
Saat ini di arena satu sudah berdiri dua peserta pria.
Satu orang berusia 17 -18 tahun, sementara yang satunya mendekati akhir batas peserta yakni berusia 20 tahun.
Laki laki yang lebih muda memiliki unsur elemen logam, sementara laki laki lebih tua dengan baju tanpa lengan, memiliki unsur elemen api.
"Mulai...!." teriak Juri pertandingan setelah keluar dari arena panggung.
Dua peserta itu langsung maju mendekat untuk bertarung.
Pria yang lebih muda dengan unsur elemen logam sudah mengaktifkan unsur elemen logam nya, lengannya kini berpendar sebatas siku, nampaknya Kuasa atas unsur elemen tersebut masih berada di tingkat Pengendali tingkat 9.
Kekuatan energinya juga sudah meledak, menampakkan Tingkatan kultivasi nya yang berada di ranah Awal Tinggi akhir.
Sementara lawannya yang lebih tua dengan baju tanpa lengan sedikit lebih kuat, baik dalam kultivasi maupun Kuasa atas unsur elemen.
Saat ini pemuda dengan baju tanpa lengan itu berada di kultivasi ranah Bumi Dasar 1, dengan tingkatan Kuasa atas Api di Pengendali tingkat 10.
"Tinju Baja...!." pria lebih muda sudah menyerang, menghantam kan tinjunya.
Pemuda dengan baju tanpa lengan juga menghantamkan pukulannya.
Dua tinju bertemu, dua kekuatan saling bertubrukan, menciptakan ledakan kekuatan yang melebar dan terbuang ke segala arah.
Meski pria muda kalah dalam segala tingkatan namun di arena tak menampakkan hal itu, pertarungan keduanya berjalan dengan alot.
Dua duanya memiliki tekad kuat dalam pertarungan, tak ada yang mau mengalah.
"Hembusan badai api...!." Pemuda dengan baju tanpa lengan, melempar tangannya kedepan.
Lesatan kobaran api menerjang ke arah lawannya, kekuatan api yang menyebar seakan mampu membakar apapun itu terlihat menakutkan.
Namun pria yang lebih muda langsung menghantam kan tinjunya, gelombang kekuatan menyapu badai api yang berniat menyerangnya.
Pertarungan kian seru, berlangsung hingga beberapa saat, namun akhirnya pertarungan itu di menangkan oleh pemuda dengan baju tanpa lengan.
Setelah pertarungan pertama berakhir juri kembali naik ke panggung, mengesahkan siapa pemenang dari pertarungan pertama itu, kemudian memanggil peserta berikut nya.
"Yuang Fengying..!." juri pertandingan memanggil nama Yuang Fengying untuk naik ke panggung arena.
Setelah memanggil namanya, juri memangil lawan dari remaja tersebut.
Seorang pemuda berumur 18-19 tahun dengan kultivasi ranah Bumi Dasar 9, memiliki unsur elemen Tanah, saat ini pemuda itu terlihat sudah berdiri di depan Yuang Fengying.
"Mulai...!." teriak Juri pertandingan.
Lawan Yuang Fengying langsung melesat menyerang, nampaknya pemuda itu tak ingin berlama lama, ingin segera memenangkan pertandingan.
Ayunan lengannya membawa aroma tanah yang menyusul dalam pukulan tersebut.
Aroma itu kian pekat dengan terbentuknya sebuah tinju raksasa dari unsur elemen tanah.
krataaakk...
Lengan tanah yang sudah terbentuk itu langsung meninju ke arah Yuang Fengying.
Yuang Fengying masih berdiri kokoh, tak bergeser sedikit pun.
Begitu lengan tanah bentukan lawan yang sedang menerjang tinggal satu tombak, Yuang Fengying mengibaskan tangannya dengan cepat, gerakan itu langsung memecahkan wujud tinju yang di ciptakan lawan.
BYAAAR...!
Lengan ciptaan lawan buyar, Kembali menjadi serpihan debu yang di tiup angin.
"Apa..!." Pemuda itu melotot, tindakan Yuang Fengying menandakan tinggi nya tingkatan 'Kuasa' atas tanah, melebihi pemuda tersebut.
"Serbuan Sisik Naga..!." pria itu menggerakkan tangan nya, meski serangan pertama gagal namun pemuda itu masih tak mau menyerah.
Gumpalan tanah terangkat, lalu memecah dan membentuk bulatan bulatan kecil sebesar kerikil langsung berputar di badan pemuda tersebut, setelah terbentuk sempurna bulatan bulatan itu melesat menyembur ke arah Yuang Fengying.
