
Nanda masih terdiam, banyak hal yang di fikirkan, perasaan Kiai dan Ustad Malik.
" Nan kamu kenapa " Tanya Fatma
" Iya kenapa kamu termenung?" Tanya Nanda juga
" Neng maaf kita tidak bisa menyakiti hati Kiai Neng, perasaan Kiai pasti akan hancur"
" Nan aku yang akan mendampingi Abah dan akan membantu meyakinkan Abah " Jelas Aisyah
" Tapi " Belum selesai Nanda bicara Aisyah memegang pundak Nanda
" Insyaallah semua akan baik baik saja" Ujar Aisyah
Lalu Aisyah pamit kembali ke Dalem Kiai. Nanda masih sangat cemas sesuatu akan terjadi kepada Nanda.
Disisi Dalem Kiai, Azam sudah menunggu di pendopo khusus tamu Kiai, tak lama Kiai keluar dari dalam Dalem.
" Assalamualaikum "
" Waalaikum salam Abdullah, ada apa mendadak mau bertemu Kiai" Tanya Kiai Jakfar tersenyum
" Kiai kula purun matur " ( saya mau matur )
Ujar Azam pelan
" Apa yang mau kamu sampai kan Nak " Tanya kiai Jakfar
" kula taksih ing tagih ubanggi kiai"
( Saya sedang di tagih janji kiai ) Ujar Azam dengan kepala menunduk.
" Janji apa Nak Abdullah? bukankah jika berjanji harus di tepati , cerita kan kepada saya"
" riyen wonten satiyang estri ingkang remen dhumateng kula kiai, kula sanjang dhumateng estri niku menawi nresnani kula estri niku kedah ngangge hijab uga kedah dados estri ingkang purun manggen ing pesantren. mila kula badhe rabeni estri niku, jebulna estri niku leres leres mituruti menapa ingkang kula ucapkan kiai . keprehpun nyanjang kiai kula bingung "
( Dulu ada seorang wanita yang suka kepada saya Kiai, saya bilang kepada wanita itu jika mencintai saya perempuan itu harus memakai hijab dan harus menjadi wanita yang mau tinggal di pesantren. Maka saya akan nikahi wanita itu, ternyata wanita itu benar benar menuruti apa yang saya ucapkan kiai . Bagaimana menutur kiai saya bingung ).
Ujar azam yang semakin cemas dan takut Kiai marah dan kecewa.
Mendengar ucapan Azam Kiai Jakfar terkejut dan tidak menjawab pertanyaan Azam. Kiai Jakfar seperti di sambar petir di malam hari. Kiai Jakfar berfikir tentang Aisyah, dia takut Aisyah terluka jika mendengar cerita Azam. tapi yang sebenarnya Aisyah sudah mengetahui tentang Azam dan Nanda.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat,” (QS. An-Nahl: 91).
" Didalam Firman Allah sudah jelas semua janji yang sudah menyebut nama Allah maka harus di tepati. Tapi kamu juga harus melihat nya apakah wanita itu baik atau wanita itu hanya mencintai karena nafsu, sekarang saya bertanya kepada kamu Azam , apakah wanita itu pacar kamu? " Jelas Kiai dan bertanya mengenai wanita itu.
( Kita tidak pernah pacaran kiai. Hanya saja wanita itu sudah sangat berbeda dan sekarang telah berubah. Saya sangat bahagia menerima permintaan kiai menjadikan saya penerus pesantren. Tetapi saya masih bingung dengan apa yang saya janjikan kepada wanita tersebut kiai )
Azam memberanikan diri bertemu Kiai Jakfar dan mengatakan yang sebenarnya. karena Azam juga tidak mau memaksa Aisyah untuk menjadi Istri nya,
yang sudah jelas Aisyah tidak pernah mencintai dan suka kepada Azam.
" Apa kamu tidak mau menikah dengan Aisyah? " Tanya Kiai Jakfar tegas dan lantang seperti marah . azam tidak cepat menjawab.
" Abah jangan memaksa kan suatu keinginan yang orang lain tidak bisa melakukan " Ujar Aisyah yang tiba tiba menjawab nya .
Kiai menoleh ke arah Aisyah yang melangkah menuju Kiai Jakfar dan duduk di dekat kiai Jakfar .
" Apa yang kamu maksud nduk? "
" Aisyah tidak setuju Bah di jodohkan dengan Ustad Abdullah. karena Aisyah akan menyakiti hati saudara Aisyah" Ujar Aisyah yang membuat Kiai Jakfar tidak mengerti yang di maksud Aisyah.
" Apa maksud mu nduk , Abah tidak mengerti kepada kalian berdua" Ujar kiai tambah bingung dengan Aisyah dan Azam.
" Abah tahu Nanda putri Ibu Nafisah? "
" Iya nduk tahu "
" Bah sebelum Ustad Abdullah di panggil kesini. Ustad Abdullah sudah bertemu Nanda terlebih dahulu, dia mengajar ngaji Nanda. saat itu Nanda masih belum berhijab. begitu tahu Nanda suka sama Ustad Abdullah, maka Ustad Abdullah memberi syarat, jika mau berhijab dan mau jadi santri di pesantren, maka akan di nikahi oleh Ustad Abdullah"
Jelas Aisyah kepada kiai Jakfar, yang membuat Ustad Azam tambah takut karena Aisyah menyebut Nanda.
" Apakah kalian benar benar tidak mau saya nikah kan ? " Tanya Kiai Jakfar
" Abah jika saya menikah dengan Ustad Abdullah apa tidak akan menyakiti hati Nanda. selama ini keluarga Ibu Nafisah sangat membantu kita Bah .Bukan karena mereka selalu memberi bantuan .Tapi keluarga Ibu Nafisah sangat baik sekali kepada keluarga kita" Ujar Aisyah meyakinkan Kiai jakfar.
" Abah mau istirahat dulu. Abah mintak maaf tidak bisa memberi keputusan malam ini, Abdullah sudah malam kembali ke pondok " Ujar Kiai Jakfar lalu pergi dengan wajah kecewa dan muram.
" Nggih Kiai" Lalu Azam keluar dari pendopo dan melangkah menuju pondok.
Sedangkan Aisyah mengikuti Abah nya
" Bah maafin Aisyah " Ujar Aisyah Lalu masuk ke kamar nya.
Kiai jakfar melihat anak nya pergi dengan wajah cemberut, Semenjak Umi Aisyah meninggal Kiai Jakfar tidak pernah membuat Aisyah kecewa. melihat wajah putri nya yang cemberut Kiai Jakfar sangat lemah dan seperti sakit hati.
" Maafin Abah Nak , Abah masih mau istihoroh dulu " Seru Kiai Jakfar dalam hati
Aisyah putri kedua Kiai . Sedang kakak tertua Aisyah Gus miftah tinggal di rumah Istrinya menjadi pengasuh di pesantren di rumah Istri nya.