
Jalan sudah tampak sepi, Kini hanya tinggal Raesa yang belum tidur, sedang kan Peni dan Fatma juga Zidan sudah tidur terlebih dahulu.
" Istirahat lah nak Raesa, ini masih 2 jam lagi mau sampai " Ujar Pak Yono
" Saya tidak mengantuk pak "
" Nak Raesa, sedang tidak enak badan ? "
" Tidak pak saya baik baik saja "
" Sepertinya kurus dan wajah nya juga pucat "
" Tidak apa apa Pak, hanya saja akhir akhir ini sering tidur malam jagain Zidan yang suka rewel "
" Tapi maaf nak , jujur Zidan kurus juga sekarang, kata peni dia sering nanyain Den Sandy " Ujar pak Yono
Raesa mendengar nya menjadi sedih dan tampa terasa menangis, untung saja lampu di dalam mobil sudah mati. Bukan karena cinta kepada Sandy tetapi Raesa ingat semua tentang amarah Syaif jika mendengar nama Sandy dari Zidan. Raesa bisa menerima kenyataan dan taqdir nya. Tapi Zidan seorang anak kecil yang belum mengetahui masalah yang sesungguhnya.
" Pak Yono jangan bahas Sandy lagi ya, biar tuan Syaif tidak marah , takut nya mobil ini sudah ada cctv tersembunyi " Raesa memberi tahu pak Yono untuk tidak membahas nya .
" Baik lah nak , Pak Yono janji "
Akhirnya mereka sama sama diam, dan pak Yono fokus membawa mobil nya.
Setelah menempuh perjalanan 6 jaman mereka sampai. Raesa membangunkan Fatma dan Peni.
Setelah itu mereka masuk keruangan rawat inap yang di tempati Ibu Ani , begitu sampai di depan kamar Ibu Ani mereka masuk.
" Assalamualaikum Ayah Bibik "
" Waalaikum salam, Raesa kamu sudah datang nak "
" Untuk kamu cepat datang, ibu mu menanyakan kamu terus nak " Ujar bik Ningsih
" Pasti Raesa cepat berangkat bik , apalagi ibu sakit "
" Fatma bagaimana kabar mu ? " Tanya Pak Anas pada Fatma
" Sehat Bapak " Jawab Fatma mengikuti
" Dimana Syaif " Tanya pak Anas yang langsung menggendong Zidan
" Mas Syaif di luar kota yah lagi ada pertemuan penting, Besok baru kembali " Jelas Raesa kepada Pak Anas
Raesa langsung duduk di dekat Ibu Ani dan memegang tangan nya
" Bagaimana keadaan ibu Yah "
" Tensi nya sudah stabil Nak "
" Alhamdulillah syukurlah yah "
" Ini cucu ku nak " Tanya Ibu Ningsih
" Iya bik dua cucu bibik "
Tiba tiba Ibu Ani bangun
" Raesa, Raesa, Raesa " panggil Ibu Ani
" Ibu bangun lah , ini Raesa bu "
Ibu Ani membuka mata nya dan melihat kearah Raesa.
" Iya bu, Raesa baik , ibu kenapa sampai drop gitu ? "
" Entahlah nak ibu tiba tiba pusing dan tidak sadar kan diri , tapi nak kenapa kamu kurus dan pucat " Tanya Ibu Ani yang menatap Raesa penuh pertanyaan
" Raesa beberapa hari tidak enak badan bu, Zidan juga, Tapi sekarang sudah mendingan " Jawab Raesa menahan tangisnya. Karena bagi Raesa bertemu kedua orang tua nya adalah obat atas sakit nya .
" Syukurlah nak , ibu juga memikirkan mu nak "
" Ibu ini sudah hampir subuh, Raesa mau sholat dulu ya "
" Pergilah nak "
" Fatma ayo kita sholat. Setelah ini kalian cari penginapan dekat rumah sakit , bawa Zidan istirahat disana , kasian Zidan kalau harus di rumah sakit "
" Baik lah kak " Jawab Raesa
Mereka pun pergi menuju ke musholla dan sholat berjamaah. Selesai sholat mereka kembali ke kamar rawat inap. Fatma dan Peni langsung pergi mencari penginapan di antar Pak Yono , sedang Raesa menemani Ibu Ani .
Jam menunjukkan pukul 12 siang , Syaif yang pulang dari luar kota langsung masuk ke rumah nya dan menyapa ibu Nafisah di ruang keluarga
" Assalamualaikum Mama "
" Waalaikum salam , oh iya Syaif istri mu dan Zidan pergi ke rumah mertua mu, ibu Ani mendadak drop , jadi ibu menyuruh Fatma dan Peni menemani nya " Jelas Ibu Nafisah
" Kapan ma yang berangkat, sekarang bagaimana keadaan nya Ibu ? , seharusnya mama langsung hubungi Syaif, Syaif tidak percaya jika Raesa pergi tampa Syaif " Ujar Syaif seperti kesal
" Kami itu jalan mendahulukan cemburu kamu , sudah tahu Raesa di antar Pak Yono dan Fatma juga peni masih saja tidak percaya, mama capek Lihat kamu bersikap seperti itu cepatlah berubah sebelum kamu menyesal dengan semua cemburu buta mu. Dan mama tidak setuju jika Raesa kamu buat bodoh tidak pegang Handphone seperti itu, kasian dia, Kamu sudah tidak percaya Raesa kok tega nya kamu buat dia sekarang menjadi budak yang harus patuh pada tuan nya, bagaimana dia mau menerima kamu seutuhnya Jika kamu selalu buat dia takut " Ujar Ibu Nafisah marah
" Apa sih Ma, Syaif hanya tidak ingin Raesa pergi dan di ganggu oleh Sandy, itu saja , itu saja "
" Tapi kenapa sampai kamu sita Handphone nya " Tanya Ibu Nafisah marah
" karena saya fikir dia tidak butuh Handphone, dia harus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya " Jawab Syaif angkuh
" Mama tidak akan lagi mengatakan ini, tapi jika nanti kamu sudah menyesal kamu akan ingat nasehat mama "
Ujar Ibu Nafisah lalu pergi meninggalkan Syaif.
Syaif mengeluarkan Handphone nya dan menelfon Pak Anas
" Assalamualaikum Ayah "
" Waalaikum salam Nak "
" Bagaimana keadaan ibuk "
" Alhamdulillah nak sudah membaik, ayah mohon maaf sudah menyuruh Raesa datang kesini tapi begitu Ibu nya pulang nanti, Raesa akan segera kembali "
" Iya ayah tapi jangan sampai bertemu Sandy yah"
" Nak ayah adalah mertua mu , dan kamu adalah anak bagi ayah , jadi ayah tidak akan mengizinkan Raesa menemui Sandy" Jawab Pak Anas yang merasa heran dengan sikap Syaif
" Baik lah yah titip Raesa, maaf Syaif belum bisa kesana hari ini, karena masih ada meeting besok pagi yah "
" Iya nak tidak apa apa , terimakasih pengertian nya nak "
" Baik lah Assalamualaikum "
" Waalaikum salam " Jawab Pak Anas
Pak Anas melihat kearah Raesa yang sedang menyuapi Ibu Nafisah. Pak Anas mulai curiga dengan keadaan Raesa yang memang saat ini sudah tampak kurus dan seperti memiliki masalah dalam keluarga nya. Tapi pak Anas tidak bisa bertanya tentang semua itu, karena melihat keadaan Ibu Ani masih belum sehat dan pulih.