Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
176. Tombak Lidah Api Biru.


Yuang Fengying memasuki lorong cahaya yang di ciptakan oleh gelang Giok Cahaya.


Tubuhnya lalu seperti terhisap dan di lemparkan ke sebuah wilayah tertentu.


Saat ini remaja tersebut tengah berada di sebuah wilayah.


Entah itu wilayah apa, remaja itu tak mengetahui nya.


Nampak nya gelang giok cahaya memiliki kesadaran nya sendiri, memindahkan Yuang Fengying ke tempat acak yang tak di kenali nya, ternyata hingga saat ini Yuang Fengying masih belum bisa mengendalikan artefak tersebut sesuai dengan keinginannya.


"Di mana ini?, apakah aku kembali ke pecahan alam kuno?."


Yuang Fengying melihat sekeliling nya, namun wilayah tersebut berbeda dengan pecahan alam dimensi kuno.


"Bukan, ini bukan alam itu," Yuang Fengying masih bergumam pelan, merasai wilayah yang di rasanya sangat aneh.


"apakah aku harus kembali mengaktifkan gelang giok cahaya?."


"Tidak, tidak ..jika aku mengaktifkan giok cahaya maka aku akan kembali ke tempat tadi berasal."


"Saat ini di sana masih ada orang orang itu, tidak menguntungkan sama sekali bagiku jika bertemu mereka."


Yuang Fengying lalu melangkah meninggalkan tempat dimana dia tadi muncul.


Alam saat ini Yuang Fengying berada adalah sebuah wilayah di istana tanah dalam.


Takdir memang aneh, seakan selalu membawa anak tersebut ke wilayah wilayah yang berbahaya untuk menguji nya.


"Alam yang aneh," Yuang Fengying menatap sekeliling nya, meski tak ada matahari yang menyinari langsung tempat itu, namun alam itu juga tak gelap, bahkan di beberapa bagian terlihat alam bersinar lebih terang.


Nampak nya semua cahaya cahaya itu tersebut berasal dari benda benda di sekitar nya, seperti nya semua benda yang ada di tempat itu mampu untuk mengeluarkan cahaya.


Yuang Fengying terus melangkah, tak tahu kemana arah yang di tuju nya, hanya mengikuti ke mana saja kaki nya melangkah.


Saat ini Yuang Fengying mulai memasuki sebuah hutan, meski pepohonan tak seperti hutan di wilayah yang di sinari matahari, namun pohon pohon di sana juga menjulang sangat tinggi dan rapat.


Masih dengan penasaran Yuang Fengying terus melangkah, niatnya ingin menemukan sebuah kehidupan disana, untuk mengetahui tempat macam apa saat ini dirinya berada.


Belum jauh kaki Yuang Fengying melangkah, dari kejauhan remaja itu menangkap adanya sebuah pergerakan.


Mata remaja itu memicing, mencoba menangkap dengan kekuatan visualisasi, apa yang ada didepan nya.


Dari jarak beberapa kilometer Yuang Fengying mampu menatap pergerakan beberapa sosok bayangan.


Nampak nya itu adalah sekelompok manusia dalam jumlah ratusan orang yang terlihat seperti akan berpindah tempat.


**


Sekelompok orang dengan di pimpin seorang tetua tengah melakukan perjalanan.


Perjalanan itu di lakukan dengan terpaksa karena wilayah tempat tinggal nya sudah di rebut dan di kuasai oleh yang lain.


Rombongan itu adalah ras manusia kerdil dari suku Kulit Biru , dimana ciri khasnya adalah kulitnya sedikit kebiru biruan.


Meski mereka suku kerdil namun tinggi badan manusia dewasa nya masih lebih tinggi dari Yuang Fengying yang masih berusia 13 tahunan.


"Berhenti..!." tetua kelompok tersebut, mengangkat tangan nya untuk menghentikan pergerakan kelompok nya.


Saat ini di tengah jalur yang akan di lewati rombongan manusia kerdil suku Kulit Biru, telah menghadang beberapa manusia kerdil dari suku yang lain.


Selain manusia kerdil dari suku lain, ada juga ras iblis yang turut menghadang rombongan tersebut.


"Mengapa kalian menghadang kami? apakah wilayah Danau Biru saja tidak cukup bagi kalian..?." tetua manusia kerdil suku Kulit Biru dengan kesal bertanya kepada para penghadang nya.


"Kami tidak bodoh Ming Tse..!, suku Kulit Biru harus menyerahkan semua harta benda yang kalian miliki." kata salah satu sosok kerdil yang menghadang, sosok kerdil itu memiliki kulit kehijauan, dan terlihat mencibir rombongan yang terusir.


"Kalian benar benar serakah...!, bahkan suku kami sudah mengalah, bersedia meninggalkan tempat wilayah kami tinggal selama ratusan tahun, hanya agar tidak terjadi pertumpahan darah dengan suku kalian, namun masih saja mau kalian rampok lagi.?" Ketua Suku Kulit Biru dan beberapa orang dari suku Kulit Biru mulai terlihat marah.


"Apalagi kini kalian mendapatkan dukungan dari ras Iblis, makin serakah saja kalian."


Manusia kerdil suku Kulit Biru sesungguhnya adalah kelompok yang suka dengan perdamaian, bahkan saat di usir dari tempat tinggal nya mereka dengan rela pergi, namun memang suku kulit hijau sungguh keterlaluan.


"Aku masih mengalah, karena menghormati leluhur kita, tapi jangan keterlaluan kalian, menyerahkan harta benda sama saja membunuh anak anak suku Kulit Biru." Ming Tse sang tetua kini benar benar marah.


Sesungguhnya leluhur kedua suku manusia kerdil itu masih bersaudara, namun seiring berjalannya waktu mereka mulai renggang dan saling menjauh.


Bahkan kini setelah pergantian kepemimpinan dari suku suku tersebut, ada beberapa orang kerdil yang ingin menguasai harta benda milik suku lainnya.


"Cuih..dasar keras kepala..!," tiba tiba sosok Iblis yang ada di tengah tengah suku kerdil kulit Hijau mendengus dan mengumpat dengan marah. "Jika kalian tak menyerahkan barang yang kami maksud maka jangan salahkan kami bertindak kejam."


Rupanya perseteruan para manusia kerdil itu di kompori oleh ras iblis.


Ras iblis memang mengincar salah satu harta warisan manusia kerdil dari suku Kulit Biru, yakni sebuah senjata artefak berujud tombak dengan mata tombak berwarna biru.


Meski berwarna biru namun sesungguhnya itu sangat panas, dan para manusia kerdil menyebutnya tombak Lidah Api Biru.


__________


Mohon maaf hanya bisa up sedikit, tetap dukung ya...