Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
71. Sebuah Tantangan


"Ada perlu apakah tuan Ying dari pusat berkunjung ke kediaman ku?."


Setelah sedikit berbasa basi yang tak berfaedah, akhirnya tuan Pemimpin kota yang juga Patriark keluarga Ming cabang bertanya.


"Saya dari keluarga Ying pusat mendapatkan laporan jika ada ketidakadilan menimpa keluarga Cabang di sini, apakah itu benar?." dengan lugas pula Tuan Ying kedelapan belas berkata.


"Ketidakadilan?, bagian yang mana yang tidak adil bagi keluarga Ying?he..he.." Ming Yuansa tertawa pelan.


"Tuan kota pura pura apa memang benar-benar tak menyadari?." kali ini Patriark keluarga Ying cabang menyahut dalam percakapan tersebut.


Ming Yuansa menatap Patriark keluarga Ying cabang, mereka sudah saling kenal dan jelas jelas hafal karakter keduanya.


"Tuan Ying Poo, aku adalah pemimpin kota yang adil, coba sebutkan bagian yang mana yang menimbulkan ketidakadilan bagi keluarga mu.."


Patriark keluarga Ying cabang yang bernama Ying Poo mendengus kesal. "Mengapa barang barang yang kami datangkan ke tempat ini harus membayar pajak begitu tinggi? padahal jika yang melakukan hal itu keluarga lain, harga pajak nya langsung berbeda.?."


"Ini namanya apa jika bukan pemerasan terhadap keluarga Ying cabang?." Ying Poo berkata sedikit emosi.


"Tuan Ying Poo, aku beritahu ya, jika semua sarana dan prasarana itu membutuhkan perawatan dan perbaikan, armada dagang keluarga Ying anda adalah pengguna jalan terbanyak yang melalui jalur jalur tersebut, sudah sepantasnya jika bayaran yang kami tetapkan juga tinggi." pemimpin kota mengelak.


"Tunggu dulu tuan kota yang terhormat," kata Ying Poo dengan aksen sindiran, "Armada dagang kami hanya membawa gerobak dan kereta yang beratnya beberapa ratus kilogram saja, dalam satu kereta nya, sedang kan bisnis tuan malah membawa ribuan kilogram berat barang nya dalam satu kereta, apakah anda juga membayar pajak?." sindir Ying Poo, sebelum ini Ying Poo memang sudah menyelidikinya, dan memang bisnis tuan kota bebas pajak.


Wajah tuan kota Ming Yuansa menjadi merah padam, dengan perkataan lawan bicara nya, dia merasa di tampar dan di telanjangi di depan tamu tamu undangan yang lain.


"Kurang ajar..!, anda mau menjelek jelek kan keluarga Ming cabang?." Ming Yuansa kini sudah naik pitam. "Apa sebenarnya maksud anda? ingin menekan keluarga Ming? kami tak takut..!."


Suasana makin memanas, perdebatan itu sudah kian menjadi ajang adu mulut.


Kedua belah pihak bahkan sudah berdiri dari duduknya.


"Tunggu..!, tahan ..!," kali ini sesosok iblis tua berdiri dan menghentikan perdebatan itu.


Di kota Diqiu memang semua ras bebas berlalu lalang, dan beraktivitas seperti biasa bahkan bisa ikut berpartisipasi dalam pemerintahan.


"Apa yang di lakukan tuan penasehat?."


"Mengapa dia ikut campur urusan kedua keluarga? bukankah kita hanya tamu biasa disini?."


Suara suara para tamu lain terdengar pelan.


"Maaf Patriark Ying cabang, urusan kota adalah wewenang tuan kota, saya sebagai penasehat mengerti itu."


Nampaknya iblis tua tersebut adalah penasehat kota Diqiu, selain itu dia juga rekanan keluarga Ming dalam berbisnis, jadi sedikit banyak dia akan membela kebijakan tuan kota.


"Kalian memang sekongkol, pasti ini kalian yang telah mengatur nya bukan?." Ying Poo mendengus kesal.


**


Di tempat lain, terlihat tiga bayangan melesat sangat cepat menuju sebuah tempat yang sudah di sepakati.


Ketiga nya adalah anggota Bunga Kematian, Tuan Ji, nona bulu emas dan pria mata satu.


Mereka kini tengah berhadapan dengan seorang pria yang di kelilingi berapa pengawal nya.


"Maaf tuan, kami gagal menyelesaikan misi ini."


