
Sesepuh Chun bergerak sangat cepat, semua yang di lakukan nya kini seperti di atas angin dalam menghadapi dua lawannya.
Sesepuh Chun bergerak menghantam sambaran pedang besar pria yang berasal dari Klan Kabut Hitam Pekat, dengan tongkat kuning nya.
BAAAM...
Serangan itu membentur garis lintasan sabetan pedang lawan.
Dua kekuatan yang mampu menghancurkan apapun itu bertemu dan menciptakan Ledakan yang sungguh menakutkan, meski mereka terkurung dalam segel formasi penjebakan.
"Aarggh..!." Pria dengan badan penuh bulu dan rambutnya di kucir ekor kuda berteriak kesakitan, dadanya terasa meledak dan terlempar beberapa ratus meter akibat ledakan tersebut.
Sungguh kekuatan yang meluap luap dan sangat menakutkan.
Segel formasi penjebakan juga bergetar hebat, membuat wanita dari kelompok Bulan Kegelapan juga meringis kesakitan saat dia berusaha mengendalikan struktur Jebakan tersebut.
"Hooekk..!." wanita itu memutahkan darah dari mulut nya.
Kembali sesepuh Chun bergerak dengan cepat, nampaknya pria tua itu tak ingin membuang buang masa aktif dari dua kekuatan yang saat ini masih meledak di tubuhnya, dia tak ingin apa yang di lakukan sia sia meski taruhannya nyawa nya sendiri.
"Sesepuh Chun sudah mengaktifkan garis darah keturunan nya dan membakar kekuatan inti dari tenaga sejati nya, pasti dia akan mampu mengatasi dua lawannya."
Beberapa tetua yang juga bertarung melawan para penyerang sedikit melirik apa yang terjadi dengan sesepuh Chun.
"Ya, itu perbuatan terakhir yang menjadi pilihan terbaik."
Kini dua lawan sesepuh Chun sudah terluka, hantaman yang di lakukan pria tua itu mampu menghancurkan gabungan kekuatan keduanya.
Gelombang kekuatan yang bergulung gulung dari tubuh sang sesepuh itu mampu merusak kekuatan dua lawannya.
Wanita paruh baya dari kelompok Bulan Kegelapan dan laki laki dari klan Kabut Hitam Pekat kini juga sudah membakar inti tenaga sejati, sebuah perbuatan yang akan meningkatkan kekuatan nya sesaat sebelum akhirnya nanti menggerogotinya.
Pertarungan kian menakutkan, apapun yang ada di sekitarnya pasti akan hancur jadi debu.
**
Wilayah perguruan Bukit Bayangan kini benar benar sudah porak poranda, semua terlihat tinggal reruntuhan dan puing puingnya saja.
Gedung gedung bertingkat kini sudah roboh dan hancur, bangunan lainya juga sudah tak berbentuk lagi, kecuali gedung tua yang terlihat kecil di tengah urukan reruntuhan yang ada.
"Akhirnya tempat ini benar benar hancur..!." Man Jin dari kelompok Iblis Darah berteriak dengan pongah.
Pria dengan baju seret hitam itu berkacak pinggang dengan penuh kesombongan, menyaksikan tempat yang di serangnya sudah hancur lebur.
"Kalian memang bukan manusia baik baik, suka menindas yang lemah dan memanfaatkan jalur kekuatan untuk menekan yang lain.''
"Tapi aku tak akan menyerah, perbuatan mu malah makin meyakinkan diriku sendiri bahwa penolakan ku menjadi bawahan kalian, tidak lah salah." Tetua Kim berkata dengan penuh keyakinan, tak ada sedikitpun sesal di wajah nya, meski kini wilayah tersebut hancur.
"Ya, ku akui... untuk perguruan kecil seperti ini kau cukup kuat, namun kalian menghadapi Aliansi kami yang begitu sangat kuat, jika tidak hari ini, besok pasti kalian akan musnah." Man Jin, perwakilan dari Kelompok Iblis Darah berkata dengan tatapan sinis ke arah tetua Kim.
"Aku tak perduli kapan akan musnah, semua makhluk pastinya akan mengalami nya pada akhirnya he..he...." tetua Kim tertawa acuh tak acuh, merasa hidup nya mungkin sudah akan berakhir. " Hanya saja bagaimana jalan kita menuju kesana, apakah di jalan kebenaran atau kesesatan macam kalian."
Man Jin makin beringas wajahnya, merasa serangan emosi tak membuat lawannya terkena mental.
Pria dengan baju seret hitam itu kembali mengayun kan tangan nya, selarik cahaya biru gelap melesat menerjang ke depan.
Serangan itu kini seperti memadat dengan kekuatan melebihi lengan hitam ciptaan nya tadi.
Nampaknya Man Jin adalah orang yang mengolah kekuatan api yang berbeda beda, begitu tangannya di ayunkan kedepan gelombang api berwarna beda langsung menerjang kearah tetua Kim.
Gelombang panas yang menakutkan pun melesat dan mulai membakar apapun di jalurnya, kekuatan Raja Bumi memang sungguh menakutkan, seakan kekuatan jagat raya berada di bawah telapak tangan nya.
Tetua Kim memejamkan matanya, pria itu mulai mengaktifkan Kuasa atas unsur elemen yang di miliki nya.
Angin mulai kembali berputar putar di lengannya, nampak nya tetua Kim memiliki Kuasa atas unsur elemen Angin yang juga sangat tinggi.
Apalagi kini angin itu mulai bersinergi dengan kipas di tangan kanannya, menghasilkan gelombang ombak angin yang susul menyusul menerjang ke arah Ma jin.
"Badai Amukan Dewa..!."
Gelombang ombak angin yang kian besar menyerbu ke arah Man Jin, kekuatan itu menerjang dan meluluh lantakkan semua di jalur nya.
Langit dan bumi bergetar saat serangan tersebut melaju dengan sangat mengerikan.
Man Jin juga masih mengendalikan Api biru gelap, cahaya api itu memang tak seluas serangan sebelum nya, namun sesungguhnya tingkat kepanasan api itu beberapa kali lipat di banding serangan sebelum nya.
Dua kekuatan yang mengerikan itu bertemu, membuat guncangan yang sungguh menakutkan, seakan terjadi kiamat lokal di tempat tersebut.
Semua tersibak, terlempar menjauh saat dua serangan itu berbenturan.
Kekuatan dan kultivasi keduanya yang seimbang membuat pertarungan sungguh berlangsung dengan seru.
**
Wilayah Bukit Bayangan sungguh sudah tak berbentuk lagi, beberapa pertarungan sudah usai dengan kemenangan yang berbeda beda.
Namun hampir seluruh pertarungan itu bisa dianggap seimbang, karena baik yang menang maupun yang kalah sama sama terluka parah.
Sesepuh Chun meski memenangkan pertarungan namun mengalami luka serius, bahkan kini wajahnya makin terlihat tua akibat dia mengaktifkan kekuatan garis darah keturunan sambil membakar inti tenaga sejati yang seharusnya belum saatnya, kini usianya seperti berkurang beberapa puluh tahun lagi, dan usianya akan bertambah kembali beberapa ratus tahun jika dia mampu menerobos ke alam Kuasa Sejati.
Sementara pertarungan Tetua agung Kim melawan Man Jin juga berakhir seimbang dengan sama sama terluka parah.
Tetua regulasi pun tak beda jauh, meski memenangkan pertarungan dan mampu membuat lawannya mati, pria paruh baya itu juga harus kehilangan satu lengannya.
Sungguh situasi yang tidak menguntungkan bagi perguruan Bukit Bayangan, markasnya hancur dan banyak tetua yang tewas dan terluka parah.
Dari semua orang di sana hanya master Xingguang yang paling minim mengalami luka karena di bantu oleh Yuang Fengying.
Sedangkan Yuang Fengying sendiri belum mampu untuk menolong keseluruhan orang yang ada di sana, karena kekuatannya juga masih sangat terbatas.
Saat ini anak tersebut berada di ranah Bumi Sejati awal, sebuah ranah yang cukup mencengangkan bagi anak usia 12-13 tahun, namun masih sangat rendah jika di banding kan kekuatan yang ada di Jagat Bela diri.
___________
Jangan lupa dukungannya