Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
243. Kembali ke rumah


Beberapa orang terlihat mendekati wilayah distrik sebelas, tepatnya wilayah desa Bunga Abadi.


Mungkin sekitar seratus orang dalam kelompok tersebut.


Itu adalah anggota kelompok Ular Hijau yang di utus ke sana, dari hampir seribuan anggota di utus lah seratus orang ke desa Bunga Abadi untuk mengambil upeti.


Dengan mengendarai hewan tunggangan darat, kelompok itu bergerak sangat cepat ke desa itu.


Kelompok pembuat kekacauan itu hampir di sepanjang jalan melakukan huru hara, memeras, menjarah dan membuat masalah, apalagi jika melewati wilayah yang lemah pasti akan mengacau.


Kali ini kelompok Ular Hijau sudah memasuki wilayah istana Bintang, bahkan mereka sudah memasuki propinsi Lembah Naga.


"Kita sisir dari desa Bunga Abadi yang ada di selatan, terus sedikit ke timur dan kembali ke Utara sebelum kembali ke markas kita di barat." seorang pria dengan luka codet di wajahnya terlihat memberikan perintah.


Dia adalah Wang Ji, salah satu tetua di kelompok Ular Hijau.


Di dalam organisasi kelompok Ular Hijau, pucuk pimpinannya adalah Tsu Ba, dalam menjalankan organisasi tersebut dia di bantu lima tetua, yakni Wang Ji, Cen Laun, Lui Fe, dan dua pria lainnya.


Kebetulan dalam misi kali ini, tiga tetua itu lah yang memimpin.


"Baik, aku setuju..!," Cen Laun dan Lui Fe mengangguk.


Ketiga tetua itu bergerak paling depan lalu di susul seratus orang anak buahnya.


**


Di sebuah rumah sederhana, terlihat sepasang suami istri yang tengah duduk dan saling bercerita.


Mereka adalah Yuang Hauti dan istri nya Xia Peiyu.


"Apakah hasil panen kita musim ini melimpah suamiku?." tanya Xia Peiyu.


Yuang Hauti mengangguk dengan lesu.


Mengapa demikian? mereka terlihat tak terlalu senang dengan hasil pertaniannya karena suatu alasan.


"Sayang nya kita harus menyerahkan separuh dari hasil perkebunan kita kepada kepala desa." Yuang Hauti mendesah lemas.


"Ya, aku tahu itu." Xia Peiyu juga mendesah lemas, " tapi itu harus kita lakukan daripada kita celaka."


Saat Itu adalah sore yang indah sesungguhnya, namun karena adanya permasalahan yang menghantui desa itu, hampir seluruh penduduk merasa resah dan gelisah, demikian juga dengan pasangan suami istri tersebut.


Bruuk..!


Tiba tiba ada sebuah suara di belakang rumah Yuang Hauti, kebetulan rumah keluarga tersebut berada di pinggiran desa.


"Suara apa itu suami ku?."


"Entahlah..aku juga tidak tahu, apa mungkin ada beberapa buah yang terjatuh, karena suaranya juga tak terlalu keras." Yuang Hauti tampak menggeleng.


"Ayo kita lihat, apa mungkin itu hewan yang ingin merusak tanaman kita." Laki laki itu menyambar sebuah golok sebelum berlari ke belakang.


"HAAH..!."


"M.. M-monster ..!." Yuang Hauti berteriak dan ketakutan, di belakang rumah nya ada sosok Griffin sangat besar tengah melahap sesuatu.


Tubuhnya langsung menggigil ketakutan demikian pula dengan Xia Peiyu.


Jujur selama ini kedua orang tersebut belum pernah melihat seekor binatang spiritual sedekat ini, paling paling binatang buas atau binatang iblis tingkat rendah.


"B.bagaimana ini?." Yuang Hauti hanya memeluk istrinya yang juga gemetaran.


Tiba tiba.


"Ayah.."


"Ibu.."


Suara yang membuat sepasang suami istri itu bagai di sambar petir.


"F..F-fengying.."


