Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
242. Kembali ke Desa Bunga Abadi


Yuang Fengying meninggalkan tempat pertarungan dengan cepat.


Meski dirinya terluka akibat pertarungan tersebut, namun itu tak mengurangi kekuatan dan kecepatan nya bergerak.


"Semoga semesta bisa tenang setelah ini." rasa lega terpancar dari wajah remaja tersebut.


"Keluar...!." Yuang Fengying memanggil Boa Moo keluar dari ruang penyimpanan nya.


Binatang itu meloncat dan berjumpalitan di udara, mengibaskan rambut dan badannya, lalu meloncat loncat di udara.


"Hm, kamu senang ya?." Yuang Fengying tertawa melihat tingkah laku binatang tersebut.


Boa Moo menghampiri Yuang Fengying dan mendusel dusel, layaknya anak kucing, padahal badannya kini sudah sangat besar.


Yuang Fengying langsung menaiki Griffin dengan kepala ikan hiu itu, "Kita kembali ke rumah ku."


Boa Moo mengepakkan sayapnya, melesat sangat cepat menuju ke arah selatan.


**


Pasca serangan dari orang orang benua lain, tanah tengah memang mengalami kekacauan.


Hal ini di sebabkan karena para kultivator lebih terfokus untuk mengamankan wilayah ini dari penjajah itu.


Para pendekar itu bahkan tak lagi mempedulikan kelompok kelompok kecil yang berulah.


Bahkan para kultivator tak lagi peduli dengan para pengacau dan penjarah harta.


"Bagaimana ini kepala desa Fo Tong?."


Fo Tong adalah kepala desa Bunga Abadi, desa di mana Yuang Fengying berasal, desa tempat tinggal kedua orang tua remaja itu yakni Yuang Hauti dan Xia peiyu.


"Aku tak tahu lagi apa yang mesti di lakukan, kita sudah menyerahkan upeti kepada para penjahat itu, namun mereka selalu saja menaikkan nilainya setiap kali datang." Fo Tong terlihat tertekan dengan ulah para penjahat yang memeras mereka.


"Bagaimana jika kita meminta bantuan perguruan Tameng Jiwa?." salah satu orang dari perwakilan keluarga terpandang di desa itu berkata.


"Perguruan Tameng Jiwa?, hei ..apa kau tak tahu jika saat ini perguruan itu mulai lemah, karena tekanan kelompok pengacau?." pria dari keluarga terpandang lain mulai mendebat usulan tersebut.


"Benar juga," akhirnya pria dari keluarga terpandang itu menyadari nya.


"Terus bagaimana ini?," Lu Lan, salah satu pemimpin keluarga Lu bertanya.


Han Shen tetua dari keluarga Han menggeleng.


Demikian juga dengan An Long kepala keluarga An, dan Yu Ming kepala keluarga Yu juga menggeleng.


"Kami tak menemukan solusi untuk masalah ini, sedangkan harta benda kami juga makin terkuras." Yu Ming mengeluhkan kondisi keluarga besarnya.


Fo Tong dan empat keluarga terpandang memang tengah membahas permasalahan yang tengah terjadi di desa tersebut.


Permasalahan itu sesungguhnya sudah terjadi selama berbulan bulan lamanya.


"Huh, seandainya aku memiliki kekuatan sudah pasti aku musnahkan kelompok bajingan ini." An Long mendengus dengan kesal.


Ya, mereka adalah orang orang dengan ranah kultivasi di ranah Pratama, tepatnya ranah Awal Tinggi.


(note : masih ingat kan ranah kultivasi di awali dari tingkatan Dasar, Menengah, Awal Tinggi, Bumi Dasar, Bumi Jiwa, Bumi Sejati, Raja Bumi dan Kuasa Sejati)


"Bagaimana jika kita datangkan para pendekar, kita bayar untuk mengamankan wilayah ini?." Yu Ming menyampaikan usulannya.


Semua diam, mengkaji sesaat usulan dari kepala keluarga Yu tersebut.


"Tapi dimana kita bisa mencari kultivator hebat, jika banyak perguruan yang sudah di hancurkan seperti ini?." Han Shen kepala keluarga Han mengerutkan keningnya.


Benar juga, hampir banyak perguruan kini sudah hancur, atau setidaknya sudah lemah tak sehebat dahulu sebelum era kekacauan.


"Sudah.. sudah..., kita pikirkan itu nanti, yang jelas kita kumpul kan dahulu upeti yang di minta kelompok Ular Hijau ini, karena sesuai kata mereka dalam beberapa hari mereka akan kemari." Fo Tong akhir menghentikan percakapan tentang cara melepaskan diri dari para pengacau, kini percakapan berganti topik menjadi, berapa upeti yang harus mereka bayar kepada kelompok Ular Hijau.


Kelompok Ular Hijau adalah kelompok pengacau yang terdiri dari ratusan mendekati ribuan anggota.


Mereka awal nya adakah para penjahat yang suka merampok dan menjadi begal di tempat tempat tertentu, namun seiring makin lemah nya penegak keadilan dan kebenaran, mereka mulai membentuk kelompok dan mulai berani bergerak terang terangan.


Ular Hijau di pimpin oleh beberapa kekuatan yang memiliki kultivasi di ranah Bumi Sejati, itu sebuah kekuatan yang mengerikan untuk orang orang di distrik sebelas ini.


**


"Kapan waktu kita meminta upeti di distrik sebelas?." seorang pria botak dengan jubah hijau berlambang seekor ular bertanya sambil menikmati hidangan di mejanya.


"Dua hari lagi kita berangkat, nanti sampai di wilayah itu kurang lebih lima hari dari sekarang." sahut pria lainnya dengan jubah yang sama.


"Kenapa?." tanya pria lain lagi.


"Kita kehabisan wanita, aku bosan dengan wanita wanita yang ada." sahut pria botak itu lagi.


"Bosan? Tak salah dengar aku, kau memiliki wanita lebih banyak dari ku, bahkan jatah koin mu kau tukar semua dengan setiap wanita yang menarik minat mu."


Pria botak itu tersenyum, menampakkan gigi giginya, "Kalian kan tahu, aku tak pernah bisa berhenti bermain wanita setiap harinya, dan bagi ku tiga puluh wanita itu sudah menyebalkan."


"Mereka hanya pasif saja, kayak gedebok pisang, tak ada agresif agresif nya." dengus pria itu terlihat kesal mengingat para wanita yang menjadi tawanan nya.


"He..he... salah sendiri muka mu jelek seperti itu." balas yang lain.


"Hei...! siapa bilang aku jelek..!, mau aku gorok leher kalian..!." pria botak itu mulai terbakar amarah, saat di katakan jelek, meski sesungguhnya memang benar demikian.


"Meski aku jelek, pusaka kejantanan ku lebih besar dan kuat jika di banding kalian..!," dengus pria itu masih dengan wajah kesal.


Memang benar apa yang di katakan nya, jika 'pusaka' pria itu memang berukuran di luar kewajaran, mungkin itu juga yang membuat para wanita itu ketakutan, meski mungkin ada yang malah kesenangan.


"Sudah.. sudah cukup hentikan omong kosong ini." seorang pria paling tua dan berwibawa terlihat menghentikan perbincangan liar tak penting tersebut.


"Besok kalian berangkat, ambil apapun yang bisa di ambil, jika ada yang menghalangi, bunuh jangan beri ampun.!." pria bernama Tsu Ba yang merupakan pemimpin kelompok ini memberi perintah.


"Baik ketua.." sahut orang orang tersebut sambil menangkupkan kedua tangannya, menunduk dengan hormat.


_______________


Jangan lupa dukungannya