Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
138. Kekacauan di Bukit Bayangan


Di perguruan Bukit Bayangan.


Terlihat beberapa tetua masih terlihat menunggu di gedung tua di mana Yuang Fengying masuk dan di uji di sana.


Tetua agung dan tetua regulasi juga masih di sana, keduanya terlihat cemas.


"Sudah lebih dari satu hari namun anak itu belum keluar juga?." tetua Kim atau tetua agung terlihat sedikit gelisah.


"Padahal menurut peraturan yang lalu seseorang akan di kirim kembali keluar, setelah sehari semalam di sana."


"Ya, aku juga mendengar tentang peraturan itu." tetua Kim mengangguk.


"Sayangnya kita tidak termasuk generasi yang pernah masuk kesini," keluh tetua regulasi yang juga di angguki oleh tetua Kim.


Dua petinggi perguruan Bukit Bayangan itu mengangguk bersamaan, diikuti oleh para tetua yang hadir di sana.


Saat ini di luar perguruan Bukit Bayangan terlihat beberapa bayangan melesat ke arah perguruan tersebut.


Beberapa bayangan itu sangat cepat dalam bergerak menandakan kekuatan orang orang tersebut sangat tinggi.


Mereka kini sudah berada beberapa kilometer dari perguruan itu.


"Siapa yang berani datang dan menyebar kekuatan disini..?!." tetua regulasi langsung meraung begitu menyadari aura kekuatan yang terpancar hingga ke dalam perguruan.


Tetua Kim juga terlihat murka dengan orang yang di rasa tak memiliki sopan santun.


"Hadang orang orang tak berbudi itu..!." perintah tetua agung.


Beberapa tetua termasuk master Xingguang melesat menuju ke gerbang depan perguruan.


Mereka berdiri dan terbang di gerbang perguruan untuk menghadang beberapa orang yang melepaskan aura kekuatan nya.


Tak lama berselang, dari arah depan bermunculan beberapa orang dengan wajah yang terlihat tak ramah.


Mereka terdiri dari sepuluh orang yang semua berada di ranah Raja Bumi pertengahan hingga akhir.


Mereka berhenti begitu melihat beberapa orang sudah menghadang di depan gerbang perguruan yang di tuju.


Orang orang itu menatap anggota perguruan Bukit Bayangan yang menghadang langkah nya.


"Adakah disini yang paling berkuasa atas tempat ini?." pria dengan baju seret hitam terdengar berkata dengan suara berat. Pria itu maju selangkah dari sembilan orang lainnya.


"Ada keperluan apa kalian datang ke sini..?." master Xingguang, berkata sambil mencoba menelisik orang orang tersebut.


Jika di lihat dari pakaian yang di kenakan mereka terdiri dari beberapa kelompok yang berbeda.


"Apa kau yang paling berkuasa di sini..?." pria berbaju seret hitam balik bertanya.


"Aku salah satu tetua di sini, aku berhak menanyakan ada kepentingan apa kalian menerobos masuk ke wilayah kami begitu saja."


Pria dengan baju seret hitam tertawa sumbang, "He..he.. hanya anjing pesuruh bertingkah seperti majikan, panggil tetua utama mu..!." bentak nya.


Master Xingguang dan tetua lain terlihat merah wajahnya, nampak nya orang orang yang datang bukan orang yang bisa diajak berbicara dengan baik baik.


"Sampah seperti kalian mau bertemu dengan pemimpin tempat ini? huh..sungguh percuma." balas salah satu tetua di samping master Xingguang.


Pria dengan baju seret hitam mendengus, wajahnya menjadi sangat jelek. "Jika begitu jangan salahkan kami jika menghancurkan tempat ini."


Begitu pria baju seret hitam itu selesai berkata, alam langsung bergolak.


Aura Kekuatan dari pria tersebut langsung di lepas bebaskan.


Begitu juga dengan sembilan orang yang ada di belakangnya.


Mereka langsung menekan para tetua itu dengan aura Raja Bumi yang mereka lepaskan.


"Apa..!, mereka semua berada di ranah Raja Bumi?, bahkan beberapa sudah berada di ranah Raja Bumi akhir?."


