesar itu pula keinginan ku menolak mu " Jawab Raesa pelan dengan Pandangan kosong kedepan.


" Jika memang aku tidak bisa memiliki aku , tolong izin kan aku menjadi sahabat mu "


" Akan aku fikirkan, jika dengan jauh dari mu aku bisa bahagia menjalani semuanya , kenapa harus aku menjadi sahabat mu, tolong aku mohon tolong aku jangan pernah ganggu hidup ku lagi, biarkan aku menjalani hidup ku tampa mengingat masa lalu ku "


" Jika itu yang kamu mau aku terima, tapi beri aku kebebasan melihat mu dari jauh , karena sungguh aku gila memikirkan mu "


" Aku tidak perlu uang mu , akan aku kirim lagi uang mu "


" Maksud mu "


" Kenapa harus mengirim uang kepadaku "


" Itu adalah hak mu ketika menjadi istriku, jika kamu menolak sama saja kamu memberikan dosa besar kepadaku karena mengambil hak mu sebagai istriku dulu "


" Baik lah terimakasih, biarkan aku pergi "


Deg deg


Jantung Raesa seakan berhenti , teringat akan kebaikan Ibu Vely yang begitu menyayangi nya , ternyata wanita tua yang menjadi mertuanya sudah menderita karena perpisahan anak nya . Raesa menangis sejadi jadinya.


" Kenapa baru kamu katakan, kenapa tidak dulu sebelum aku pergi" Teriak Raesa kesal karena merasa bersalah


" kamu sudah pergi tampa berpamitan kepadaku "


" Karena aku benci kepadamu "


" Aku Ikhlas jika harus di benci , karena memang aku yang salah "


" Aku akan menemui Mami tapi setelah dia sadar biarkan aku bebas, dan jangan berharap banyak kepada ku " Ujar Raesa sambil berdiri dan melangkah keluar dari Villa Sandy .


" Izin kan aku mengantar mu , ini sudah hujan , biar aku bisa bertemu dengan Ayah dan ibu mu " Teriak Sandy dari dalam. Raesa menghentikan langkahnya berdiri di Teras Villa itu , Sandy mengambil kunci mobil nya dan keluar, Sandy membuka Pintu mobil untuk Raesa , tapi raesa memilih duduk di belakang.


Sandy tidak ingin memaksa Raesa dia pun naik ke mobil dan langsung menjalankan nya.


" Dimana Alamat kamu tinggal ? "


" Jalan kampus udayana no 105 " Jawab Raesa singkat


Sandy pun melajukan mobilnya nya dengan kecepatan sedang, tak lama kemudia Sandy sampai.


Raesa turun dari mobil , Sandy mengikuti Raesa, Sesampainya di depan rumah Raesa mengetuk pintu rumah.


Tok tok tok


" Assalamualaikum "


Pintu terbuka , Pak Anas terkejut melihat Sandy yang berdiri di belakang Raesa , Raesa langsung masuk ke rumahnya dan langsung masuk kekamar nya .


" Waalaikum salam "


" Bapak bagaimana kabar bapak dan Ibu " Tanya Sandy langsung menyalami Pak Anas


" Ya Allah Nak Sandy, kenapa bisa bertemu Raesa Nak , Ayo silahkan masuk " kemudian Sandy masuk dan duduk


" Ibu keluar lah siapa yang datang " Panggil Pak Anas


Tak lama kemudian Ibu Ani keluar , Betapa terkejutnya Ibu Ani melihat Sandy


" Nak Sandy "


" Ibu " Lalu Sandy berdiri menyalami Ibu Ani


" Bagaimana keadaan Nak Sandy dan keluarga di sana "


" Alhamdulillah sehat Ibu, Tapi Mama koma dia sakit parah " Sandy pun menceritakan kepada Ibu Ani dan Pak Anas


Mendengar cerita Sandy Mereka berdua tak kuasa tampa sadar Ibu Ani menangis sedang pak Anas matanya berkaca kaca.