
Seorang pria baju hitam maju ke depan, "Siapa yang akan melewati ku..?."
Dengan tingkatan kultivasi di ranah Bumi Jiwa, pria baju hitam itu nampak percaya diri dan tak sabaran.
Dia mencari lawan dan siap untuk menantangnya.
Dengan hanya lima jurus dalam pertarungannya, maka semua orang akan memiliki banyak kesempatan, tak perduli kultivasi nya berada di mana, dengan langsung mengeluarkan serangan terbaik nya di harapkan akan mampu menekan lawan.
Tak perlu memikirkan stamina, yang penting langsung serang sekuat tenaga dan lawan menyerah.
"Aku akan melewati mu." seorang pria sedikit tua, terlihat maju menghampiri pria berbaju hitam yang sudah berada di depan.
Pria tua itu berasal dari salah satu kelompok yang hebat.
Tanpa banyak perkataan mereka langsung bertarung hebat dalam lima jurus, dan pria tua itu memenangkan pertarungan itu.
Meski kalah pria baju hitam masih berdiri di depan dengan sedikit terluka, namun dia tak mau menyerah dan masih menunggu lawan berikutnya.
Sementara itu pria tua yang memenangkan pertarungan langsung melesat naik ke altar.
Melihat begitu banyak harta Karun di depan mata, pria tua itu terlihat kebingungan, semua terlihat begitu berharga di depannya.
Keserakahan jelas terlihat di matanya, sedikit melirik ke kanan dan kiri, seakan sedang mencari peluang, lalu pria tua itu menyambar sebuah pedang lengkung.
Sebuah senjata dengan aura kuat, dan memiliki tingkatan senjata Legenda atau bahkan senjata Raja mistik.
(Tingkatan senjata adalah senjata Biasa, Bertuah, Legenda, Raja mistik, Kaisar langit dan Spiritual Illahi)
Dengan tersenyum puas pria tua itu melangkah ke arah kanan di mana ada jalan keluar, namun sebelum mencapai jalan keluar tiba tiba keserakahan kembali berkobar di matanya, dia lalu meloncat dan menyambar sebuah botol pil yang terlihat bercahaya, kemudian langsung melesat menuju jalan keluar.
"He..he..aku sungguh beruntung." katanya pelan.
Semua orang yang menonton ke arah altar sedikit mengerutkan keningnya, jelas mereka tak terima jika pria tua itu mengambil dua benda berharga begitu saja.
"Sialan..!, dasar tua bangka serakah..!."
"Payah..!, jika begini bisa bisa yang terakhir tak kebagian.."
Kasak kusuk langsung terdengar melihat kelakuan curang pria tua tersebut, semua sudah terlihat marah.
Namun sebelum semua orang menghentikan sumpah serapah nya, pria tua yang mendekati jalan keluar tiba tiba berhenti, badannya terlihat kaku dan tak bisa melangkah.
"Apa yang terjadi?, mengapa bisa begitu?."
BOOM...
Sebuah sambaran kekuatan yang tak terlihat menghantam sosok pria tua itu hingga menjadi genangan darah di atas altar.
"Apa..!, jadi begitu hukum nya?, 'Keadilan' di tempat ini benar benar di tegakkan."
Semua orang terlihat ngeri dengan pemandangan tersebut, jika mereka curang maka akan di ledakkan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Sungguh sebuah tempat yang sangat luar biasa.
"Dasar orang tolol, jika ingin serakah mengapa tidak merebut saja setelah di luar altar," Tan Yoengsan bergumam namun cukup jelas, sambil tersenyum dengan penuh ejekan.
Benar, beberapa orang memang berfikiran sama dengan Tan Yoengsan, mereka berniat akan merebut harta Karun itu di luar altar.
Untuk itulah mereka saat ini tenang tenang saja, tak terlihat berambisi kuat menguasai seluruh harta.
Pria baju hitam masih menunggu lawan berikutnya, dia sudah bersiap di depan semenjak tadi.
Nampaknya wanita cantik itu juga sudah tak sabar mengambil harta Karun itu.
