Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
151. Tekad


Kelabang pemangsa kini mulai ketakutan, kekuatan remaja yang tak di perhitungkan nya ternyata begitu kuat.


Jika semula dirinya menganggap lawan pertamanya adalah yang terkuat di rombongan itu, tapi ternyata keliru.


Sosok terkuat adalah remaja yang saat ini menjadi lawannya.


Kelabang pemangsa meraba dadanya, rasa terbakar masih tersimpan di sana, meski dengan tingkatan kultivasi nya dia mampu memulihkan diri tapi itu tak bisa berlangsung dengan cepat, meski saat ini dia juga sudah meminum pil pemulih raga.


"Celaka...!." Pria itu makin gelisah, pandangannya kini memutar ke sekeliling di mana semua anggota nya sudah tak terlihat. "Apa..!, semua sudah di kalahkan..!." gumamnya dengan gemetaran.


Benar, saat ini semua anggota Kelabang Pemangsa sudah di kalahkan, ada yang sudah melarikan diri dari lokasi pertempuran, namun banyak juga yang terbunuh di tempat itu.


Kelabang pemangsa mulai membakar kekuatan inti tenaga sejati, sebuah tindakan yang memaksa meningkatkan kekuatan yang paling dasar dari kekuatan nya, yang biasa menjadi cadangan bagi pusat kekuatan nya.


Setelah membakar kekuatan inti tenaga sejati, saat ini kekuatan pria tersebut menjadi berkali lipat dari sebelumnya, sesuatu yang bodoh jika Yuang Fengying nekat melawan pria tersebut dalam 'mode' seperti ini, kekuatan awalnya saja sudah mengerikan apalagi sekarang.


Dengan kekuatan saat ini akan sangat sulit bagi remaja itu untuk melawan musuhnya itu.


Pun dengan Kelabang Pemangsa, dia membakar kekuatan inti tenaga sejati juga sudah memiliki rencana, bukan untuk bertarung sampai mati mengadu nyawa, tapi pasti nya untuk melarikan diri meninggalkan tempat pertempuran tersebut dengan cepat dan aman.


"Kita akhiri pertarungan kali ini, di waktu lain jika ada kesempatan kita bisa bertarung kembali." Kelabang pemangsa mendengus sedikit kesal dengan terpaksa mengambil langkah seperti ini, sebelum akhirnya menjadi seberkas cahaya, melesat meninggalkan tempat tersebut dengan penuh kekecewaan.


**


Rombongan Luang Yiang kembali melanjutkan perjalanan, saat ini kelompok orang orang itu sudah semakin berkurang.


Hanya ada dua gerbong kereta dengan jumlah orang tak lebih dari tiga puluh orang saja.


Saat ini sudah hari ke sepuluh jika di hitung sejak meninggalkan wilayah perguruan Bukit Bayangan.


Yuang Fengying masih duduk di dalam salah satu gerbong kereta yang di tarik kuda tersebut, remaja itu tengah berlatih memanfaatkan waktu nya selama menempuh perjalanan.


Semua orang kini menyadari kekuatan remaja tersebut dan semua terlihat segan kepada nya, bahkan tetua Luang Yiang sekalipun.


Semenjak bertarung dengan kelompok Kelabang Pemangsa Yuang Fengying merasa mendapatkan pemahaman tentang kekuatan garis darah keturunan.


Sebuah kekuatan yang berasal dari warisan leluhur dan bisa di aktifkan menjadi sebuah kekuatan andalan yang tak terbayangkan.


Sebuah kekuatan yang di turunkan dan di wariskan dari sumber asal kekuatan itu bermula.


Semakin murni garis darah keturunan yang di miliki seseorang, semakin murni dan hebat pula kekuatan yang bisa di wariskan.


"Apakah aku juga memiliki garis darah keturunan?." terlihat Yuang Fengying mencoba menggali potensi yang ada di dirinya, hingga saat ini remaja tersebut belum mendapatkan jika dirinya memiliki kemurnian garis darah keturunan.


Lewat pertarungan dirinya dengan dua lawan terakhir nya, kini pemahaman tentang kekuatan yang berasal dari garis darah keturunan kian kuat, dan itu memacu remaja itu untuk semakin mencoba menggali, mempelajari dan memahami tentang itu.


