Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
50. Makin Kaya


Yuang Fengying tiba di gedung misi yang ada di perguruan Bukit Bayangan, menyerahkan bangkai Raja Elang Bulu Api di tempat tersebut, sengaja anak itu hanya menyerahkan bangkai satu saja binatang Raja di sana, dia ingin membandingkan harga jual di tempat itu dengan toko lain, yaitu toko para kultivator Pundi Emas.


Penjaga gedung misi terbelalak mata nya, dirinya tak menyangka anak seusia Yuang Fengying dengan hanya seorang diri mampu mendapatkan bangkai binatang Raja.


"Apakah ini buruan mu?."


"Seorang diri?."


Yuang Fengying mengangguk tersenyum, "Begitulah senior."


"Tak ada yang membantu mu?."


Yuang Fengying menggeleng, "Mungkin keberuntungan yang membantu saya, senior." jawabnya lugas.


Penjaga gedung misi kembali melihat bangkai Raja Elang Bulu Api, serta beberapa benda kecil yang lain seperti Jamur seribu manfaat, kayu besi, dan lainnya, sambil masih menggeleng tak percaya.


"Berapa semua ini senior?." Yuang Fengying bertanya, karena penjaga gedung misi terlihat hanya memandangi buruan tersebut.


Penjaga gedung misi tergagap, lalu segera menghitung dan menaksir harga semua hasil buruan tersebut.


"Aku hargai semua ini dengan koin penukar 90 koin emas, 85 koin perak dan 70 koin perunggu."


Yuang Fengying terdiam masih berfikir, "Apa tidak bisa di tambah lagi Senior?, mungkin di toko Pundi Emas aku bisa mendapatkan nilai yang lebih." gertaknya menawar, menaikkan nilai jual buruannya pada transaksi tersebut.


Penjaga gedung misi sedikit muram wajah nya, dia yang bertugas di bagian tersebut memang sedikit bersaing dengan toko toko seperti Pundi Emas.


Akan sangat sayang jika barang barang tersebut di jual di tempat lain.


"Aku bisa menambah 30 koin emas, jika kau masih mau menjual semua ini."


"Tak ada tawar menawar lagi." sahut penjaga gedung misi.


Yuang Fengying tersenyum, kini dia tahu standar harga jual beberapa barang buruan, namun jika mengingat transaksi nya terdahulu dia sedikit muram.


"Sialan aku sedikit tertipu di toko Pundi Emas, harusnya inti jiwa ular piton sisik perak lebih dari itu."


"Aku setuju senior." sahut Yuang Fengying kepada penjaga gedung misi.


**


Sepanjang perjalanan ke paviliun kediaman master Xingguang Yuang Fengying tak bisa menahan senyuman nya.


Kali ini dia merasa sangat kaya, pundi pundi koin penukar di cincin penyimpanan nya bertambah.


Selain itu di ruang penyimpanan nya juga masih ada bangkai Rubah Iblis ekor Lima, serta dua inti jiwa binatang berunsur api dan angin.


Juga ada bunga edelweis panjang umur, yang bisa menambah usia pengguna menjadi seratus tahun lagi.


"Mungkin aku tak membutuhkan bunga edelweis panjang umur, usiaku masih belia, jika memang harga nya cocok aku bisa menjual nya, bersama bangkai Rubah Iblis ekor Lima." gumamnya pelan di sepanjang jalan sambil tertawa kecil.


Paviliun kediaman master Xingguang masih beberapa ratus meter lagi ketika ada seseorang yang menghadang langkah Yuang Fengying.


Seorang pemuda umur dua puluhan, berdiri menghadang Yuang Fengying.


Pemuda tersebut adalah Nuang, lengkap Nuang Ning, salah satu murid senior dari tetua Sue.


Kultivasi nya saat ini di ranah Menengah 5 akhir, kekuatan nya hampir mendekati guru guru di perguruan Tameng Jiwa, tentu saja kekuatan itu menakutkan.


"Kamu yang bernama Yuang Fengying?." dengan sedikit kasar pemuda itu bertanya.


Yuang Fengying sedikit terkejut, setenar itukah dirinya?, bahkan orang yang tak dikenal nya bisa tahu namanya.


"Benar senior, namaku Yuang Fengying, ada perlu apakah senior menemui ku?."


"Maksud senior apa?, aku tak pernah melakukan seperti yang senior tuduhkan," Yuang Fengying membela diri.