Saat ini sebagian dari para tetua di tingkatan Raja Bumi akhir bahkan sedang menjalani misi dan tak berada di tempat itu.


Perbedaan level dalam sebuah tingkatan sungguh sangat berarti, perbedaan kekuatan satu level bagi orang biasa seperti langit dan bumi.


"Cepat kau panggil tetua agung mu, jika tidak kalian akan kami bantai di sini." ancam pria berbaju seret hitam, sambil menyeringai jahat.


Sebuah aura yang kuat tiba tiba datang dari arah belakang, "Aku sudah disini..!," tetua Kim terlihat melayang di balik para tetua perguruan Bukit Bayangan.


Bukan hanya tetua Kim sebagai tetua agung, tapi juga tetua regulasi serta satu sosok yang terlihat sangat tua yakni sesepuh Chun.


Sesepuh Chun adalah tetua Agung perguruan Bukit Bayangan beberapa ratus tahun yang lalu, dan kini masih berlatih tertutup untuk menembus ke ranah Kuasa Sejati.


Nampak nya saat ini dia harus keluar dari pengasingannya begitu merasakan aura kuat yang di ciptakan para penyusup tersebut.


"Perkenalkan aku Man Jin dari kelompok Iblis Darah, aku rasa kalian tahu kelompok ku, bukan?."


"Apa..!, kelompok Iblis Darah..?. kelompok yang termasuk sepuluh besar di benua ini?." wajah orang orang Perguruan Bukit Bayangan makin terlihat tertekan.


Kelompok iblis Darah memang bukan berasal dari kerajaan Istana Bintang, mereka hanya mengenal namanya saja dan belum pernah bersinggungan langsung, tapi kelompok tersebut sungguh kuat setingkat dengan Menara Surga yang ada di wilayah kerajaan itu.


"Ada tujuan apa saudara Man Jin berkunjung di tempat kecil ini?." tetua Kim kini bertanya sedikit merendah.


Wajah pria dengan baju seret hitam terlihat pongah, begitu tetua Kim terlihat menurunkan nada bicaranya.


"Aku ingin perguruan ini menjadi bawahan dari kelompok ku..!." kata pria dengan baju seret hitam dengan penuh kesombongan.


"Bawahan kelompok iblis Darah?." ulang tetua Kim.


"Ya, secara teknis begitu, namun sesungguhnya menjadi bawahan dari tuan ku."


Tetua Kim terdiam sesaat, kelompok Iblis Darah terkenal hebat, tapi juga terkenal karena jalan sesatnya.


"Maaf saudara Man Jin, aku rasa kita berbeda jalur, dan tidak tepat jika kami kelompok kebajikan menjadi bagian dari kalian, kami kelompok yang mandiri."


Raut wajah Man Jin langsung berubah seketika, pandangan kejam kini terlihat di wajah tersebut.


"Jika demikian maka wilayah ini harus musnah..!." Man Jin langsung melempar kan tangannya kedepan, tanpa basa basi lagi.


Gelombang angin hitam yang berputar putar dengan panas api yang juga hitam di dalamnya langsung menyebar ke depan.


Gelombang kekuatan angin dan api hitam itu membentuk perwujudan cakar raksasa yang mencoba meraup apapun di depannya.


"Cakar Iblis Darah - Nyanyian Kematian..!."


Bayangan cakar raksasa yang gelap tercipta dari unsur elemen api hitam dan angin hitam tersebut memporak porandakan apapun di sekitarnya.


Tetua Kim langsung mencabut senjata kipas yang ada di pinggangnya, mengayunkan sebuah kekuatan yang di harapkan mampu membuyarkan serangan lawan.


"Badai Amukan Dewa..!."


Begitu kipas itu di ayunkan, sebuah Lesatan kekuatan meledak dan menyerbu ke depan.


Ledakan Kekuatan itu menerjang cakar raksasa yang kini mengaduk aduk tempat itu.


BAAAM...


Ledakan kekuatan yang di ciptakan tetua Kim, menerjang cakar hitam raksasa lawan, membuat alam bergetar dan berguncang.


Sungguh dua kekuatan yang sangat menakutkan.


_________


Jangan lupa dukungannya..