Aura kuat terpancar dari senjata yang di lepas itu.
"Kita mulai...!," teriak wanita cantik itu sambil menebaskan pedangnya.
Baginya tak ada kata basa basi dengan lawan.
Kekuatan yang dahsyat langsung tercipta dari tebasan senjata itu, melesat membelah udara dan langsung menuju ke arah pria baju hitam.
"Apa..!?, itu serangan pedang bulan?." orang orang terbelalak.
Serangan pedang bulan, berasal dari sebuah kelompok bernama Bulan Bintang, serangan itu terlihat sangat khas dengan munculnya gambaran bulan separuh dalam lesatan tebasan pedang tersebut.
Pria baju hitam terperanjat, kekuatan lawan sungguh sangat dahsyat, namun kini semua sudah terlambat, bahkan sebelum pria itu mampu menghindar dari serangan tubuh nya sudah terbelah, dengan organ dalam terburai.
"Serangan pedang bulan memang menakutkan."
Wanita cantik itu langsung meloncat maju naik ke altar dan memilih satu harta Karun di sana.
Setelah memilih satu benda wanita itu turun lewat jalur yang di tetapkan.
Semua mata tertuju kepada wanita itu, bahkan beberapa orang terlihat melesat menyusul nya, mungkin ingin merampoknya, atau malah mereka penjaga wanita cantik itu yang ingin mengamankannya.
Yuang Fengying makin paham akan situasi di sana, mendapatkan benda harta Karun memang sebuah anugerah namun juga bisa menjadi mala petaka, apalagi dengan kemampuan nya saat ini, masih sangat riskan.
"Apa yang meski ku lakukan?." remaja itu terlihat berfikir keras untuk mensiasati keadaan.
Di depan saat ini sudah kembali bertarung dua orang, seorang dari perwakilan istana darah besi melawan anggota kelompok perguruan Bambu Hijau.
Wakil dari istana Darah Besi adalah seorang prajurit yang memiliki pangkat lumayan, dia terlihat mendominasi pertarungan singkat tersebut.
BAAM...!
Sebuah pukulan sangat keras menghujam dada lawannya dari perguruan Bambu Hijau, membuat lawannya tak mampu bangkit lagi.
Hampir sepertiga dari orang yang ada di aula itu sudah meninggal kan tempat tersebut, ada yang karena menang dan membawa hasil, namun ada juga yang kalah dan terluka, bahkan mati.
"Siapa mau melewati ku?." seorang paruh baya dari salah satu kelompok hebat berdiri di depan.
"Aku..!," suara berat dengan penuh kekuatan terdengar.
Tan Yoengsan maju dengan memancarkan kekuatan yang menekan lawan, dengan menunjukan kekuatan asli nya pasti lawan akan tertekan bahkan bisa saja menyerah.
"Aku menyerah, silahkan tuan Tan Yoengsan naik ke altar." Benar, pria paruh baya itu tahu keadaan dan langsung menyerah, lebih baik demikian daripada kehilangan nyawa.
Tan Yoengsan mengambil sebuah benda yang ada di sebuah botol hijau, itu adalah 'Tetesan Embun Dewa', sebuah cairan yang mampu meningkatkan kultivasi seseorang dengan cepat.
Yuang Fengying masih berdiri di tempat nya, mempelajari situasi dengan mata dan pikirannya terus bekerja.
"Aku akan menyamar, setelah mendapat kan harta Karun aku akan segera pergi dan melepas samaran ku agar tak terlacak orang orang serakah ini."
Begitu mendapatkan ide, Yuang Fengying lantas mencari tempat yang tersembunyi kemudian mengeluarkan sebuah topeng dan jubah zirah yang di dapatkan dari pelelangan.
Topeng Perak Raja Setan adalah sebuah penutup wajah yang terlihat seram, namun Yuang Fengying belum pernah mencoba nya, apakah ada khasiat nya dia tidak tahu.
Selain itu anak itu juga mengeluarkan baju Zirah Bayangan Malam, dengan dua benda itu Yuang Fengying memulai penyamaran nya.