Suami istri itu menoleh ke arah Yuang Fengying, yang semula berjongkok dan kini berdiri setelah menyuapkan makanan ke mulut Boa Moo.


"K..kamu.. benar Yuang Fengying? anakku?."


Yuang Hauti dan Xia Peiyu menatap remaja yang terlihat lebih tinggi di banding saat itu, dan tentu saja kini terlihat tampan.


"Ya..ini aku Fengying anak mu.." Remaja itu kini melewati Boa Moo yang masih asyik memakan sesuatu, berjalan mendekati kedua orang tua nya.


Xia Peiyu langsung berlari menghampiri Yuang Fengying dan memeluknya sambil menangis.


"Fengying..anakku..hiks...hiks ini benar kamu nak.." wanita itu menangis sambil memeluk anaknya.


Yuang Hauti juga mendekat memeluk ke-dua nya, pria itu juga menangis sambil memeluk anak nya yang telah berpisah sekian tahun selama ini. "Fengying kamu sudah sebesar ini anakku.."


Suasana sore yang semula membuat sepasang suami istri itu bersedih kini tidak lagi.


"Ayo kita masuk, kita harus makan enak, ibu akan membuatkan mu makanan yang enak nak."


Yuang Fengying tersenyum senang, melihat kedua orangtuanya begitu sehat dan baik baik saja, di saat kekacauan seperti ini.. itu sebuah anugerah yang luar biasa.


**


Malam itu kediaman keluarga Yuang terlihat benar benar hidup, rumah yang berada di ujung desa terlihat sangat semarak.


Berbagai makanan enak telah terhidang di atas meja, meski mereka hanya bertiga namun terhidang banyak makanan di sana.


"Makan lah nak, kita rayakan pertemuan ini dengan makanan ini."


"Terima kasih Ibu, Ayah.." Yuang Fengying makan dengan lahap.


Mereka bercerita banyak hal, menceritakan apapun yang telah mereka lewati selama ini.


"Apakah kau sudah meningkat kultivasi mu nak?, mengapa ayah tak bisa melihatnya?." Yuang Hauti bertanya karena keheranan tak bisa melihat kultivasi anaknya itu.


Yuang Fengying memang menyembunyikan kekuatan nya, menekan aura nya, karena takut menyakiti orang orang di sekitar nya.


"Ya... kultivasi ku sudah meningkat ayah."


"Apakah di atas ranah Menengah?." Yuang Hauti yang saat ini berada di ranah itu masih penasaran.


"Benar ayah.."


Yuang Hauti tertawa bangga, demikian pula sang ibu Xia Peiyu.


Siapa yang akan menyangka jika anaknya yang semula di rendahkan orang dengan sebutan anak cacat tak berbakat kini bisa melebihi kultivasi sang ayah yang saat ini berada di ranah Menengah puncak.


"Di ranah Awal Tinggi..?."


"Hmm," Yuang Fengying tersenyum mengangguk. "Lebih dari itu.."


"Apa..?, kau sekarang berada di ranah Bumi?." Yuang Hauti makin terkejut dengan pencapaian itu, lalu mendekati Yuang Fengying dan memeluk anaknya.


"Ayah bangga pada mu nak.."


"Ibu juga bangga padamu nak.."


Sepasang suami istri itu tak lepas dari senyuman ketika mereka menghabiskan makanan, penyebab nya tentu saja kembalinya sang anak yang kini sudah hebat.


"Kau juga memiliki hewan tunggangan yang menakjubkan nak, belum tentu kepala desa dan keluarga kaya bisa membeli hewan seperti itu." Xia Peiyu juga tak bisa menyembunyikan ketakjuban nya, melihat Boa Moo yang kini terlihat tidur dengan nyaman di ujung ruangan.


Sengaja Yuang Fengying tak memasukkan binatang tersebut ke ruang penyimpanan nya, membiarkan binatang itu menikmati kebebasannya.


Yuang Fengying tertawa melihat ke-dua orang tua nya terlihat bahagia.


____________


Jangan lupa dukungannya...