"Hmm, dasar berandalan tengik, tentu saja kau akan mengelak dari tuduhan tersebut, namun aku tetap akan menghajar mu." Nuang Ning, tersenyum miring, menggosok hidung nya dengan gaya arogan.


"Ooh, senior ingin menghajar ku, dengan alasan aku mencoreng nama baik keluarga An?." Yuang Fengying kini sedikit kesal dengan pemuda di depannya, meski jika keduanya bentrok belum tentu Yuang Fengying mampu menghadapi nya. Tingkatan kedua nya berbeda sangat jauh.


"Apapun alasannya aku tetap akan menghajar mu, bocah." seru Nuang Ning.


Nuang Ning sudah memancarkan aura kekuatan kehadiran dan keberadaan, udara sekitar langsung bergolak, bergetar oleh kekuatan yang di pancarkan pemuda dua puluhan tersebut.


"Cepat berlutut, tampar wajah mu tiga puluh kali, lalu patahkan kakimu, baru aku akan mengampuni mu." Nuang Ning berkata sambil tersenyum senang, melihat mangsa nya sedikit tertekan.


"Senior mengancam ku?, apa senior tak takut dengan master Xingguang?, dia adalah tuan guruku." Yuang Fengying terpaksa menakut nakuti Nuang Ning dengan kekuatan sang master, karena jika di paksa bertarung dengan nya saat ini dia tentu masih kalah.


"Apa !!, kau murid master Xing?." Nuang Ning sedikit gemetaran, tak menyangka anak yang di ancam adalah murid pribadi seorang master.


Kedudukan master lebih tinggi dari tetua, jadi master Xingguang masih lebih di takuti jika di banding dengan tetua Sue.


"Benar, yunior ini murid master Xingguang, jika memang senior tak takut mati, ayo kita bertarung." tantang Yuang Fengying dengan sedikit mengancam dan membawa nama master nya.


Nuang Ning terdiam sesaat, wajahnya kini sudah terlihat jelek, nampak nya mangsa nya kali ini benar benar tak bisa di sentuhnya.


"He..he.. aku tadi hanya bercanda saja."


"Tolong tak usah di ambil hati, yunior." kata Nuang Ning dengan tak tahu malu-nya.


Nuang Ning sudah mau berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut, namun suara Yuang Fengying menghentikan nya.


"Apakah hanya dengan seperti itu senior sudah bisa memastikan aku tak bakal mengadu?." kali ini balas Yuang Fengying yang mengancam Nuang Ning.


Pemuda usia dua puluhan itu mengerutkan keningnya, "Maksud yunior apa?." Nuang Ning berbalik dan menghadap ke arah Yuang Fengying kembali.


Yuang Fengying terkekeh dengan senyum licik. "Mungkin mulut ku bisa diam jika cincin senior di pindah di jari tangan ku." katanya sambil mengangkat tangan dan jari jari nya.


Nuang Ning langsung muram wajahnya, kesal jelas terlihat dari raut wajahnya.


"Kurang ajar, berandalan kecil ini mau memeras ku."


"Bagaimana senior?, aku sudah mengantuk ingin segera pulang, master Xingguang pasti sudah menunggu ku," Yuang Fengying berkata sambil pura pura menguap dengan gaya sangat menyebalkan.


Nuang Ning pingin muntah melihat gaya bocah di depannya, namun ketika sadar dia murid seorang master dan dia sudah menyinggung nya, dia sangat kesal.


"Ambilah aku masih punya banyak di kediaman ku" kata Nuang Ning sambil melempar cincin penyimpanan tersebut dengan wajah geram, namun tak mampu melakukan apapun.


"Terima kasih senior, berkat kemurahan hati senior menyumbangkan satu cincin penyimpanan nya." Yuang Fengying tertawa kecil, menerima barang tersebut dan memakai nya.


Nuang Ning meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang membara, raut wajahnya saat ini terlihat sangat jelek.


"Keparaat..!, berandalan kecil itu sungguh licik." gumamnya sambil melangkah pergi.


"Tunggu saja pembalasan ku."


Yuang Fengying tak terlalu memperdulikan ucapan Nuang Ning yang juga mampu di tangkap Indra pendengaran nya.


Segera anak itu bergegas menuju kediaman sang master, dirinya tak ingin ada gangguan lain mengintai nya.


_____________


Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya..