Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
156. Rontok nya Penguasa Lembah Tiga Puncak


Pertarungan di Lembah Tiga Puncak masih berlangsung.


Ada empat area pertarungan yang masih terlihat terjadi di empat arah mata angin.


Selain dari pertarungan itu, pertarungan lain nya sudah berakhir, menyisakan puing bangunan yang hancur dan berserakan di mana mana, serta mayat mayat yang kini bergelimpangan di area tersebut.


Dari empat pertarungan tersebut sudah mulai terlihat jika Aliansi Penyerang mulai mendominasi.


Di arah barat, Tetua pertama terlihat sudah sedikit terdorong oleh serangan lawan nya.


Pria dari benua lain sungguh benar benar kuat, serangannya mampu menelan semua pukulan yang di arahkan kepada nya.


"Ha..ha... keluarkan seluruh kemampuan mu..!," pria dari benua lain tertawa, saat Tetua pertama kembali menghantamkan pukulannya.


Dua lesatan gelombang kekuatan panas dan dingin kembali menyebar dan menghantam ke arah pria dari benua lain.


Gelombang kekuatan itu membakar dan membekukan apapun yang di lewati nya.


"Kali ini serangan tetua pertama pasti berhasil, kekuatan nya sudah semakin di tingkat kan."


"Ya ini pasti serangan terkuat dari tetua pertama, karena langit langsung terbakar dan membeku."


Dua kekuatan itu melesat dengan cepat ke arah lawannya, namun lagi lagi serangan tersebut mampu di mentahkan oleh lawannya.


Kibasan tangan pria dari benua lain yang berunsur angin dengan kekuatan pengikisan yang mengerikan itu menghantam dua kekuatan yang datang ke arahnya.


BAAMM...


Kekuatan angin yang ganas itu menyapu dengan mudah gelombang api yang berkobar, serta semburan es yang menjalar.


Bahkan hempasan angin itu terus menerjang hingga menghantam tetua pertama.


"Hoeek..!." Tetua pertama langsung memuntahkan darah, badannya yang terhantam gelombang angin tersebut terlempar beberapa puluh meter.


Wajah tetua pertama langsung muram, kekuatannya sungguh di bawah lawannya.


"Aku akan beradu nyawa dengan mu..!." tetua pertama langsung membakar inti tenaga sejatinya.


Cadangan tenaga yang berada di dasar 'Dantian' nya itu langsung bergolak begitu tetua pertama mulai membakarnya.


Kekuatannya kini menjadi berkali lipat setelah pembakaran dari cadangan tenaga tersebut.


"Bahaya..!," Yuang Fengying yang berada di bawah menatap pertarungan tersebut.


Membakar inti tenaga sejati adalah pilihan terakhir yang di lakukan oleh seorang kultivator, selain bunuh diri meledakkan diri tentunya.


Jika membakar inti dari tenaga sejati berakibat pengurangan esensi tenaga sejati dan penurunan kultivasi, maka meledakkan diri tentu saja mengakibatkan kematian baik dirinya maupun lawannya.


"Ha..ha... nampak nya kau sungguh sangat frustasi hingga membakar inti tenaga sejati mu..'' pria dari benua lain terlihat mencemoohnya.


"Tapi kau tak akan melarikan diri bukan?," pria itu kembali berkata untuk meledeknya.


"Cuiih, aku lebih rela mati bersamamu, dari pada meninggalkan tempat ini..!." tetua pertama meludahkan darah yang ada di mulut nya.


WEEENG...


Tetua pertama kembali melesat, kini kecepatan nya sungguh sangat luar biasa, menabrak ke depan dengan gelombang api dan es yang menyelimuti hampir seluruh tubuh nya.


Pria dari benua lain juga terlihat serius di banding di awal pertarungan tadi.


"Badai Mencacah Bumi..!." Dua tangan pria dari benua lain langsung melakukan gerakan mencacah udara.


Dari gerakan tersebut tercipta lesatan lesatan yang sangat mengerikan dan menerjang ke arah tetua pertama.


Crash.. craaas...


Lesatan lesatan angin yang memadat yang sungguh sangat tajam dan kuat itu, menerjang kearah tetua pertama dan menembus serangan api dan es.


Benturan kekuatan hanya terjadi di awalnya, lalu lesatan kekuatan itu terus menerjang dan mencabik cabik badan tetua pertama hingga menjadi serpihan kecil.


Sementara di Utara, pria tinggi besar dengan kepala plontos yang memiliki tubuh sangat kuat sudah menghajar tetua berbaju coklat.


Berkat jurus Baju Besi yang di aktifkan nya kini badan pria tersebut sekuat besi.


Dua tinju nya terlihat menyambar nyambar ke arah tetua berbaju coklat.


Angin lesatan pukulan pria itu bahkan mampu menghancurkan senjata pedang angin yang di ciptakan tetua berbaju coklat.


BAANG..!!


Satu pukulan menembus pertahanan tetua berbaju coklat, menerabas dan menghantam dada tetua itu.


Dada tetua berbaju coklat langsung hancur, begitu terkena serangan yang sungguh mengerikan tersebut.


Tetua berbaju coklat langsung luruh dan terjatuh dari angkasa setelah jiwanya meninggalkan raganya.


Di arah selatan, tetua kedua yang melawan manusia iblis berwarna ungu, masih terlihat bertempur.


Wajah tetua kedua sudah terlihat layu, serangan jiwa dari iblis ungu sungguh menggerogoti jiwanya.


Tongkat kecil, artefak pelindung jiwa terlihat sudah tak lagi mampu melindungi jiwanya setelah serangan itu makin di perkuat oleh lawan.


"Ha..ha...mau kemana kau..?." Iblis ungu tertawa ketika kekuatan ilusi nya mampu membuat tetua kedua terjebak dan terlihat kebingungan.


Saat ini tetua kedua merasa berada di sebuah tempat yang asing dan mengerikan.


Pria itu merasa di bawa ke sebuah istana kuno di mana dirinya tertahan di sana.


Di hadapan nya iblis ungu berdiri dan bersiap menyerangnya, alam yang berada dalam kuasa lawan itu sungguh benar benar membatasi kekuatannya.


Semua kekuatan yang di miliki nya seperti tak berfungsi sebagai mana mestinya.


"Pisau Jiwa Seribu Rupa...!." tetua kedua menggerak gerakan lengannya, menciptakan ribuan pisau yang bermunculan di sekeliling nya, dari gerakan tersebut.


Pisau pisau yang sangat tajam terlihat berkilat dan bermunculan di sekitar tubuh tetua kedua, dengan sekali ayunan ratusan pisau itu langsung menerjang lawannya.


Iblis ungu hanya tersenyum lalu, maju dan menangkap ratusan pisau itu dengan dua tangannya.


"Apa...!, serangan ku tak berarti apapun.."


Sesungguhnya itu hanya bayangan tetua kedua, yang sebenarnya terjadi saat ini tetua kedua tengah terjebak di alam ilusi lawan.


Iblis ungu langsung melesat secepat kilat, begitu lawan terjebak lebih dalam di dunia ilusi yang di ciptakan nya.


"Mati...!."


Iblis ungu meloncat berniat menghantam kepala tetua kedua dengan lengannya.


SLAAASSH..!


Sebuah lesatan cahaya terlempar dan memotong serangan iblis biru yang mengarah ke kepala tetua kedua.


"Hah..!, siapa yang bertindak pengecut dan mencampuri pertarungan ini..!," iblis ungu meraung dengan marah.


Nampaknya Lesatan serangan itu berasal dari selubung perisai yang ada di bawah daratan.


Dengan gagalnya serangan tersebut, pulih sudah kesadaran tetua ke-dua dari jebakan alam ilusi lawan.


Kini tetua ke-dua mulai menyadari apa yang hampir saja terjadi.


Wajahnya langsung pucat dengan badan menggigil ketakutan. "Untung nya ada yang membantuku, hampir saja aku mati," gumam pria tersebut setelah buyar nya alam ilusi lawan."


Iblis ungu menoleh kearah selubung perisai warna warni yang ada di bawah, "Aku akan menghancurkan mu setelah urusanku selesai..!," dendam membara terpancar dari mata iblis tersebut saat menatap sosok di balik selubung perisai warna warni.


Yuang Fengying yang tak tega melihat seseorang akan di musnahkan di hadapannya oleh sosok iblis, membantu dengan menghantamkan sebuah serangan kekuatan angin petirnya.


Saat ini remaja tersebut sedikit bergetar begitu tatapannya beradu dengan iblis Ungu.


_______


Jangan lupa dukungannya.