
Semua keluarga sudah berkumpul, Ibu Ani dan Pak Anas sudah berada di rumah sakit menunggu jenazah yang di mandikan.
Fatma menemani Raesa yang masih mengaji di musholla, Fatma mengambil Handphone nya dan menelfon Nanda.
" Assalamualaikum Nan "
" Waalaikum salam Fatma "
" Ada apa tumben jam segini kamu telfon aku , ini masih jam 4 pagi di situ "
" kamu bisa pulang ? " Tanya Fatma serius
" untuk apa Fatma "
" Zidan sakit parah, kamu harus pulang "
" Aaapaaaaa kenapa kamu baru ngabarin aku "
" Cepatlah cari tiket pesawat yang bisa pulang hari ini juga "
" Baik lah aku usahkan "
Fatma menutup telfon nya dan mengikuti Raesa yang sudah keluar dari musholla.
Sesampai nya di depan kamar mayat, Ibu Ani memeluk putrinya sedang Ibu Nafisah di pegang oleh Nando dan Syaif di pegang oleh pak yono , Sandy juga Azam dan ustad malik sudah menyolati Jenazah Zidan .
Tak lama kemudian setelah semua selesai, mereka keluar .
" Ayah langsung bawa Zidan untuk di makam kan , karena lebih cepat lebih baik " Ujar Raesa tegas, yang sudah lebih kuat lagi menghadapi semua nya.
" Iya nak kita langsung ke pemakaman "
" Ya Allaaaaaaah semua yang ku lakukan sia sia kenapa engkau ambil anak ku , begitu banyak dosa ku ini " Teriak Syaif menangis
Raesa menghampiri Syaif
" Mas mungkin ini jalan yang Allah tunjuk kan supaya Zidan tidak lagi melihat keluarga nya hancur karena cerai" Ujar Raesa singkat , tapi membuat Syaif terkejut. Syaif menyadari kesalahan nya mencerai kan Raesa. Yang kini dia tidak bisa lagi rujuk pada nya.
Raesa mengikuti Jenazah Zidan dan ikut dengan mobil ambulan , begitu juga Syaif. Di dalam ambulan mereka sama sama diam , seakan mereka sudah tidak pernah kenal.lagi.
Jam menunjukkan pukul 7.00 pagi , mereka sudah sampai di pemakaman umum , banyak teman dan karyawan yang hadir di tempat itu.
Setelah semua proses pemakaman selesai. para tamu meninggalkan pemakaman, hanya tinggal keluarga Ibu Nafisah dan pak Anas yang ada makan Zidan
" Nak kenapa meninggal kan Oma? " Ujar ibu Nafisah menangis
" Mama sudah, semua sudah di taqdir kan oleh Allah, Zidan sekarang sudah di surga " Ujar Nando
" Ia Ustad " Jawab Pak Anas
Ibu Ani membawa Raesa menuju mobil, Raesa tidak banyak bicara, meraka semua tidak mengetahui perceraian yang terjadi antar Raesa dan Syaif. Sandy memilih diam apalagi suasana yang belum memungkinkan.
Setelah menempuh perjalanan Kurang lebih 15 jam Nanda sampai di tanah Air. dengan naik Taxi yang sudah di sediakan oleh bandara Nanda langsung menuju rumah.
Sesampainya di depan gerbang Nanda turun memanggil pak Arif Satpam rumah nya .
" Eh non Nanda "
" Assalamualaikum pak Arif "
" Waalaikum salam Non "
Pak arif membuka pintu gerbang nya , Nanda naik lagi ke dalam Taxi dan masuk kedalam rumah itu, Nanda turun langsung mengetuk rumah itu. pintu terbuka.
" Assalamualaikum bik Ijah " Sapa Nanda langsung memeluk bik Ijah
" Waalaikum salam "
" Bik kenapa ruang tamu kursi nya di ganti permadani , ada acara apa Bik " Tanya Nanda heran
" Den Zidan Non " Ujar bik Ijah belum selesai bicara sudah menangis
" Ya Allah jangan bilang Zidan " Nanda langsung menangis belum selesai berbicara, dan langsung menuju ke ruang tamu, dimana ada Pak Anas dan Ibu Nafisah, Ibu Nafisah juga Nando, Syaif , Raesa , Fatma dan Sandy . dan seorang Ustad yaitu Ustad Malik dan Azam yang sedang memberikan ceramah kepada Keluarga Ibu Nafisah.
" Assalamualaikum " Sapa Nanda
" Waalaikum salam " Jawab semua langsung menoleh ke arah Nanda
Nanda langsung memeluk Raesa , begitu juga Raesa memeluk Nanda sambil menangis.
" Kak kenapa tidak menghubungi ku lebih awal , kenapa aku tidak bisa bertemu dengan Zidan " Nanda menangis di dalam pelukan Raesa.
" Allah sudah memberikan Jalan terbaik dari semua nya, Kamu tentunya lebih tahu dari pada kakak tentang taqdir " Ujar Raesa
Azam terkejut melihat kedatangan Nanda yang begitu mendadak. sungguh Azam tidak mampu melihat nya lama lama , karena akan memikirkan banyak hal tentang Nanda, Azam menunduk kan kepalanya. Ustad Malik melirik kearah Azam.
" Nak sebaik nya kita pulang " Bisik Ustad Malik
" Iya yah biar mereka istirahat " Jawa Azam
Akhirnya mereka berpamitan dan pergi.