
Raesa berlari menuju musholla Syaif mengikuti nya , setelah selesai berwudhuk Raesa masuk kedalam musholla dan duduk bersimpuh, Syaif memperhatikan dari belakang, Raesa berdoa mengucap syukur kepada Allah yang mana Zidan telah sehat kembali.
" Puji syukur kepada Mu ya Allah yang telah mempercepat kesembuhan putra hamba, Hamba tidak bisa berbuat apa apa lagi ya Allah kecuali hanya pasrah dengan semua yang engkau Taqdir untuk hamba "
Raesa langsung mengaji sedangkan Syaif pergi meninggalkan Raesa, mungkin Raesa butuh sendiri.
Setelah beberapa jam kemudian Dokter keluar dari ruang ICU menemui keluarga Ibu Nafisah
" Bapak Syaif "
" Iya dokter "
" Sebentar lagi Zidan akan di bawa ke ruang rawat inap , jadi saya berharap tetap berikan semangat dan selalu buat bahagia, karena hanya itu obat nya "
" Terimakasih kasih Dokter "
Lalu dokter pergi , Syaif kembali lagi ke musholla menemui Raesa , sesampainya di musholla Syaif menghampiri nya.
" Sayang Ayo kita temui Zidan, sebentar lagi Zidan akan di pindahkan ke ruang rawat inap "
" Mas maaf pergilah , aku akan disini , jika Sandy sudah pergi aku akan kesana "
" Apa kami takut aku marah ? apa kamu takut aku menyiksa mu lagi " Tanya Syaif pelan
" Tidak mas , hanya saja Raesa tidak mau menyakiti hati mu mas, kamu akan ingat semua yang membuat sakit hati , aku tidak mau Seperti tu "
" Kamu tahu saat ini yang ada di fikiran ku hanya Ingin Zidan sembuh, aku tidak mau egois lagi, ini bukan masalah hati yang mana yang tersakiti , tapi tentang sebuah nyawa yang harus di selamatkan , Mungkin perlakuan ku lah yang membuat mu tidak percaya kepada ku lagi " Ujar Syaif sedih
" Tidak mas, aku bukan pendendam, meski aku merasakan sakit seperti apapun itu , aku akan terima dan mengikhlas kan nya " Jawab Raesa sedih
" Kalau kamu tidak keberatan mari ikut dengan ku , semua nya akan baik baik saja " Ujar syaif lembut penuh perhatian.
Raesa membuka mukenah nya dan berdiri , setelah meletakkan mukenah nya Raesa pergi mengikuti Syaif ke ruang Rawat inap yang sudah di sediakan, dan Zidan juga sudah di pindahkan .
" Assalamualaikum " ucap Raesa ketika masuk keruangan itu.
"Mama " Panggil Zidan tersenyum ketika melihat Raesa di pintu, Raesa yang sangat bahagia melihat senyum Zidan, Raesa langsung melangkah memeluk Zidan.
" Sayang kenapa harus nakal ya buat mama hawatir "
Ujar Raesa menangis.
" Mama jangan nangis Zidan udah baik baik saja "
" Mama menangis bahagia nak melihat mu sudah sadar "
" Ma lihat papa Sandy sudah datang , dia tidak akan ninggalin mama dan Zidan lagi " Ujar Zidan yang membuat Raesa dan Sandy terkejut, tapi tidak dengan Syaif, dia tersenyum, karena bagi Syaif kesehatan Zidan lebih penting. Siapapun akan terluka dan sakit hati jika melihat wanita yang di cintai berada berhadap hadapan , tapi Syaif sudah mendapat hidayah dari Allah, dia menjadi lebih baik lagi bahkan bisa menerima semua kehendak Allah.
Sandy melihat ke arah Syaif , Syaif memberikan kode mengangguk kan kepalanya bertanda setuju dengan apa yang di ingin kan Zidan .
" Papa lagi belajar nak , ini baru selesai " Ujar sandy kepada Zidan
" tapi papa janji ya jangan tinggalkan Mama sama Zidan lagi ya " ujar Zidan pelan sambil meneteskan air mata nya .
Meraka yang melihat itu menjadi sedih dan tak kuasa menahan tangis nya, anak yang sekecil Zidan yang masih umur 4 tahun sudah membuat suasana menjadi terharu.
" Tidak sayang Papa akan berada disini menjaga mu dan menemani mu " Jawab Sandy
Tapi Raesa tetap diam dia hanya menatap Zidan dan memegang tangan kanan Zidan, sedang Sandy berada di sebelah kiri Zidan.
" Mama pulanglah bersama Nando, juga Fatma, biar Syaif dan Raesa yang menjaga nya di sini "
" Biak lah kita akan pulang, tapi tolong kabari kita secepat mungkin perkembangan Zidan " Ujar Ibu Nafisah
" Baik lah kak Nando pulang, kakak Raesa kak sandy kita pulang dulu "
" Raesa jangan lupa makan ya nak kamu tetap tidak mau makan " Ujar ibu Nafisah
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan Zidan menuju parkiran, sesampai nya di parkiran Pak Yono membuka kan pintu mobil nya, lalu mereka masuk, pak Yono menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang.