
Nuang Ning bagai harimau tumbuh sayap, saat menggunakan pedang Bertuah tingkat sedang tersebut, kekuatannya meningkatkan beberapa kali lipat.
Alam bergetar saat pedang itu melesat di tebas kan dan membelah udara.
Sisa panas yang tertinggal di jejak lintasan nya bahkan mampu membakar apapun, saking panasnya.
"Mati..!." Nuang Ning berteriak.
Semua orang yang berada di luar arena bahkan bisa merasakan betapa hebatnya perbedaan kekuatan Nuang Ning yang sekarang di banding sebelum nya.
Senjata Bertuah tingkat sedang memang bisa menjadi pembeda.
"Waah..celaka Yuang Fengying pasti celaka..!."
"Tetua Sue nampak nya benar benar memfasilitasi murid nya, hingga dia rela menyerah kan senjata pribadi nya untuk di gunakan oleh Nuang Ning."
Yuang Fengying masih mengandalkan kekuatan unsur elemen logam untuk pertahanan, sedangkan gerakannya dia mulai mengaktifkan unsur elemen angin, meski masih di samar kan, karena dia tak mau orang mengetahui nya jika mampu membangkitkan tujuh unsur elemen.
Dan serangannya tetap mengunakan unsur elemen petir dengan di padu unsur api.
Namun semua unsur elemen tersebut tetap di samar kan kecuali unsur elemen logam dan unsur elemen petir.
"Gerakan yang cepat, secepat pengguna unsur elemen angin, apa mungkin bocah tersebut memiliki banyak unsur?."
"Hei .itu bukan unsur elemen angin tapi, tapi itu kecepatan kilat, bagian dari petir." sahut yang lain menyangkal.
"Benar juga ya, tak mungkin dia bisa memiliki lebih dari dua unsur elemen."
Tebasan yang sangat cepat membelah ke arah badan Yuang Fengying.
Sriiing...
Namun serangan itu hanya mengenai sisa bayangan Yuang Fengying, kecepatan anak tersebut sudah makin hebat semenjak menyerap inti jiwa binatang Rubah Iblis ekor Lima yang ber-elemen angin.
"Apa..!."
Mata Nuang Ning terbelalak, lawan yang di tebas tiba tiba menghilang, serangan nya hanya mengenai tempat kosong belaka.
Tiba tiba.
BAAANG..
Dada Nuang Ning seperti pecah saat sebuah kepalan tangan sudah mendarat telak di sana, entah sejak kapan sosok Yuang Fengying sudah ada di depannya, dengan serangan hebat yang langsung menghantam dada nya.
"Argh..!." Nuang Ning menjerit, begitu keras, tubuhnya terlempar dengan seteguk darah muncrat kemana mana.
Kembali orang orang membelalakkan matanya, kekuatan, kecepatan dan segala nya dari Yuang Fengying sangat jauh di atas Nuang Ning, padahal secara kultivasi Yuang Fengying ada di bawahnya.
Jika tak melihat langsung, mungkin orang yang mendengar cerita seperti ini dikira membual.
Nuang Ning yang terlempar menggelepar, sebelum kemudian memuntahkan seteguk darah lagi dari mulut nya lalu dia pingsan.
"Bunuh..!."
"Bunuh..!!."
Teriak beberapa orang yang menonton pertarungan tersebut, mereka tak perduli dengan apapun, bagi mereka membunuh di arena pertarungan hidup mati adalah sebuah tontonan yang menarik.
Yuang Fengying menghampiri Nuang Ning yang tergeletak begitu saja, lalu anak tersebut melihat ke arah Tetua Sue yang kini sudah pucat wajahnya.
"Aku akan tebus murid ku dengan cincin ini..!," teriak tetua Sue dengan ekspresi wajah yang sulit di gambar kan.
Tetua itu melempar sebuah cincin ke arah Yuang Fengying.
Dengan Indra spiritual nya Yuang Fengying melihat isi dari benda penyimpanan tersebut, disana ada puluhan kantong koin penukar berupa koin emas, perak dan perunggu.
"Disana ada lima juta koin emas, ratusan perak dan perunggu juga senjata dan herbal." kata Tetua Sue menyebutkan nilai tukar yang di tawarkan.
Sengaja dia menyebutkan itu, agar para penonton tahu seberapa banyak yang dia tawarkan untuk menyelamatkan Murid nya.
Yuang Fengying sekilas menatap ke arah master Xingguang yang menonton di sisi lain, sang guru hanya mengangguk memberi isyarat.
"Yunior terima apa yang tetua Sue berikan, untuk kedepannya mohon jangan menggangguku lagi." kata Yuang Fengying setelah mendapat anggukan Master nya.
Meski kecewa tetua Sue hanya mengangguk lalu bergegas membawa Murid nya meninggalkan tempat tersebut dengan rasa malu yang membuncah.
**
"Kita istirahat di wilayah ini, sambil mencari tahu dimana letak perguruan itu," kata Tuan Ji.
Nona bulu emas hanya mengangguk, bajunya yang penuh bulu ikut bergoyang goyang saat dia berdiri di atas punggung Rase terbang itu.
Pendekar mata satu hanya diam acuh tak acuh.
Bunga Kematian sebenarnya terdiri dari beberapa orang, bukan hanya mereka bertiga, mereka hanya bersatu saat memiliki misi yang sama yang di berikan oleh Patriark nya, selebihnya mereka tak pernah saling peduli satu sama lain.
Binatang aneh tersebut seperti memiliki ikatan jiwa dengan tuan Ji, begitu pria paruh baya itu berkata dan di setujui yang lain, binatang itu langsung melesat turun ke wilayah istana Bintang.
Saat ini, ketiga anggota Bunga Kematian itu telah berada di sebuah kota yang bernama kota Dong.
Sebuah kota yang cukup ramai, karena berada di sebuah propinsi di wilayah Utara istana Bintang.
Ketiganya tengah mencari kedai makanan.
"Itu ada restoran cukup mewah, mungkin kita bisa makan dan mencari informasi tentang apapun." Nona bulu emas mengusulkan.
"Hmm, di mana mana perempuan pasti suka makan." pria mata satu bergumam pelan, namun nampaknya nona bulu emas mendengar perkataan tersebut.
"Tutup mulut mu pendekar mata satu..!, meski kau anggota Bunga Kematian, namun aku tak segan membelah tubuh mu..!." Nona bulu emas langsung menggertak laki laki dengan satu tutup mata.
Ketegangan langsung terjadi.
"Kalian tenang lah, Jika kalian seperti ini terus aku yakin kita tak akan berhasil menjalankan misi."
Tuan Ji terlihat kesal dan menengahi keduanya.
"Jika aku tidak di pancing terlebih dahulu, tak mungkin aku begini."
"Kenyataan memang seperti itu," sahut pendekar mata satu masih saja ngeyel.
"Kalian berdua diam lah..!." tuan Ji sedikit menaikan nada suaranya.
Mereka sudah tiba di depan restoran yang di maksud, sebuah rumah makan mewah dengan tiga lantai sudah ada di depan mata ketiga nya.
"Selamat datang tuan tuan dan nona, silahkan pilih tempat duduk yang sesuai..!," sapa beberapa pelayan yang menyambut ketiga nya.
"Sediakan makanan dan arak terhebat kalian." tuan Ji berkata lalu naik ke lantai yang lebih tinggi, biasanya lantai yang lebih tinggi lebih sedikit pengunjung nya karena sewa tempat itu pasti mahal.
Mereka bertiga naik ke lantai tertinggi, di tempat tersebut hanya ada beberapa meja dan puluhan kursi, mungkin sekitar tujuh atau delapan meja dan beberapa kursi yang melengkapi.
Tak seperti lantai satu yang berisi puluhan meja dan kursi, begitu juga dengan lantai dua yang memiliki belasan meja dengan kursinya.
"Kita duduk di sana," Nona bulu emas sudah memutuskan, memilih meja yang sedikit jauh dari yang lain.
Di tempat itu sudah ada beberapa kelompok yang juga telah makan dan minum di sana, salah satunya adalah kelompok ras manusia Iblis.
__________
Jangan lupa dukungannya....