Serangan yang sangat kuat, jika serangan itu mengenai orang biasa maka tubuh nya seperti di tembus ratusan peluru di tubuhnya.
"Hancurkan...!." Yuang Fengying mengibaskan tangannya kembali, menciptakan gelombang angin kencang yang langsung menebas dan membalikkan serangan tersebut.
Ratusan bulatan bulatan tanah yang mengeras itu berbalik terhempas ke arah pencipta nya.
Tak..! tak...! tak....!!
Bulatan bulatan itu menghajar pria muda lawan dari Yuang Fengying dengan bertubi tubi.
Serangan balasan yang lebih kuat, memanfaatkan kekuatan lawan, membuat pria muda lawan dari Yuang Fengying akhirnya menyerah.
Berturut turut Yuang Fengying mengalahkan lawan lawan-nya dalam pertarungan berikutnya.
"Anak itu sudah menang sepuluh kali berturut turut." kata seorang pemuda sambil menunjuk ke arah Yuang Fengying.
"Ya, murid master Xingguang itu terlihat sangat kuat, aku bakal menyerah jika bertemu dengan nya nanti."
"Tapi dia belum bertemu dengan unggulan di kelompok ini."
"Anak itu pasti kalah jika bertarung dengan Luwen Lu atau Xiao Lang."
Suara suara terdengar sahut menyahut menanggapi penampilan dari Yuang Fengying.
Di kelompok satu memang ada beberapa murid yang di anggap unggulan, salah satunya adalah Luwen Yu dan Xiao Lang.
Luwen Yu adalah murid dari Tetua Agung perguruan Bukit Bayangan, saat ini berada di ranah Bumi Jiwa pertengahan, memiliki kekuatan unsur elemen tanah dan kayu, usianya baru 18 tahun.
Sedangkan Xiao Lang adalah murid dari tetua regulasi berada di ranah Bumi Jiwa 3, memiliki unsur elemen logam dan petir, saat ini berusia 19 tahun.
"Peserta berikutnya adalah Luwen Yu melawan...."
Juri pertandingan kembali memanggil dua peserta.
Saat ini Luwen Yu sudah meloncat ke atas panggung arena, di depannya sudah berdiri lawan dari pemuda tersebut yakni seorang gadis dengan pakaian hitam hitam.
Gadis itu nampaknya berada di ranah Bumi Dasar akhir, dengan kepemilikan unsur elemen Air.
"Mulai...!."
Begitu juri pertandingan berteriak, Luwen Yu langsung menggerakkan tangannya.
Kraaak...!
Sebongkah tanah tiba tiba bergerak di sertai dengan ratusan sulur yang langsung muncul dan mencoba membelit kaki gadis berpakaian hitam tersebut.
Tak mau terjebak, gadis itu juga mengaktifkan unsur elemen air nya, membentuk perisai tipis di sekitarnya, juga membuat senjata pedang dari unsur tersebut.
"Musnah...!."
Gadis itu mengayunkan pedang yang tercipta dari unsur air, menebas ke arah sulur atau tanaman rambat yang mencoba menjerat nya.
Craak..! craaak...!!
Saat itu, sebuah lengan dari tanah muncul mencoba menghantam gadis tersebut.
BRAAKK..!
Gadis itu terkejut, mendapatkan serangan tiba tiba, meski dia masih mampu menghindarinya.
"He.he..kau hebat juga nona..!." Luwen Yu memuji lawannya, meski hanya pura pura, karena pemuda ini terkenal akan sifatnya yang arogan.
"Amukan Cakar Keabadian..!." Luwen Yu kembali mengayunkan tangannya, segumpal tanah langsung bergerak membentuk sebuah bentuk cakar yang besar dan langsung menyerang gadis itu.
Gadis berpakaian hitam itu menggerakkan dua tangannya, titik titik air mulai terbentuk makin lama makin menebal dan membentuk sebuah bentuk tombak sepanjang belasan meter.
"Seraang...!."
Dua kekuatan yang saling menyerang itu bertubrukan, membuat getaran hebat dari dua senjata yang tercipta dari unsur elemen.
Gadis berpakaian hitam terlempar, sementara Luwen Yu yang lebih menang tenaga hanya terdorong kebelakang.
"Pemenang nya Luwen Yu." Juri pertandingan langsung memutuskan pemenang dari pertarungan tersebut, karena tak ingin ada yang terluka serius dalam ajang pemilihan Murid Pilar di situ.
__________
Jangan lupa dukungannya..