"Itu karena kami di ganggu salah satu keluarga kuat, keluarga Ying," kata tuan Ji pelan.


"Keluarga Ying?, hmm.. ada apa dengan keluarga itu?." gumam tuan misterius tersebut sambil mengusap usap dagunya.


Tuan misterius itu menatap ke arah anggota Bunga Kematian, "Tetap awasi dan lacak dimana anak itu berada, jika tiba waktunya kita ambil alih."


Tuan Ji, nona bulu emas dan pria mata satu mengangguk.


**


"Kita jangan membuat kerusuhan di kota ini, karena di kota ini jelas tertulis 'aturan keras' untuk para perusuh, bagaimana jika urusan ini kita selesai kan di arena pertarungan yang di wakili generasi pemuda?." penasehat kota masih berkata.


"Karena dari generasi peneruslah, kita bisa mengukur kekuatan keluarga kita kedepannya." sang penasehat mengusulkan.


Keluarga Ming terlihat tertawa lebar, namun berbeda dengan Keluarga Ying, sedikit raut kesal di tampakkan oleh keluarga itu.


Saat ini di kota Diqiu, generasi muda dari keluarga Ming memang banyak dikenal hebat, mereka dianggap sosok sosok muda yang berbakat. ada Ming He Yun, remaja berusia 15 tahun dengan kultivasi di ranah Menengah 9 akhir, Ming Tse hutian berusia 19 tahun kultivasi nya berada di ranah Awal Tinggi 2 lalu ada Ming qin chen gadis muda berusia 16 tahun yang memiliki kultivasi di ranah Awal Tinggi 1, lalu dua pemuda kembar yang berusia 17 tahun berada di ranah Menengah 9 akhir.


Itulah beberapa generasi penerus yang di gadang gadang menjadi sosok penguasa keluarga Ming kedepannya di kota Diqiu, meski masih ada yang lainnya juga dan beberapa yang menonjol.


"Bagaimana tuan tuan?." kata penasehat kota sambil menatap Ying Xue Yu dan Ying Poo. "Apa kalian berani?."


Ying Xue Yu terdiam menatap Ying Poo, keputusan tersebut wewenang Ying Poo yang lebih mengenal anggota keluarga nya.


"Jika kalian memang berani sih.., kita bahkan bisa membuat sebuah taruhan, dan saat ini ada banyak tamu undangan yang akan menyaksikan, jadi siapa yang jadi pecundang akan terlihat." Ming Yuansa menatap semua tamunya dari keluarga Ying dengan penuh kesombongan, seakan akan kemenangan tersebut sudah dalam genggamannya.


"Kurang ajar, rupanya ini rencana yang mereka susun, untuk merendahkan martabat keluarga Ying."


Wajah Ying Xue Yu sedikit muram, dirinya benar benar tak tahu kekuatan dari keluarga cabang nya. "Bagaimana Poo dengan tantangan mereka?." bisik nya pelan.


"Baik, aku setuju Paman ke-delapan belas..!, saat ini aku membawa empat generasi terbaik dari keluarga Cabang." sahutnya pelan.


"Aku pegang kata katamu, jangan mempermalukan keluarga kita." Ying Poo mengangguk, mendengar perkataan Ying Xue Yu.


"Bagaimana Tuan Ying?, apakah kalian setuju kita taruhan dalam pertarungan ini?." Ming Yuansa kembali menantang.


"Apa taruhan nya?." Ying Poo bertanya.


"Siapa yang menang akan mendapatkan hak atas lembah Utara secara penuh, dan bisnis tersebut akan di lindungi oleh undang undang peraturan kota."


Lembah Utara adalah tempat pertambangan yang selama ini menjadi rebutan berbagai keluarga terutama dua keluarga tersebut.


Ying Poo sesaat terdiam, saat ini keluarga Ying mereka memegang hak sebesar 25 persen dan itu paling banyak, karena keluarga Ming hanya 15 persen, bahkan ada keluarga lain yang hanya 5 persen.


"Jadi jika kami menang, kami memiliki hak pengelolaan atas tempat itu sepenuhnya? dan di lindungi undang undang peraturan kota?."


"Benar, itu jika kalian menang dalam pertandingan ini," sahut Ming Yuansa. "Namun sebaliknya jika kami yang menang, kami akan menendang kalian dari tempat itu..he..he.." Ming Yuansa terkekeh dengan tatapan mengejek.


____________


Jangan lupa dukungannya...