Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
146. Serangan Kelompok Kelabang Pemangsa


Rombongan makin bergerak ke Utara.


Yuang Fengying masih tenggelam dalam kultivasi nya, matanya terpejam dengan penuh konsentrasi menyerap kekuatan langit dan bumi sepanjang perjalanan.


Meski saat ini remaja tersebut berada di rombongan gerbong kereta, namun kekuatan langit dan bumi yang mengalir ke tubuhnya membuat orang orang merasa sesak dan tertekan, bahkan beberapa orang sudah berpindah ke gerbong lainnya karena sedikit tertekan.


Tetua Luang Yiang menatap Yuang Fengying dengan pandangan takjub, "Sungguh bakat yang luar biasa."


Dari kekuatan alam yang mengalir ke arah Yuang Fengying bisa di rasakan jika remaja itu sangat kuat dengan kultivasi yang tinggi.


"Kita memasuki kelompok Jubah Putih," tetua Luang Yiang terdengar memberitahu rombongan nya.


Kelompok Jubah Putih adalah salah satu dari 'Rumah Kebenaran', mereka adalah kelompok kepercayaan keagamaan yang bergerak di bidang kemanusiaan namun juga memiliki basis kekuatan kultivasi.


Mereka tak terlalu mencampuri urusan keduniawian, memiliki kekuatan hanya untuk melindungi diri dari segala bentuk kejahatan yang nyata, seperti perampokan, perkosaan dan penindasan nyata yang terjadi di depan mata, tak ingin ikut campur dalam trik dan intrik politik perebutan kekuasaan.


Dengan prinsip seperti ini para anggota 'Rumah Kebenaran' tak terlalu di usik maupun mengusik siapapun yang berkuasa.


Mereka akan di biarkan dan tak di perhatikan oleh pihak pihak yang berebut kekuasaan.


"Persiapan diri bagi yang ingin berhenti dan menetap di sini..!." Luang Yiang kembali memberikan peringatan kepada orang orang yang di bawanya.


Iring iringan tersebut memasuki sebuah gerbang batu dengan warna putih, gerbang inilah yang menjadi batas wilayah sesungguhnya dari kelompok Jubah Putih.


Beberapa sosok berkelebat menyambut iring iringan yang di bawa Luang Yiang.


Terlihat seorang tua dengan kepala botak dan kumis serta jenggot panjang berdiri di sana.


Pria tua botak itu berdiri bersama anggota nya yang lain.


"Selamat datang di Rumah Kebenaran Jubah Putih." sambut pria tua tersebut dengan tersenyum ramah.


**


Rombongan Luang Yiang sudah kembali bergerak ke Utara, saat ini hanya ada empat gerbong kereta yang di tarik kuda, itupun tiap gerbong hanya berisi belasan orang saja.


Jika di total saat ini yang menuju Utara atau kelompok Lembah Tiga Puncak tinggal kurang dari lima puluh orang saja.


Yang lain memilih menetap di kelompok Jubah Putih, dan berniat menjadi pelayan kemanusiaan, meninggalkan kerasnya jalur persilatan.


Dengan anggota yang makin sedikit membuat rombongan itu makin cepat bergerak.


Hanya dalam beberapa saat saja mereka sudah berada beberapa kilometer jauhnya dari wilayah kelompok Jubah Putih.


Saat mereka bergerak tiba tiba alam sedikit bergetar, beberapa bayangan terlihat berdatangan dan menghadang jalan rombongan Luang Yiang.


Tetua Luang Yiang langsung berwajah muram, kedatangan orang orang tersebut pastinya tidak berniat baik.


"He..he..sampah sampah kini berserakan dimana mana." pria muda yang ternyata Kelabang Pemangsa berkata penuh penghinaan.


Pria itu menghadang rombongan Luang Yiang dengan beberapa anggotanya.


"Rupanya kalian." Luang Yiang hanya berucap pelan, tahu jika orang orang ini bagian dari para penghancur markas perguruan Bukit Bayangan.


"Kepung..!, jangan sisakan seorang pun, jangan salahkan kami bertindak kejam, karena kalian sudah di beri pilihan sebelum nya."


Kelabang Pemangsa lalu melepaskan aura kekuatan nya, bersama seluruh anggota nya dia mengepung rombongan Luang Yiang.


Kelabang Pemangsa langsung melesat mendekat ke arah Luang Yiang, "Aku akan membunuhmu..!."


Saat ini Luang Yiang dan Kelabang Pemangsa sudah memisahkan diri sedikit menjauh mencari area pertarungan.