"Aku harus mencari sumber yang bisa membuat pemahaman tentang kekuatan garis darah keturunan." sebuah tekad yang kini mengakar kuat tercipta di hatinya.


**


Di lain tempat tepat nya di wilayah istana Ratu Peri.


Terlihat seorang gadis yang memiliki kecantikan setara bidadari dengan keindahan yang mampu membuat hati siapapun bergetar hanya dengan memandang nya, nampak kembali memasuki area terlarang di wilayah tersebut.


Area itu adalah wilayah istana melayang.


Ini memang bukan saatnya istana melayang menampakan diri, meski demikian para penjaga sudah bertebaran ada di mana mana, mereka tetap menjaga wilayah tersebut dengan sangat ketat.


Saat gadis cantik itu melangkah, semua penjaga yang ada di sana menunduk dan menekuk satu kakinya sebagai tanda penghormatan untuk sang calon ratu tersebut.


Sepasangan pria dan wanita yang terlihat sudah sangat tua namun masih sangat gagah, berjalan di belakang gadis itu untuk memandu sang putri mahkota selama di dalam istana melayang nanti nya.


Gadis itu adalah Fen Shanming.


Jika sebelumnya Fen Shanming hanya memasuki istana melayang seorang diri, namun kali ini gadis itu akan di dampingi dua orang tokoh tua tersebut.


Dua orang tua itu adalah sesepuh di ras peri.


Nampak nya kali ini ras peri ingin mendapatkan keuntungan harta warisan yang lebih banyak, dari waktu yang lalu.


Dari wajah gadis itu terlihat sebuah tekad untuk mendapatkan harta warisan yang lebih pada kunjungan kali ini.


Pria tua dengan semua rambut yang sudah memutih itu menatap ke arah area istana yang melayang berada, meski usia pria itu sudah ribuan tahun namun sorot matanya terlihat masih sangat tajam dan jernih.


Sementara wanita tua yang ada di sampingnya tengah mencoba membuka dan menampakkan istana melayang itu dengan mulai membacakan rajah mantra yang sudah di hafalannya.


Setelah beberapa saat sebuah kabut mulai terkumpul, makin lama kabut itu menebal dan makin memadat.


Dari padatnya kabut tersebut samar samar terlihat penampakan sebuah bangunan yang sangat indah dan megah, melayang di udara.


Istana yang terlihat melayang itu mulai terlihat makin jelas dan nyata.


Semakin lama wujud istana semakin jelas terlihat.


Setelah benar benar terlihat, wanita tua itu mulai mengerakkan kedua tangannya, membentuk sebuah pola tersendiri dengan mulutnya tetap membaca rajah mantra.


Istana melayang mulai bergetar, sedikit bercahaya dan berkilat kemudian mulai berputar dan bergoyang goyang.


"Mulai bersiap.." wanita tua itu berkata dengan suara yang pelan, namun semua bisa mendengarkan nya. "Tunggu aba aba dariku.."


Fen Shanming dan pria tua mengangguk, nampaknya wanita tua itu adalah ahli struktur segel formasi pengaturan, berkat kemampuan nya dia bisa membuka dan memasuki sebuah harta warisan bahkan sebelum masa waktunya muncul.


"Ini saatnya..!," teriak wanita tua itu, ketika tiba tiba gerbang istana melayang itu berpendar dan memancarkan sebuah sinar pada kusen pintu nya.


Dengan di awali oleh pria tua, Fen Shanming meloncat mengikuti sosok tersebut kearah gerbang istana melayang.


Sementara wanita tua mengikuti kedua sosok tersebut, berada di bagian belakang nya.


Setelah ketiga sosok tersebut melesat menerobos pintu gerbang yang berpendar, perlahan lahan istana melayang memudar dan hilang dari pandangan semua orang.


Saat ini memang bukan waktu nya istana melayang muncul.


Jika memang waktunya istana itu muncul biasa nya bukan hanya putri mahkota yang memasuki nya, namun generasi penerus ras peri yang berbakat di beri kesempatan untuk memasukinya.


__________


Jangan lupa dukungannya