
Tan Yoengsan mulai berniat menyerang koloni binatang yang berkerumun di halaman menuju gua.
Dengan bantuan kelompok lainnya yang baru datang bergabung, maka mereka kini makin bertambah kuat dan siap untuk menyerang.
Groaaarr..!
Sekelompok serigala ekor api dan beberapa gorila tubuh besi langsung meloncat mendekati orang orang yang tampak memasuki wilayahnya tersebut.
"Hancurkan...!."
Tiba tiba kelompok lain sudah berteriak dan bergerak terlebih dahulu, mendahului kelompok Tan Yoengsan, karena mungkin mereka ingin mendapatkan harta karun terlebih dahulu, jadi mereka tak sabaran untuk maju dan langsung menyerang.
Seseorang dengan jubah hijau melesat lalu mengayunkan tangannya, menciptakan ratusan pedang yang berputar di udara, pedang itu tercipta dari unsur Kayu.
"Seribu Pedang Keabadian..!." teriaknya sambil melempar lengannya kedepan, seiring dengan lemparan tangan itu ratusan pedang kayu yang terlihat kuat melesat kedepan menghujani koloni binatang binatang itu.
Siuuu... Siuuuu...
Disaat ratusan pedang itu melesat mengancam koloni Serigala Ekor Api dan Gorila Tubuh Besi, tiba tiba meloncat seekor Harimau Besi Loreng Emas yang berbeda dengan lainnya, tubuh nya jauh lebih besar dan terlihat lebih kuat.
GROAAARR...!
Harimau itu meraung keras, nampaknya harimau itu bukan jenis binatang buas, tapi jenis binatang iblis -siluman.
Raungan itu menciptakan sebuah bulatan kekuatan yang berputar terus dan membesar membentuk bola energi yang siap meledak.
weeeng.... BOOM..!
Ledakan keras terdengar saat dua kekuatan itu bertemu dan saling bertubrukan.
Nampaknya Harimau Besi Loreng Emas ini adalah pemimpin sesungguhnya dari koloni binatang buas yang ada di sana.
Laki laki berjubah hijau terpental, terlempar beberapa ratus meter, terkena hempasan ledakan kekuatan dua kekuatan yang bertubrukan itu.
"Gawat..!, tetua Lee terlempar, Dia terkena serangan balik dari ledakan itu."
"Itu binatang iblis yang sungguh sangat kuat." Semua menatap harimau iblis yang kini berdiri menakutkan.
"Untung nya masih ada tetua tetua lainnya, jadi kita tak perlu khawatir."
Begitu laki laki berjubah hijau terlempar, muncul dua bayangan yang terlihat maju kedepan untuk menghadapi binatang binatang penjaga tersebut , mereka adalah sosok tua dan wanita berbaju merah.
Dua orang itu langsung mengaktifkan kekuatan unsur elemen yang dimiliki nya.
Sosok tua itu memutar tongkat nya, menciptakan pusaran gelombang serangan berunsur angin.
Kekuatan angin yang mampu mengikis apapun itu menerjang ke arah sekumpulan binatang yang sudah bergerak menyerang balik.
Sedangkan wanita berbaju merah itu mengayunkan tangan nya, sebuah semburan api tampak menerjang dari gerakan tersebut.
Kumpulan binatang itu tetap meloncat maju, meski ada kekuatan yang menyerang namun binatang itu tak terlihat takut.
Beberapa Gorila tubuh besi mengayunkan lengannya, mereka mencoba memecah gelombang angin yang terlihat kuat menerjang secara bersama sama.
BAAANG...!
Sosok tua yang menyerang dengan kekuatan angin itu terkejut, kekuatan binatang binatang itu cukup menakutkan, begitu juga dengan wanita berbaju merah.
Setelah melihat kelompok lain gagal, Tan Yoengsan dan kelompok nya kini maju, Aura kekuatan yang di lepaskan pemilik ranah Raja Bumi itu sungguh sangat kuat.
Koloni binatang sesaat terdiam dan mundur dua langkah, tertekan oleh sebuah kekuatan yang tak terlihat.
Tan Yoengsan mengulurkan tangannya, sebuah kekuatan bayangan tangan besi raksasa tercipta dan terulur menghantam kerumunan koloni binatang tersebut.
