
Keesokan hari nya , keluarga Ibu Nafisah sudah meninggal kan Hotel dan kembali ke kota nya.
Nando sedikit berubah dia menjadi pendiam dan tak bicara, Sandy melihat nya dari kaca spion.
" Eeeheeem. ... Ada yang lagi patah hati " Ledek Sandy sambil melihat ke spion.
" Abi jangan ah di ledekin terus " Ujar Raesa
" Siapa yang patah hati , aku cuma pengen diam saja dan gak mau bicara banyak " Ujar Nando
" Padahal sudah dapat hadiah dari kekasih " Fatma menjawab dari belakang.
" Kak Nando jangan dengerin mereka. fokus saja mengingat kekasih nya " Imbu Nanda meledek Nando
Nando yang mulai tadi di ledekin akhirnya tertawa
" Hahahah Kalian semua suka ya lihat aku sedih"
" Kenapa sih kalian bicara Neng Aisyah lagi,,,, ? " Tanya Ibu Nafisa heran
" Tante mungkin dalam 3 tahun terakhir akan mempunyai menantu Putri Kiai heheheh" Ujar Sandy sambil tertawa.
Semua ikut tertawa kecuali Ibu Nafisah masih tidak mengerti.
" Coba jelaskan apa hubungan Nando sama Neng Aisyah? , terus Azam dan Neng Aisyah sudah bertunangan, mama tidak mau mendengar anak mama merusak hidup orang lain" Ujar Ibu Nafisah tegas.
Raesa pun menjawab dan menjelaskan nya kepada Ibu Nafisah.
" Mama, Azam dan Aisyah tidak saling mencintai, tapi Azam tidak mau menolak perintah Kiai atau kemauan Kiai, sedangkan Neng Aisyah mencintai Nando begitu juga Nando , tetapi mereka hanya sebatas suka, karena mama tahu sendiri bukan kalau Neng Aisyah adalah putri Kiai. Jadi dia masih bisa menjaga diri, sedang apa Azam justru mencintai Nanda Maaa" Jelas Raesa yang membuat Ibu Nafisah bingung hanya mengeleng kan kepada.
" Emang nya Kiai Jakfar mau sama Nando ? Dia kan cuma bisa ngaji aja kalau masalah hukum islam dan yang lain nya kan tidak mengerti" Ujar Ibu Nafisah
" Ya Nando akan belajar ma, sebisa mungkin untuk menyesuaikan diri sama kehidupan Aisyah " Jawab Nando pelan
Nanda hanya diam tidak menjawab apa apa, Nanda sudah siap akan kehilangan Cintanya. Tapi tetap menyerah semua taqdir pada yang maha kuasa.
Di rumah sakit, Aisyah sudah membaik dengan di temani Miftah kakaknya dan Iffah istri Kakaknya.
" Setelah ini obat nya di minum lagi, kalau nanti malam jantung nya stabil besok kita pulang " Ujar Miftah pada Aisyah
" Terimakasih Kak, mbk Iffah, maaf merepotkan kalian" Ujar Aisyah sedih
" Tidak apa apa dik, justru mbk senang bisa jagain kamu " Jawab Iffah.
" Dek coba jujur ke kakak apa kamu tertekan dengan perjodohan ini ? " Tanya Miftah pelan tapi penuh kasih sayang
" Kakak pasti disuruh Abah ya tanya masalah tunangan ini "Ujar Aisyah
" Iya Abah merasa bersalah dek, karena adek sampai kayak gini " Jelas Miftah
" Sebaik nya adik jujur sama Kakak dan mbk, insyaallah Abah juga akan faham kok " Jelas Iffah juga
" Iya kak dan mbk Iffah, sebenarnya Aisyah sudah bilang sama Abah kalau Ustad Abdullah mencintai wanita lain, sebelum ketemu Aisyah. Tapi karena Ustad Abdullah patuh dan manut sama Abah dia mau saja di jodohkan, padahal Ustad Abdullah sudah janji pada seseorang mau menikahi nya sesudah keluar dari pesantren " Jelas Aisyah dengan mata berkaca kaca.
" Apa adik mencintai Abdullah? Kenapa mau menagis segala "
" Aisyah hanya tidak mau memaksa seseorang untuk meneruskan pesantren kita kakak, Aisyah ingin menikah dengan lelaki yang mencintai Aisyah dan Aisyah juga mencintai nya" Ujar Aisyah yang akhirnya Miftah dan Iffah mengerti.
" Baik lah dek , kalau adek mau nya begitu , setelah pulang Kita akan bicarakan ini dengan Abdullah ya " Ujar Miftah sambil mengelus kepala adik nya.
"Kakak sama mbk Iffah Saja bukan di jodohkan melainkan pilihan sendiri. Kok aku malah mau di jodohkan " Ujar Aisyah sambil melirik Iffah. Akhirnya mereka semua tertawa.
" Ternyata Adikku iri sama kakak nya ya " Ujar Miftah sambil mencubit pipi Aisyah .