Dua sosok yang merupakan pemimpin dari kelompok masing masing itu tengah bersiap untuk berduel.


Kelabang Pemangsa sudah mengaktifkan unsur elemen kekuatan nya, pengolah kekuatan logam dengan sedikit api ini sudah memunculkan bayangan pedang di genggaman nya.


Area pertarungan dua orang itu kini terlihat seperti membara, hawa panas menguar dan membakar apapun yang ada di sekitarnya.


**


"Ha...ha... mau kemana kalian..?, saat ini nyawa kalian ada di tanganku." seseorang berbaju hijau tertawa mengejek para murid dari perguruan Bukit Bayangan.


Kelompok yang di bawa Kelabang Pemangsa ada dua puluh orang, dari jumlah tersebut rata rata mereka berada di ranah Bumi Jiwa dan Bumi Sejati, hanya pria berbaju hijau dan Kelabang Pemangsa yang berada di ranah Raja Bumi awal.


"Benarkah? nyawa kami ada di tanganmu?." seorang murid senior dari perguruan Bukit Bayangan terlihat berani menentang pria berbaju hijau itu, murid ini bermarga Chen.


Pria berbaju hijau langsung menyipitkan matanya, kemarahan nya langsung menyembur begitu ada yang berani menantang ucapan nya.


"Dasar manusia sampah..!, kau tak mengerti arti kematian ya?." pria berbaju hijau menghardik keras.


Lengan pria itu berkelebat, dari ayunan lengannya tercipta cincin angin yang melesat kedepan.


Kekuatan yang datang tiba tiba itu menggulung murid senior dari perguruan Bukit Bayangan, pemuda berusia dua puluhan itu berusaha untuk menghindar, namun kekuatan lawan yang bergulung gulung itu seperti menelannya.


"Ugh sial senior Chen pasti celaka." salah satu murid berteriak ketakutan saat serangan lawan menggulung sosok senior tersebut.


"Kekuatan lawan terlalu kuat, jika kita lawan langsung pasti kita akan kalah."


"Sebaiknya kita keroyok bersama sama." sahut yang lainnya.


Yuang Fengying langsung meloncat, menebaskan tangannya menciptakan sebuah kekuatan yang terlihat menghancurkan gulungan serangan pria berbaju hijau.


BAAMM...


Gulungan kekuatan itu akhirnya musnah, sebelum benar benar menghancurkan senior chen.


Pemuda dua puluhan itu langsung pucat pasi wajahnya, tak menyangka serangan lawan begitu menakutkan.


"Keparaat..!, siapa yang menghancurkan serangan ku..!," pria berbaju hijau meraung marah, matanya langsung berputar mencari sosok yang di rasa menganggu serangannya.


"Dasar berandalan tengik, kau rupanya yang telah merusak serangan ku." pria berbaju hijau kini menatap tajam Yuang Fengying, pria itu langsung meninggalkan murid senior dari perguruan Bukit Bayangan dan menyerbu ke arah Yuang Fengying.


"Cari mati...!," pria berbaju hijau langsung membanting tangan nya ke arah Yuang Fengying, melepaskan serangan yang sama, yakni gulungan kekuatan angin yang mampu merobek kulit jika di biarkan.


Yuang Fengying tersenyum miring, melihat serangan lawan-nya.


Dengan cepat tangan kanan Yuang Fengying berputar, lalu menciptakan gulungan serangan yang hampir mirip serangan lawan namun gerakannya di putar, berbalikan arah.


WEEENG...


Dua kekuatan gulungan angin berputar sangat cepat menerjang ke depan memporak porandakan alam sekitar yang ada di jalur lintasannya.


Gulungan cincin angin putaran kekuatan yang berlawanan arah bertemu dan meledak.


BLAAAR...!


Pria berbaju hijau sedikit terpana serangan yang selama ini menjadi andalan nya hancur berantakan di tepis lawan.


"Hanya seperti ini?." ledek Yuang Fengying, dengan pandangan mengerling nakal, meremehkan lawannya.


Pria berbaju hijau menelisik tingkatan kultivasi Yuang Fengying, kembali terkejut, anak sebegitu muda sudah berada di tingkatan Bumi Sejati, sedikit di bawah kultivasi nya, yang berada di ranah Raja Bumi awal.


"Jangan besar kepala, aku masih memiliki trik lain..!." pria berbaju hijau membentak Yuang Fengying.


____________


Jangan lupa dukungannya