Alam kembali bergetar dengan hebat saat serangan lengan rakasa itu di balas oleh serangan gabungan binatang binatang itu.
Akibat pecahnya ledakan energi kekuatan itu, menghancurkan hewan dan orang orang lemah yang ada di sekitar nya .
Mayat bergelimpangan, genangan dan ceceran darah ada di mana mana, membuat wilayah tersebut tampak mengerikan.
**
Yuang Fengying kini sudah berada di ruang utama gua, melihat struktur bangunan gua itu, nampaknya tempat tersebut adalah bekas hunian pada masa dulu nya, sebab tempat Yuang Fengying berada sebelum nya seperti sebuah kamar pribadi seseorang.
Saat ini remaja itu sudah berdiri di sebuah ruang yang luas, seperti semacam aula dari bangunan gua tersebut.
Di bagian depan terlihat sebuah altar berbentuk panggung, yang sedikit lebih tinggi beberapa meter permukaan nya daripada yang lain.
Di altar tersebut terdapat beberapa perkakas seperti semacam lemari besar tanpa pintu dengan beberapa sekat dan berbagai macam benda benda peninggalan tertata di sana.
Benda benda tersebut bukanlah benda biasa, semua memiliki fungsi dan keunikan tersendiri, ada senjata serang, senjata pendukung, artefak dan berbagai herbal yang sangat berharga.
Namun bagusnya dari harta warisan disini adalah adanya peraturan yang tertulis di tangga naik altar.
Di sana tertulis jika para pengunjung hanya bisa mengambil satu benda dari tempat itu.
Untuk naik ke altar hanya ada satu jalan masuk- naik dan keluar- turun, sebelah kiri untuk naik dan sebelah kanan untuk turun, sisi lainnya terlihat di batasi oleh selaput cahaya tipis yang merupakan segel formasi pengaturan penjagaan, jadi orang di luar altar bisa melihat apa saja yang telah di ambil orang orang itu di sana.
"Aula Keadilan..!." teriak orang orang yang kini juga sudah mulai memasuki ruangan hampir bersamaan dengan Yuang Fengying, namun dari arah yang berbeda.
Kata 'Keadilan' berarti tak boleh ada yang serakah, dalam mengambil barang tak boleh seenaknya, satu orang hanya satu barang.
Orang orang yang terdiri dari beberapa kelompok termasuk kelompok Tan Yoengsan juga sudah tiba di tempat itu, mungkin ada sekitar sepuluh kelompok termasuk kelompok dari istana itu.
Kelompok kelompok itu kini terlihat saling menatap ke semua kelompok lain dengan tatapan garang, dan penuh dengan permusuhan, keserakahan terlihat dalam sorot mata itu.
Meski kelompok Tan Yoengsan kelompok yang terkuat namun mereka juga tak berani gegabah, karena jika nekat dan kelompok lain bersatu maka rombongan istana itu masih bisa di kalahkan.
"Bagaimana kita menentukan siapa yang akan naik ke altar terlebih dahulu?." seseorang yang sudah tak sabar berkata.
"Tak akan kubiarkan siapapun memasuki nya, jika tak sesuai kesepakatan." seru yang lainnya dengan suara lantang.
teriakan teriakan mulai bersahutan.
Yuang Fengying kini juga bingung, jika mundur dari pengambilan harta karun sesuatu hal yang tidak mungkin, namun jika mau ikut menjarah juga masih belum jelas bagaimana aturannya.
Dengan kekuatan nya saat ini tak mungkin bertempur sendirian, dan mengalahkan ratusan orang seperti ini.
"Kita lakukan pertarungan singkat..!, untuk menentukan siapa yang berhak maju terlebih dahulu." sebuah usulan di lontarkan oleh sebuah kelompok.
"Maksud nya..?."
"Kita lakukan pertarungan dalam lima jurus, yang menang akan maju terlebih dahulu, bagaimana?."
"Maksud anda siapa saja yang menginginkan harta benda di altar harus bertarung terlebih dahulu?."
"Ya benar, nanti yang menang akan mendapatkan giliran terlebih dahulu.
Setelah terdiam sesaat semua sepakat, melihat banyaknya harta benda di almari altar pasti akan cukup untuk semua orang yang ada di sana.
____________
Jangan lupa dukungannya...